Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kelo Rajungan dan Udang, Rasanya Nendang

Administrator • Jumat, 8 Desember 2017 | 17:17 WIB
Kelo Rajungan dan Udang, Rasanya Nendang
Kelo Rajungan dan Udang, Rasanya Nendang

Mengunjungi pesisir Pangkah Wetan, Kecamatan Ujung Pangkah, yang terbayang adalah hiruk pikuk nelayan yang menurunkan hasil tangkapan. Di luar itu, mengunjungi sajian kuliner khas nelayan tidak kalah menariknya.


KULINER yang disajikan para nelayan Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, sudah dikenal di wilayah Gresik Utara. Sebab, wilayah yang berjarak 40 Km sebalah Utara Kota Gresik itu memang dikenal sebagai sentra ikan.


Di sekitar tempat pelelangan ikan (TPI), ada satu warung yang selalu ramai dikunjungi. Karena warung, jangan harap ada ruangan berpendingan AC, atau meja dengan konsep table manner. Yang ada adalah jajaran meja panjang dengan kursi dingklik (memanjang) yang bisa diduduki 6 orang sekaligus.


Untuk bisa menikmati sajian seafood di warung TPI ini, cukup mampir di warung Bu Sunah. Pengunjung yang datang ke tempat tersebut tidak perlu membutuhkan waktu yang lama. Pasalnya, saat memesan makanan hasil laut hanya menunggu kurang dari 30 menit. Sebab, kepiting dan lobster sebelum direbus terlebih dulu dibersihkan seluruh badannya sebanyak tiga kali dengan air tawar. 


Selanjutnya, usai dibersihkan kepiting serta lobster yang dipesan oleh pembeli langsung dimasukkan ke dalam tungku yang besar lalu direbus. Usai direbus, kepiting maupun lobster bisa langsung disantap tanpa bumbu tambahan. Namun, bila pengunjung menginginkan ada bumbu tambahan. Penjualnya siap melayani tanpa biaya tambahan. 


Di warung ini, tidak ada daftar menu menu. Sebab, konsep yang diusung adalah buffe atau prasmanan. Kendati prasmanan, namun tetap ada aturannya. Yakni, pengunjung maksimal mengambil 2 ikan yang dimasak kelo atau bumbu kuning. Jika tidak ingin ikan laut, bisa mencicipi rajungan dan lobster. "Pokoknya tiap pengunjung maksimal 2 ekor, bisa ikan semua, bisa campur ikan dan rajungan atau kepiting dan lobster," kata Bu Sunah, pemilik warung makan.


Begitu lauk ikan sudah tersaji, maka nasi putih bisa dinikmati sepuasnya. Agar lebih klop, maka sambal petis pedas bisa menjadi teman bersantap kelo seafood khas Ujung Pangkah.  "Rasa masakannya gurih, manis dan segar meski menggunakan bumbu sederhanan," kata Indriani salah satu pengunjung Asal lamongan.


Puas menikmati makanan, pengunjung bisa berjalan-jalan di sekitar TPI dan warung. Sebab, di sepanjang jalan tersedia aneka ikan dan hasil tangkapan nelayan yang dijual murah. Untuk sekilo rajungan atau lobster, cukup membayar Rp 65 ribu.


Menurut Fahlul salah satu penjual hasil laut asal Desa Pangkah Wetan, kepiting dan lobster di desanya desanya tidak hanya disajikan ke pembeli saja. Namun, sudah diekspor ke Taiwan dan Hongkong dalam bentuk kemasan yang fresh.  "Sebelum dikirim ke Taiwan dan Hongkong, pabrikan hasil olahan laut asal Paciran Lamongan mengambilnya dari kami," ujarnya.


Dalam sehari masih kata Fahlul, ada kurang lebih 1 ton baik itu olahan kepiting maupun lobster yang diekspor ke dua negara tersebut. Selain diekspor, dua komiditi laut tersebut juga dikirim ke beberapa daerah lain seperti Surabaya, Bali, dan NTB.  "Paling banyak diekspor sisanya dikirim ke berbagai daerah," tuturnya.



Kepala Desa (Kades) Pangkah Wetan,  Syaifullah Mahdi mengatakan, warung hanya menyediakan ikan segar hasil tangkapan nelayan menjadi hidangan khas kampung nelayan pesisir Pangkah Wetan. Hasil tangkapan Nelayan langsung diolah tanpa bumbu dan bahan kimia pengawet sehingga sensasi rasanya cukup menggoda selera. (yud/ris)

Editor : Administrator