Sangkapura – Populasi ayam hutan semakin berkurang. Pemburu ayam hutan mengakui saat ini sulit menemukannya. “Hampir hampir disemua tempat di bumi Pulau Bawean sulit ditemukannya,” kata salah satu pemburu ayam hutan, Hijaz, 55, kemarin.
Pria asal Duwak Dekatagung mengaku mencari ayam hutan hanya sekedar hobby saja, bukan pekerjaan tetap sehari-hari. Namun saat ini
sudah jarang ditemukan di hutan Pulau Bawean, keberadaannya hampir punah. “Bila ayam hutan yang dipelihara sudah tidak ada, maka kembali mencari kehutan di Pulau Bawean,” katanya.
Menurutnya memburu ayam alas tidak segampang yang dibayangkan seperti menangkap ayam kampung. Menangkapnya menggunakan tape recorder yang dibunyikan rekaman suara ayam hutan. Ini untuk memancing ayam hutan mendekat. Selain itu juga menggunakan perangkap. Jika memang ada ayam alas, hanya butuh waktu satu sampai dua jam untuk menangkapnya. "Sudah banyak tempat yang dicari sangat sulit menemukannya," katanya.
Harga ayam hutan berkisar jutaan rupiah. Inilah salah satu memicu masifnya perburuan. Jika dibanding tempo dahulu, ayam hutan seolah tidak berharga. “Ayam alas Pulau Bawean termasuk jenis ayam hutan hijau atau congger," ujarnya.
Hijaz sendiri menyatakan sudah lama berhenti mencari ayam alas di hutan. Tuajuannya agar keberadaan ayam alas di Pulau Bawean semakin banyak. Anehnya sampai sekarang masih saja jarang ditemukan. Kemungkinan lain ada faktor alam Pulau Bawean yang tidak bersahabat membuat ayam alas hampir punah. “Bisa juga sarangnya dirusak oleh babi hutan sehingga telurnya tidak berkembang biak," jelasnya. (*/rtn)
Editor : Administrator