GRESIK - Ratusan warga memblokade Jalan RE Martadinata Kecamatan Gresik dari Jumat (4/10) hingga kemarin. Akibatnya, 50 truk pengangkut batu bara tak bisa beroperasi. Warga menilai aktivitas pabrik PT. Gresik Jasa Tama (GTJ) tersebut menyebabkan pencemaran udara dan debu.
Warga yang melihat truk muatan batu bara secara spontan langsung keluar rumah, kemudian bergerombol di tengah jalan. Warga mulai anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak langsung menghentikan aktivitas tersebut di tengah jalan.
Kanit Reskrim Polsek Gresik kota, Ipda Yoyok Mardi mengatatakan, sejak pukul 12.00 WIB hingga (23/10), Jumat ( 4/10) memblokade jalan RE Martadinata, tempat lokasi keluar batu bara keluar.
“Warga tidak senang dengan aktifitas batu bara yang menyebabkan pencemaran udara, “kata Yoyok. Warga bersikeras untuk menutup jalan yang dilewati oleh truk batu bara.
Puncaknya, pukul 19.00 WIB, Jumat (4/1) warga melempar batu ke truk hingga pecah. 50 truk hingga kini masih tertahan di kawasan PT. Gresik Jasa Tama (GTJ). “Kami masih belum tahu kapan bisa mempertemukan pejabat GTJ dengan warga, “ kata dia.
Salah satu toko Kelurahan Kroman Abdul Malik mengatakan, warga sudah berusaha melakukan mediasi dengan pabrik, namun hingga kini belum ada solusi. “Kami meminta pabrik direlokasi. Polusi udaranya membuat lingkungan tidak sehat,” kata Malik.
Dipaparkannya, sebenarnya pada 2016, warga dengan PT GJT sudah sepakat. PT GJT bersedia relokasi jika kawasan pelabuhan Internasional Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) di Manyar sudah beroperasi.
“Sekarang JIIPE sudah beroperasi, namun tidak mau relokasi. Ibaratnya PT GJT diberi hati minta rempelo, “ tukasnya. (jar/han)
Editor : Administrator