SURABAYA – Perkembangan fashion semakin agresif, termasuk untuk wastra nusantara. Dimana saat ini item fashion lokal dengan bahan alami dan ramah lingkungan sedang digandrungi pecinta fashion. Seperti batik Ulur Wiji yang menggunakan pewarna alami ini.
Co Founder Batik Ulur Wiji, Nasta Rofika menjelaskan, batik Ulur Wiji sendiri hadir dengan berbagai ragam motif. Hanya saja, motif-motif yang terukir di kain tidak terlalu rekat. Sehingga motif batik disesuaikan agar tidak hanya dipakai pada acara formal, akan tetapi juga bisa dipakai sehari-hari. "Adanya jarak motif itulah yang membuat batik tidak terlihat formal," ujarnya.
Menariknya, batik Ulur Wiji hadir dengan teknik yang cukup tradisional. Batik di produksi menggunakan pewarnaan alami. Sejumlah bahan dasar warna, bahkan hasil riset dari Nasta Rofika sendiri. "Kami menggunakan pewarnaan alami, karena kami konsen ke lingkungan," ujar alumnus ITS tersebut.
Karena menggunakan pewarna alami, maka warna-warna batik ini lebih pada earth tone yang warm, seperti warna putih, hijau, biru tua, biru muda, hingga cokelat. “Karena pewarna alami variasi warnanya tak sebanyak pewarna kimia. Tapi ini juga menjadi sesuatu yang khas dalam batik ini,” imbuhnya.
Motif yang tak terlalu rekat, simple, dan warna khasnya ini menjadi cirri khas tersendiri dari batik ini. “Untuk koleksi kali ini kami hadirkan dalam bentuk dress, rok, atasan hingga outer. Tampilan yang kami hadirkan adalah kasual dan elegan,” terangnya.
Fashion Show batik Ulur Wiji ini memeriahkan gelaran pameran Fotografi Analog Unit Kegiatan Mahasiswa Communication Photography Club (Ciphoc) salah satu kampus swasta di Surabaya Timur. Balutan batik berbahan pewarna alami membuat para model terlihat anggun dan mempesona saat berlenggak-lenggok.
Ketua Pelaksana Acara, Adrianus Masang Maran mengatakan, fashion show tersebut selaras dengan konsep pameran analaog yang diusung oleh para pegiat fotografi kampus tersebut. Yakni mempertahankan tradisi dan warisan leluhur. Fotografi analog sendiri merupakan teknik pemotretan dengan menggunakan kamera analog dengan media roll film sebagai alat rekam.
Sedangkan batik seperti Ulur Wiji menjadi salah satu karya seni yang turun menurun dilestarikan oleh para pelaku UMKM. Dalam produksinya, Ulur Wiji menggunakan bahan dari pewarna alami sebagai bentuk upaya menjaga lingkungan. Bahkan para perajin memakai teknik manual. “Inilah yang menjadi daya tarik kami tentang warisan budaya yang diperkenalkan dengan model yang mengikuti perkembangan zaman sekarang," tuturnya. (sur/nur)
Editor : Jay Wijayanto