BAWEAN - Sejak pandemi Covid-19 melanda, masyarakat pesisir yang mata pencahariannya melaut mengalami penurunan pendapatan. Harga ikan tangkapannya terjun bebas. Seperti yang dialami nelayan di Bawean. Mereka merasakan harga ikan tak sebanding dengan biaya logistik melaut.
Ali (50) salah satu nelayan menceritakan, sejak ada isu corona, harga ikan tangkapnya berangsur-angsur turum "Dampaknya terasa betul, bukan hanya rugi. Tiap hari pasti harganya turun," ceritanya.
Sementara harga ikan tangkap terus turun, biaya operasional melaut seperti BBM, jaring dan alat tangkap cenderung naik. Contohnya ikan tongkol, waktu keadaan normal harganya Rp 25 ribu per kilogram, sekarang hanya Rp 10 ribu.
Sementara itu, Kasi Nelayan Dinas Perikanan Gresik Zainal Abidin menjelaskan, kondisi saat ini harga ikan murah karena pemasok yang tidak lagi menerima order.
"Awalnya turun terus setiap hari, permintaan mulai turun, seperti kerapu, lobster yang biasanya dibeli rumah makan atau restoran, sekarang banyak yang tutup. Biasanya lobster besar di Bawean Rp 600 ribu per kilogram, kini Rp 200 ribu,"ungkapnya.
Dipaparkan, penurunan harga ikan ikan ini secara nasional. Di Gresik udang putih dari Rp 100 ribu menjadi Rp 40 ribu. Kemudian, udang budidaya Rp 80 ribu menjadi Rp 50 ribu.
“Belum ada solusi. Saat ini, kami mendata nelayan yang terdampak Covid-19 dari kementerian kelautan supaya mendapat bantuan dari pemerintah. Apalagi sekarang ini menjelang Ramadan dan di Bawean laut bebas lebih berisiko,” pungkasnya. (qom/han)
Editor : Administrator