Direksi Baru Gresik Migas Bidik Tiga Sumber Pendapatan, Mulai SPBUN hingga Optimalisasi Sumur Tua

M Firman Syah • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 11:53 WIB
DILANTIK : Pemerintah Kabupaten Gresik melantik dua direksi baru untuk mengisi kursi Direksi Gresik Migas.
DILANTIK : Pemerintah Kabupaten Gresik melantik dua direksi baru untuk mengisi kursi Direksi Gresik Migas.

Kebomas – Direktur Utama PT Gresik Migas, Azhar Adam Abdurrohman, menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat kinerja bisnis perusahaan milik Pemerintah Kabupaten Gresik. Pengembangan SPBUN Ujungpangkah, penjajakan Participating Interest (PI) di Wilayah Kerja (WK) Tuban, serta pengelolaan sumur tua menjadi tiga peluang yang tengah diupayakan manajemen.

Strategi tersebut diarahkan untuk memperluas sumber pendapatan perusahaan di tengah perubahan lanskap bisnis energi dan migas. Selain mengembangkan usaha baru, manajemen juga akan mengevaluasi bisnis eksisting, termasuk penyewaan pipa gas dan SPBU ritel, guna meningkatkan produktivitas aset dan efisiensi operasional.

Kepada Radar Gresik, adik kandung dari peneliti Ainun Nadjib itu menyatakan bahwa langkah awal kepemimpinannya adalah memetakan kondisi perusahaan secara menyeluruh, mulai dari kinerja keuangan, efektivitas operasional, hingga peluang pengembangan usaha.

“Fokus kami ke depan adalah memperkuat tata kelola, meningkatkan efektivitas operasional, mengoptimalkan pemanfaatan aset, serta menjaga kesehatan keuangan perusahaan,” ujarnya.

Menurut dia, pengembangan bisnis harus didasarkan pada kajian teknis, komersial, keuangan dan risiko yang memadai. Dengan pendekatan tersebut, setiap keputusan investasi diharapkan memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus mendukung perekonomian daerah.

Salah satu proyek yang tengah disiapkan adalah pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) di Ujungpangkah. Adam menyebut proses perizinan proyek tersebut sedang berjalan. Pihaknya berharap fasilitas itu dapat beroperasi pada 2027 untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nelayan di Ujungpangkah dan sekitarnya.

"SPBUN ini kami harapkan dapat meningkatkan akses nelayan terhadap BBM. Meski demikian, kepastian waktu operasional masih bergantung pada penyelesaian perizinan dan kesiapan pelaksanaan proyek," imbuhnya.

Peluang lain yang tengah dijajaki adalah perolehan PI di WK Tuban. Menurutnya, dua kali pertemuan telah dilakukan untuk membahas kesepakatan pembagian hasil antara Pemerintah Kabupaten Gresik dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 

Manajemen juga tengah mengupayakan pengelolaan sumur-sumur tua di Kabupaten Gresik menggunakan teknologi artificial lift, yakni metode pengangkatan buatan untuk membantu produksi fluida dari sumur. Sumur tua Sekarkurung menjadi salah satu prioritas yang sedang difokuskan. Adam mengaku, rencana tersebut masih menunggu proses perizinan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sementara itu, di luar ekspansi manajemen baru akan mengevaluasi dua lini usaha utama Gresik Migas, yakni penyewaan pipa gas (PPF) dan SPBU ritel. Evaluasi mencakup pendapatan, biaya operasional, tingkat pemanfaatan aset, aspek keselamatan, serta keberlanjutan usaha.

Adam belum merinci target pendapatan maupun laba dari masing-masing lini bisnis. Dia menyatakan hasil evaluasi akan menjadi dasar penentuan strategi penguatan usaha dan peningkatan efisiensi.

Langkah tersebut penting mengingat kinerja BUMD tidak hanya diukur dari keberlangsungan operasional, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan modal dan aset yang dikelola.

Perusahaan juga dituntut menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kesehatan keuangan. Investasi baru perlu memperhitungkan kebutuhan modal, potensi arus kas, jangka waktu pengembalian investasi, serta risiko apabila realisasi pendapatan tidak sesuai proyeksi.

Sebagai BUMD, Gresik Migas memiliki mandat untuk menjalankan kegiatan usaha secara profesional sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah. Salah satu indikatornya adalah kontribusi dividen kepada pemerintah daerah sebagai pemegang saham.

Adam mengatakan evaluasi kinerja keuangan akan mencakup efektivitas biaya, produktivitas aset, pengelolaan arus kas, serta kontribusi setiap lini usaha. Menurut dia, kebijakan pembagian dividen harus mempertimbangkan laporan keuangan dan mekanisme pengambilan keputusan perusahaan sesuai peraturan yang berlaku.

“Harapan kami, melalui pengelolaan yang semakin efektif, efisien, dan profesional, kinerja perusahaan dapat terus ditingkatkan sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih optimal kepada daerah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam 100 hari pertama, Adam memprioritaskan penguatan tata kelola, koordinasi internal, optimalisasi kegiatan usaha yang sudah berjalan, serta penyusunan arah pengembangan bisnis secara bertahap.

"Keberhasilan kepemimpinan perlu dinilai berdasarkan indikator kinerja dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, manajemen juga memandang pembenahan perusahaan sebagai proses berkelanjutan yang membutuhkan penyesuaian dengan kondisi aktual," pungkasnya. (fir)

 

Editor : M Firman Syah
gresik migas gas gresik