Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Disebut Putri Bawean, Warga Tak Tahu Jika Ibu Walisongo

Administrator • Selasa, 30 Januari 2018 | 16:10 WIB
Disebut Putri Bawean, Warga Tak Tahu Jika Ibu Walisongo
Disebut Putri Bawean, Warga Tak Tahu Jika Ibu Walisongo

 


Di sebelah barat Desa Kumalasa, berderetan dengan Labuhan Kumalasa ada sebuah tanjung bernama Tanjung Putri. Di dekat tanjung itu, terdapat sebuah makam kuno. Masyarakat setempat menyebutkanya dengan makam Putri Bawean. Siapakah dia?


 


Abdul Basith


Wartawan Radar Gresik


 


 


Sebutan makam Putri Bawean di  kawasan Tanjung Putri itu  karena memang makam itu konon merupakan makam seorang putri, anak raja. Bahkan, makam tua yang terbuka dengan pintu kayu itu adalah makam Dewi Condrowulan, putri dari Raja Campa (Kamboja).


 


 


 KH Dhiyauddin Quswandhi mengatakan makam yang ada di Kumalasa tersebut adalah semula sang putri setia mendampingi suaminya, Syaikh Ibrahim Asmarakandi yang berdakwah islam di Pesisir Utara Jawa yakni di Palang Tuban. “Dewi Condrowulan membesarkan anak-anaknya diantaranya Raden Rahmat atau Sayid Ali Rahmatullah yang kelak bergelar Sunan Ampel (Surabaya),” jelas Dhiyauddin.


 


 


Suatu ketika muncul keinginan ini untuk menjenguk sang ayah yaitu Raja Campa. Berangkatlah mereka menuju Campa dengan menggunakan kapal laut. Saat singgah di Pulau Bawean, sanga putri sakit parah dan akhirnya meninggal.


 


“Lalu disemayamkan di desa Kumalasa. Kenapa rombongan ini singgah di Kumalasa? Karena pelabuhan yang ramai saat itu berada di Kumalasa (Labuhan). Desa Kumalasa konon dari bahasa Arab “Kamalaisa” yang artinya tidak ada yang menyamainya,” papar dia.


 


Bagi warga Bawean, Condrowulan memang asing. Sebab, selama itu tidak banyak yang mengetahui bahwa di Kumalasa ada makam Putri Condrowulan. Orang Bawean lebih mengenal dengan sebutan Putri Bawean. “Kebanyakan manusia kurang peduli dengan sejarah sehingga mereka tidak mengetahui perjuangan dan jasa orang-orang terdahulu,” jelasnya.


 


Menurut dia, Putri Condrowulan adalah sosok wanita yang mulia dan shalehah. Beliau merupakan ibunda dari seorang wali tertua diantara Wali Songo yakni Sunan Ampel. Dari Sunan Ampel inilah kemudian muncul para wali yang tersebar di Jawa. Diantaranya, Raden Qasim yang terkenal dengan sebutan Sunan Drajad serta  Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang.


 


Kedua wali itu kemudian mendidik para santrinya dan disebarkan di beberapa daerah baik Jawa maupun luar Jawa. Para murid Wali Songo inilah yang kemudian menjadi pendakwah Islam di daerahnya masing-masing.


 



Sampai sekarang, perjuangan Wali Songo dan para muridnya dirasakan manfaatnya umat Islam di Indonesia. Berkat perjuangan Wali Songo dan para muridnya islam menyebar ke seluruh pelosok negeri dan menjadi agama mayoritas. Sebagai penghormatan atas jasa Wali Songo maka umat islam di Indonesia membudayakan ziarah Wali Songo. Bahkan hari ini ziarah Wali Songo sudah menjadi paket wisata tersendiri. (*/han)

Editor : Administrator