Legenda dari tanah Bawean lainnya, asal muasal dilarangnya orang Patar Selamat menginjakkan kaki di wilayah Jujuk Tampo. Pantangan ini berlaku hingga sekarang
Abdul Basith/Wartawan Radar Bawean
Seperti yang telah dipaparkan Zulfa Usman dalam Buku Pulau Putri. Telah terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan terbunuhnya Jujuk Tampo. Jenasah Jujuk Tampo dimakamkan di Tampo, desa Pudakit Barat. Kini menjadi kuburan tua yang Dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Mereka diyakini Jujuk Tampo seorang wali. Jika bicara tentang validitas datanya, sepertinya tidak ada bukti tertulis yang menguatkan baik dari data sejarah maupun silsilah keluarganya. Cerita ini hanya diwariskan dari mulut kemulut. Jujuk Tampo adalah seorang muballigh Islam.
Menurut juru kunci makam Jujuk Tampo, Mustakim, dilihat dari batu nisannya, kemungkinan besar, usia jujuk tampo ini lebih tua dibandingkan Maulana Umar Mas’ud yang makamnya ada di Sangkapura. Makam Jujuk tampo dan istrinya, letaknya lebih tinggi sekitar 2 meter dari tanah, luas halamannya kurang lebih 30 m persegi. Nama lain dari Jujuk Tampo adalah Syekh Maulana Makdum Ibrahim, nama ini sama dengan nama kecil Sunan Bonang. Beliau dikenal baik dan berkepribadian shaleh serta mempunyai banyak keistimewaan. Beliau memiliki perilaku aneh menurut orang kebanyakan ,yaitu sering kali memungut rezeki dari orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang miskin. Ia biasa mendatangi orang-orang kaya di desanya ataupun di tempat lain. Kecintaanya kepada orang papa sungguh luar biasa.
Suatu hari Jujuk Tampo bertemu dengan seorang pemuda dari desa Patar Selamat. Pemuda itu kelelahan dan kebingungan setelah kehilangan seekor sapi. Jujuk menyarankan agar si pemuda tadi pulang saja karena sapinya tidak bisa ditemukan. Ia pulang dengan tangan hampa. Setiba dirumah, si pemuda tadi menceritakan tentang pengalamannya yakni bertemu dengan Jujuk Tampo yang menganjurkan untuk pulang saja.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba si pemuda meninggal dunia. Sang ayah menyangka anaknya di sihir Jujuk Tampo. Keesokan harinya dia pergi menemui Jujuk Tampo menuntut balas kematian anaknya. Setelah bertemu segera sang ayah tadi menghardik Jujuk Tampo dengan menuduhnya sebagai tukang sihir. Jujuk Tampo menjelaskan bahwa ia tidak menyihir si pemuda. Untuk mengakhiri kesalahpahaman ini Jujuk Tampo menawarkan solusi yakni ia bersedia dibunuh. Jika nanti darah yang keluar berwarna merah maka berarti Jujuk Tampo memang bersalah. Tapi sebaliknya jika darah yang keluar nanti berwarna putih maka berarti Jujuk Tampo tidak bersalah dan orang Patar Selamat tidak boleh menginjakkan kakinya di Tampo untuk selamanya.
Segera sang ayah tadi menusuk perut Jujuk Tampo. Ajaib, darah yang semburat keluar berwarna putih. Dengan demikian maka teranglah bahwa Jujuk Tampo tidak bersalah. Ayah tadipun menyesali dirinya yang telah gegabah menuduh Jujuk Tampo yang shaleh sebagai seorang penyihir. Kutukan Jujuk Tampo masih berlaku hingga sekarang. (*/rtn)
Editor : Administrator