RADAR SURABAYA - Masjid Syeikh Maulana Malik Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Masjid Pesucinan, diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Pulau Jawa. Masjid tersebut terletak di Dusun Pesucinan, Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Sebuah masjid tua yang menyimpan memori panjang perjalanan Islam di Nusantara. Keberadaannya menjadi tonggak penting dakwah Wali Songo sekaligus bukti awal Islamisasi di wilayah pesisir utara Jawa.
Berjarak sekitar sembilan kilometer dari pusat Kota Gresik, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah saksi bisu kedatangan Syeikh Maulana Malik Ibrahim dari Persia pada abad ke-14, di tengah dominasi pengaruh Kerajaan Majapahit.
Nama “Pesucinan” yang melekat pada masjid ini memiliki makna historis mendalam. Menurut tradisi lisan warga setempat, istilah tersebut merujuk pada proses “mensucikan” masyarakat Leran yang kala itu mayoritas menganut Hindu dan Buddha sebelum beralih memeluk Islam melalui dakwah damai Sang Wali.
Keaslian arsitektur masjid tetap terjaga hingga kini. Di dalamnya, pengunjung masih dapat melihat peninggalan autentik seperti mimbar kuno, kubah, serta kolam atau sumur berukuran 3x3 meter.
Bahkan terdapat sebuah batu bersejarah yang diyakini masyarakat sebagai tempat bersandarnya kapal pada masa lampau.
Nuansa historis semakin kuat dengan adanya cungkup dan makam para santri di sisi kanan masjid, mempertegas peran Masjid Pesucinan sebagai pusat pendidikan Islam pertama di kawasan tersebut.
Ketua Takmir Masjid Pesucinan, Muhammad Mushollin, menuturkan bahwa nilai sejarah kawasan Leran telah diakui secara luas, bahkan dalam literatur arkeologi internasional.
“Dalam beberapa literatur disebutkan Islam sudah masuk ke Gresik sejak abad ke-11. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti pada nisan makam Siti Fatimah binti Maimun tahun 1082 Masehi di Dusun Pesucinan. Prasasti Leran ini disebut sebagai salah satu bukti tertua keberadaan Islam di Asia Tenggara,” jelas Mushollin, Kamis (26/2).
Bagi warga setempat, menjaga Masjid Pesucinan adalah menjaga amanah sejarah. Kholili, salah satu warga Dusun Pesucinan, mengungkapkan bahwa masjid ini memiliki tarikan spiritual yang kuat bagi masyarakat Leran.
“Masjid ini memiliki unsur religius yang sangat tinggi karena dibangun langsung oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim. Kami merawatnya sebagai warisan sejarah sekaligus tempat ibadah utama kami,” tuturnya.
Atmosfer religius semakin kental terutama di bulan Ramadan. Warga tetap memfungsikan masjid tua ini secara aktif untuk salat lima waktu dan salat tarawih.
Dengan demikian, warisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim tetap hidup, menyinari hati umat Islam ratusan tahun setelah kepergiannya.
Masjid Pesucinan bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan simbol awal masuknya Islam ke Nusantara.
Keberadaannya menjadi pengingat bahwa dakwah damai Wali Songo mampu mengubah wajah masyarakat pesisir Jawa.
Hingga kini, masjid ini tetap berdiri kokoh sebagai pusat ibadah dan warisan spiritual yang dijaga dengan penuh cinta oleh masyarakat Leran. (yud)
Editor : Nurista Purnamasari