Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Berdiskusi hingga Ajak ABK Buat Kerajinan Tangan

Administrator • Kamis, 8 November 2018 | 23:47 WIB
Berdiskusi hingga Ajak ABK Buat Kerajinan Tangan
Berdiskusi hingga Ajak ABK Buat Kerajinan Tangan



Pendidikan inklusi di Kabupaten Gresik terus berkembang. Tidak hanya penguatan dari UPT Resource Centre Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik, namun juga aplikasi pendidikan inklusi di sekolah. Guru maupun siswa mulai memahami dan menerapkan kepada pendidikan inklusi.


Hany Akasah-Wartawan Radar Gresik


Aplikasi pendidikan inklusi terlihat sat 18 siswa kelas passion psikologi SMA Muhammadiyah 1 Gresik berkunjung dan menjadi tutor sebaya bersama anak berkebutuhan khusus (ABK) tunarungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) AB Kumala Bhayangkari 2 Gresik.


Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Farida Hanum mengatakan tutor sebaya adalah pengaplikasian materi pelajaran yang telah didapatkan saat belajar. “Saya ingin anak-anak bisa mempraktikan materi tentang ABK yang selama belajar di kelas,” kata Farida.


Kepala SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik Siti Fatimah mengatakan anak-anak SLB ini juga seperti anak-anak yang lain. Mereka bisa sekolah dan kuliah di tempat umum, serta bisa berprestasi.


“Alhamdulillaah, walaupun anak-anak kami ada kekurangan, sebenarnya mereka itu sama dengan kita semua. Mereka juga punya kelebihan. Jadi mereka tidak perlu dikasihani, mereka hanya butuh diakui,” tegasnya.


Dalam kegiatan itu, siswa-siswi kelas passion psikologi mengeluarkan barang-barang  yang sudah mereka siapkan dari rumah, seperti koran bekas, gelas plastik, kaleng, toples, sedotan, kain flannel, gunting, dan lem.


Mereka mengajak siswa-siswi SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik untuk membuat kerajinan tangan dari barang-barang tersebut, seperti celengan hias, topi, tempat kue, dan tempat minum.


Mereka sangat menikmati kegiatan tersebut. Semuanya berjalan lancar, meskipun ada kendala komunikasi. Kadang mereka menggunakan bahasa isyarat, kadang dengan menulis di kertas.


“Awalnya saya sangat kesulitan untuk menjelaskan kepada mereka tentang kegiatan ini. Tapi setelah saya coba dengan berbagai cara, seperti bahasa isyarat dan lewat tulisan, akhirnya semuanya berjalan lancar,” ungkap Aulia Rahma Putri Sabrina Gisbi, siswa kelas XI MIPA. “Mereka bisa mengerjakannya dengan cepat dan lebih bagus lho.”


Siswi kelas XII SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik mengaku senang bertemu dengan rekan sebayanya. “Sekarang saya menjadi lebih PD (percaya diri) dan suatu saat saya juga ingin bermain di SMA Muhammadiyah 1 Gresik bersama teman-teman,” jelas dia. (*)

Editor : Administrator
#gresik