Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bukan Mahasiswa Mahkarol (rumah, kampus dan ngobrol), Pernah Ngajar di

Administrator • Jumat, 26 Januari 2018 | 17:56 WIB
Bukan Mahasiswa Mahkarol (rumah, kampus dan ngobrol), Pernah Ngajar di
Bukan Mahasiswa Mahkarol (rumah, kampus dan ngobrol), Pernah Ngajar di

Salah satu intelektual Australia, Ahmad Fuad bin Usman bin Umar Farouq atau A. Fuad Usfa. Ternyata dia masih memiliki darah orang Bawean.


 


Abdul Basith/Wartawan Radar Bawean.


 


Sebagai intelektual, fuad dikenal banyak orang, khususnya para ilmuwan, termasuk mahasiswa. Ini karena kemampuan yang istimewa. Dia pernah menjadi dosen di Malang ataupun penulis buku yang hasilnya terjual laris manis.


Fuad menghabiskan masa kecil di Pulau Bawean.  Lebih dari setengah abad yang lalu dia dilahirkan di sebuah pulau di Laut Jawa, yaitu Pulau Bawean, sekarang Kabupaten Gresik. Saat dia lahir, Pulau Bawean masih menjadi bagian dari Kabupaten Surabaya. Dia sekolah di SD pada pagi siang hari dan bermadrasah pada siang-sore hari. “selepas maghrib dan selepas subuh mesti mengaji. TK alias Taman Kanak-kanak belum ada waktu itu,” katanya.


Salah satu hal yang paling berkesan selama di Bawean saat belajar silat bersama kawan seperguruanku. Mulanya di perguruannya R. Amir yang biasa dipanggil Mak Amir (Sawah Luar). setelah dinyatakan tamat dan dimandikan dengan air ‘bunga setaman’ yang didalamnya ada silet, kain putih serta disembelihkan ayam putih sebagaimana lazimnya dunia perguruan silat di Bawean. Setelah itu dia pindah ke perguruannya pak Fadli (Sawah Daya), juga hingga dimandikan, dan di perguruan ini pula dia belajar Tembung dan Tik-pi (Trisula). Selanjutnya dia pindah ke perguruannya mak Ude Hasyim (Daya Bata), beliau adalah putra daripada KH. Kasim, Tokoh Kemerdekaan yang namanya diabadikan sebagai salah-satu nama Jalan Raya di Sangkapura.


 


Selepas SMA, Fuad melanjutkan ke perguruan tinggi. Dia mengambil bidang studi ilmu hukum. Untuk tingkat Sarjana Muda (waktu itu paling cepat 3 tahun/6 semester) lalu aku melanjutkan pada tingkat Sarjana (waktu itu paling cepat 2 tahun/4 semester). Jadi untuk tingkat Sarjana Muda dan Sarjana paling cepat 5 tahun (waktu itu tak banyak yang mampu menyelesaikan tepat waktu, sistem lama berbeda dengan di masa kini), sedang untuk tingkat Magister aku mengambil bidang Sosiologi. “Saya bukan tipe mahasiswa Mahkarol (rumah, kampus dan ngobrol), melainkan aku juga ikut ambil bagian di kegiatan kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra,” katanya. (*/rtn)


 


 


Editor : Administrator