Berkat KUR BRI, Comring Sawargi Garut Berdayakan 12 Pekerja Lokal

M Firman Syah • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 18:19 WIB
PD Comring Sawargi memproduksi keripik pisang, keripik ubi ungu, keripik pangsit kedelai dan sejumlah makanan ringan lainnya.
PD Comring Sawargi memproduksi keripik pisang, keripik ubi ungu, keripik pangsit kedelai dan sejumlah makanan ringan lainnya.

GARUT – Berawal dari potensi singkong di lingkungan sekitar, Ari Saftari mengembangkan usaha makanan ringan PD Comring Sawargi di Kampung Bedeng Sawah, Desa Wangunjaya, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut. Sejak 2004, usaha tersebut mengolah singkong menjadi comring dan beragam camilan yang dipasarkan melalui toko maupun jaringan reseller.

Selain comring, PD Comring Sawargi memproduksi keripik pisang, keripik ubi ungu, keripik pangsit kedelai, dan sejumlah makanan ringan lainnya. Usaha yang dirintis Ari itu kini tak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga membuka peluang kerja bagi warga setempat.

“Usaha ini berangkat dari banyaknya singkong di daerah kami yang dapat diolah menjadi makanan ringan yang lebih bervariasi, salah satunya comring. Di sisi lain, ada warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan tambahan dengan waktu yang tidak terlalu menyita aktivitas sehari-hari,” ujar Ari.

Untuk mengembangkan usahanya, Ari memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sebagai tambahan modal. Pembiayaan tersebut digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pemasaran, sekaligus menambah keterlibatan warga dalam kegiatan usaha.

Saat ini, sebanyak 12 warga terlibat dalam proses produksi, mulai dari mengupas dan memarut singkong, mengolahnya menjadi comring, hingga mengemas produk. Skema kerja yang fleksibel memungkinkan para pekerja memperoleh penghasilan tambahan tanpa meninggalkan tanggung jawab rumah tangga.

“Usaha comring ini membantu menambah penghasilan keluarga mereka. Waktu kerjanya juga cukup fleksibel sehingga tidak mengganggu tanggung jawab di rumah. Para pekerja terlibat mulai dari mengupas dan memarut singkong, mengolahnya menjadi comring, hingga mengemas produk untuk dijual,” ungkap Ari.

Di balik perkembangan usaha tersebut, ketersediaan bahan baku masih menjadi tantangan. Saat musim kemarau, pasokan singkong dari petani di wilayah sekitar cenderung berkurang, sementara harga bahan baku meningkat. Untuk menjaga kelangsungan produksi, Ari mencari pasokan singkong dari luar daerah.

“Alhamdulillah, KUR BRI membantu memenuhi kebutuhan modal sehingga kami dapat meningkatkan produksi dan memperluas pemasaran. Perkembangan usaha ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga kami dan warga sekitar,” tambahnya.

Kisah PD Comring Sawargi sejalan dengan hasil riset BRI Research Institute pada 2025 bertajuk Survei Efektivitas KUR dan Beban Biaya UMKM. Riset terhadap 2.928 responden penerima pinjaman BRI menunjukkan, sebanyak 66,2 persen debitur mengalami peningkatan omzet usaha. Dari jumlah tersebut, 45,9 persen responden mencatat kenaikan omzet pada kisaran 5–15 persen. 

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, penyaluran KUR merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam mendukung agenda Asta Cita, terutama peningkatan lapangan kerja berkualitas dan penguatan kewirausahaan. “Melalui KUR, BRI membantu UMKM tumbuh lebih tangguh, naik kelas, dan berdaya saing di pasar. Peningkatan omzet yang dicapai para debitur menjadi bukti bahwa inklusi keuangan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput,” ujar Akhmad.

Editor : M Firman Syah
BRI BRImo BRILian BRILink