Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pegang Teguh Nilai Agama, Merantau Menjadi Tradisi

Administrator • Jumat, 4 Agustus 2017 | 15:41 WIB
Photo
Photo

Pernikahan memiliki makna yang sakral.  Berbeda daerah berbeda pula tatacaranya. Namun satu  tujuan, mengantarkan pasangan menusia menuju bahtera rumah tangga.


 


Abdul Basith/Wartawan Radar Gresik


 


Prosesi pernikahan pernikahan masyarakat Pulau Bawean memiliki ciri khas tersendiri. Nilai-nilai islami sangat kental yang menunjukkan sebagai komunitas muslim. Resepsi pernikahan selalu diawali dengan khataman Al Qur'an oleh mempelai putri. Sedangkan calon suami berada diatas pelaminan. Setelah pembacaan Al Qur'an, dilanjutkan pembacaan do'a oleh I'tishom oleh mempelai putra. “Dalam tradisi lama, khataman Al Qur;an yang dibaca oleh mempelai putri,” kata salah satu tokoh muda Bawean, Esfar Sag.


Sesuai adat pengantin Bawean, kedua mempelai dituntut untuk bisa membaca Al Qur'an dengan fasih dan lancar. Hanya saja, tradisi ini seolah mulai ditinggalkan. Saat ini  sebagian besar dalam resepsi pernikahan, pembacaan Al Qur'an digantikan oleh ahli qori atau qori'ah. Biasanya, setelah khataman Al Qur'an, dilanjutkan ceramah pernikahan dan pembacaan do'a  oleh kiai atau ustad.


Pada bagian lain, ada proses yang unik dan selalu menyita perhatian masyarakat setempat. Yaitu saat mempelai didampingi iring-iringan bersalan dari rumah orang tua putri menuju rumah rumah mempelai putra. “Pengantin putri menaiki kapal yang tandu langsung oleh saudara atau keluarga pengantin putra. Sedangkan pengantin putra menaiki kuda, dengan gagahnya,” katanya.


Di sepanjang jalan ketika diiring, terlihat ketika pengantin putri ditandu menaiki kapal, seringkali digoyang kekanan dan kekiri sehingga membuatnya ketakutan. Pengusung tandu mengatakan, gelombangnya tinggi sehingga kapal selalu oleng dalam perjalanan. Di sisi tandu, terlihat seorang bapak meniup tropet sepertinya kapal sudah berangkat menuju rumah mempelai putra.



Kenapa menggunakan kapal, itu sebagai simbol kalau suku Bawean itu, memang berkomunitas di daerah kepulauan yang dikelilingi lautan. Lagi pula, orang-orang suku Bawean memiliki tradisi atau kebiasaan merantau, yang sejak dulu menggunakan kapal atau perahu sebagai media menuju daerah atau tempat perantauan. (*/rtn)

Editor : Administrator