Rupiah Hari Ini Berpotensi Menguat Terbatas, Pasar Pantau Data Inflasi

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 08:35 WIB
Foto ilustrasi/Gemini AI
Foto ilustrasi/Gemini AI

RADAR SURABAYA– Nilai tukar rupiah berpotensi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (30/9).

Penguatan rupiah hari ini ditopang intervensi bank sentral dan pergerakan positif sejumlah mata uang Asia.

Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah mulai menunjukkan tanda pemulihan. Mata uang Garuda menguat 0,11 persen ke level Rp17.947 per dolar AS.

Pergerakan rupiah juga mendapat dukungan dari sejumlah mata uang kawasan. Baht Thailand, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong bergerak menguat. Namun, won Korea Selatan dan yen Jepang justru melemah.

Penguatan mata uang Asia terjadi di tengah harga minyak Brent yang kembali berada di kisaran US$102 per barel.

Sementara itu, tekanan di pasar obligasi yang terjadi pada perdagangan sebelumnya mulai sedikit mereda.

Baca Juga: Raja Mohammed VI Tunjuk Fatima Mansouri Jadi PM Perempuan Pertama Maroko

Meski demikian, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun masih berada pada level tinggi, yakni 5,2 persen.

Kondisi tersebut tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi arus modal ke aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Yield Obligasi Domestik Mulai Turun

Di pasar obligasi domestik, imbal hasil sejumlah tenor mengalami penurunan.

Yield tenor satu tahun turun 4,5 basis poin (bps) menjadi 6,79 persen. Tenor dua tahun turun tipis 0,1 bps menjadi 6,87 persen, sedangkan tenor tiga tahun turun 0,3 bps menjadi 6,96 persen.

Tenor acuan juga kembali turun tipis 0,4 bps menjadi 7,21 persen.

Penurunan yield tersebut memberikan sedikit ruang bagi aset-aset Asia untuk bernapas setelah tekanan jual meningkat pada perdagangan sebelumnya.

Namun, respons investor dalam lelang surat utang pada Selasa (29/9) masih relatif dingin. Penawaran yang masuk terpangkas hampir 30 persen.

Kondisi tersebut mencerminkan sikap pelaku pasar yang masih berhati-hati. Ketidakpastian geopolitik juga masih menjadi salah satu faktor yang menekan pasar keuangan global.

Harga Minyak Jadi Risiko bagi Rupiah

Pergerakan harga minyak mentah turut menjadi perhatian terhadap rupiah. Meskipun harga minyak telah mengalami penurunan dari level sebelumnya, posisinya masih berada di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Baca Juga: Dua Tersangka Curanmor Viral di Jalan Amir Hamzah Surabaya Ditangkap, Ngaku untuk Pesta Sabu

Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Karena itu, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati data inflasi serta ekspor-impor yang dijadwalkan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (1/10).

Analisis Teknikal Rupiah Hari Ini

Secara teknikal, rupiah berpotensi mengalami rebound pada perdagangan Rabu (30/9).

Rupiah berpotensi menguat menuju level resistance terdekat di Rp17.950 per dolar AS. Jika mampu melewati level tersebut, resistance berikutnya berada di Rp17.900 per dolar AS.

Sementara itu, level Rp17.880 per dolar AS menjadi acuan penguatan paling optimistis.

Di sisi lain, level support psikologis rupiah berada di Rp18.000 per dolar AS. Jika level tersebut ditembus, support berikutnya berada di Rp18.050 dan Rp18.100 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih menghadapi tekanan, terutama dari faktor eksternal, meskipun terdapat peluang penguatan dalam jangka pendek.

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : Bloomberg Technoz
kurs rupiah Rupiah hari ini nilai tukar rupiah