BRI Jadi Satu-satunya Bank Indonesia yang Masuk S&P Global Sustainability

M Firman Syah • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 12:01 WIB
Pemanfaatan dana dari penerbitan Tahap I melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes berkontribusi terhadap penciptaan sekitar 59.000 lapangan kerja UMKM serta mendukung peningkatan aset usaha pada sekitar 23.000 nasabah.
Pemanfaatan dana dari penerbitan Tahap I melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes berkontribusi terhadap penciptaan sekitar 59.000 lapangan kerja UMKM serta mendukung peningkatan aset usaha pada sekitar 23.000 nasabah.

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali mencatatkan pengakuan di tingkat global melalui The Sustainability Yearbook 2026 yang diterbitkan S&P Global. BRI berhasil mempertahankan status sebagai Sustainability Yearbook Member selama empat tahun berturut-turut sejak 2023 hingga 2026.

Konsistensi tersebut dicapai di tengah meningkatnya standar dan ekspektasi global terhadap kualitas penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor korporasi, termasuk industri perbankan.

Dalam The Sustainability Yearbook 2026, BRI menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia dari industri perbankan yang masuk dalam daftar tersebut. Pengakuan ini menunjukkan konsistensi BRI dalam menjaga kualitas praktik keberlanjutan sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan standar dan praktik ESG di tingkat global.

The Sustainability Yearbook merupakan publikasi tahunan S&P Global yang memberikan pengakuan kepada perusahaan dengan kinerja keberlanjutan yang dinilai unggul dibandingkan perusahaan lain dalam industri yang sama.

Pada edisi 2026, lebih dari 9.200 perusahaan di dunia yang telah dinilai melalui Corporate Sustainability Assessment (CSA) 2025 dipertimbangkan untuk masuk ke dalam Yearbook. Dari jumlah tersebut, sebanyak 848 perusahaan berhasil terpilih.

Penilaian CSA disusun berdasarkan karakteristik dan materialitas isu keberlanjutan yang disesuaikan dengan masing-masing industri. Proses seleksi juga mempertimbangkan skor CSA serta exclusion screening, termasuk Media & Stakeholder Analysis (MSA).

Di luar proses penilaian S&P Global, BRI terus menggunakan berbagai standar dan pedoman global sebagai rujukan dalam mengembangkan praktik keberlanjutan yang sesuai dengan karakteristik bisnis Perseroan.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, keberhasilan mempertahankan pengakuan tersebut selama empat tahun berturut-turut mencerminkan upaya BRI dalam mengikuti perkembangan standar global.

“Standar dan ekspektasi global terhadap penerapan ESG terus berkembang. BRI merespons perkembangan tersebut dengan memperkuat praktik keberlanjutan dan menggunakan pedoman yang diakui secara global sebagai rujukan. Pendekatan ini membantu kami menjaga kualitas penerapan ESG agar konsisten, terukur, dan relevan dengan kebutuhan bisnis serta pemangku kepentingan,” ujar Hery.

Salah satu bentuk respons BRI terhadap perkembangan praktik keberlanjutan global tercermin melalui penguatan kualitas pengungkapan keberlanjutan. Pada aspek lingkungan dan tata kelola, BRI mengacu pada IFRS S1 General Requirements for Disclosure of Sustainability-related Financial Information dan IFRS S2 Climate-related Disclosures.

IFRS S1 mencakup pengungkapan informasi mengenai risiko dan peluang terkait keberlanjutan yang dapat memengaruhi prospek perusahaan. Sementara itu, IFRS S2 secara khusus memberikan kerangka pengungkapan mengenai risiko dan peluang terkait iklim.

Penggunaan standar global tersebut menjadi bagian dari upaya BRI untuk meningkatkan kualitas informasi keberlanjutan yang disampaikan kepada pemangku kepentingan. Langkah ini sekaligus memperkuat keterkaitan antara isu keberlanjutan, strategi perusahaan, tata kelola, dan manajemen risiko.

Dengan pendekatan tersebut, aspek ESG semakin terintegrasi dalam pengelolaan perusahaan dan menjadi salah satu pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.

Selain memperkuat aspek pengungkapan, BRI juga menerjemahkan prinsip keberlanjutan ke dalam aktivitas pembiayaan. Dalam penerbitan Social Bond, BRI mengacu pada Social Bond Principles, sementara pengukuran dan pelaporan dampak sosial mengacu pada Harmonised Framework for Impact Reporting for Social Bonds yang diterbitkan oleh International Capital Market Association (ICMA).

Penerapan pedoman tersebut diwujudkan melalui penerbitan Social Bond BRI Tahap I pada 2025 dan Tahap II pada 2026, masing-masing senilai Rp5 triliun.

Berdasarkan Impact Report Social Bond BRI 2025, pemanfaatan dana dari penerbitan Tahap I melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes berkontribusi terhadap penciptaan sekitar 59.000 lapangan kerja UMKM serta mendukung peningkatan aset usaha pada sekitar 23.000 nasabah.

“Ke depan, BRI akan terus meningkatkan kualitas penerapan ESG dengan memperhatikan perkembangan standar global serta tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik. Kami ingin memastikan setiap pertumbuhan yang diciptakan BRI memiliki fondasi yang kuat, memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat, serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Hery.

Editor : M Firman Syah
BRI BRImo BRILian BRILink