RADAR SURABAYA – Ekonomi dan keuangan syariah di Jawa Timur (Jatim) mulai menunjukkan perkembangan yang semakin nyata. Bank Indonesia (BI) menilai ekonomi syariah kini tidak lagi sebatas memiliki potensi besar, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem yang ikut menopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan, kekuatan ekosistem tersebut ditopang oleh besarnya jaringan pesantren, aktivitas usaha sektor riil, pelaku UMKM, pembiayaan syariah, hingga instrumen sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Di Jawa Timur, terdapat lebih dari 7.000 pesantren dengan sekitar 600.000 santri. Sementara itu, hingga Agustus 2026 telah tercatat 703.853 sertifikat halal yang mencakup sekitar 1,8 juta produk.
Baca Juga: PBPI Surabaya Tancap Gas, Bidik Emas Padel di Porprov 2027
“Ini bukan sekadar sebuah potensi, akan tetapi ini sudah menjadi ekosistem dan bahkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang semakin penting,” ujar Ibrahim saat membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Surabaya, Sabtu (26/9).
Menurut Ibrahim, perkembangan ekonomi syariah memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Nilai-nilai halal dan amanah tidak hanya diterapkan dalam aspek konsumsi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas aktivitas usaha.
Ekosistem tersebut mencakup berbagai sektor, mulai industri halal, pembiayaan, pesantren, UMKM, hingga instrumen sosial syariah.
Baca Juga: Ribuan Jamaah Ikuti Pengajian Pencerah, Dua Fasilitas Baru Muhammadiyah Kenjeran Diresmikan
Jawa, lanjut Ibrahim, memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan rantai nilai halal. Selain memiliki basis industri dan UMKM yang besar, kawasan ini juga mempunyai pasar yang luas serta jaringan pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang cukup kuat.
“Jawa memiliki basis industri dan UMKM yang besar, pasar yang luas, serta jaringan pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang kuat,” katanya.
Kondisi tersebut dinilai membuka ruang besar untuk memperkuat halal value chain atau rantai nilai halal nasional. Sejumlah sektor yang dapat dikembangkan antara lain makanan dan minuman halal, modest fashion, serta halal tourism.
Baca Juga: Dukung Gaya Hidup Sehat, Suparma Run 2026 Diikuti 2.600 Peserta
Sebagai kawasan yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional, Jawa juga memiliki posisi strategis dalam memperluas pasar produk halal sekaligus memperkuat keterhubungan antara pelaku usaha, lembaga pembiayaan, pemerintah, dan masyarakat.
Khusus Jawa Timur, Ibrahim melihat jaringan pesantren sebagai salah satu kekuatan penting dalam pengembangan ekonomi syariah. Lebih dari 97 persen penduduk Jawa Timur beragama Islam. Kondisi tersebut didukung dengan keberadaan ribuan pesantren dan ratusan ribu santri yang tersebar di berbagai daerah.
BI pun terus mendorong pesantren agar tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan, tetapi juga mampu mengembangkan unit usaha yang produktif.
Baca Juga: Begini Cara Tersangka Curi Besi Pembatas Trotoar di Kembang Jepun Surabaya
Ibrahim mengatakan, BI telah mendampingi ratusan pesantren di Jawa Timur dalam mengembangkan unit usaha sekaligus memperkuat ekosistem halal.
Pendampingan tersebut dilakukan melalui berbagai program, termasuk fasilitasi sertifikasi halal dan pengembangan ekonomi pesantren. “Potensi ini terus kita dorong agar semakin produktif dan terintegrasi,” tuturnya.
Menurut Ibrahim, penguatan ekonomi pesantren penting karena unit usaha yang dikelola secara baik dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi lingkungan sekitar.
Baca Juga: Lawan Polisi Pakai Celurit, Tersangka Curanmor di Surabaya Didor
Pengembangan ekonomi syariah di Jawa Timur sendiri disebut terus mengalami perkembangan dalam lima tahun terakhir. Jika sebelumnya fokus banyak diarahkan pada digitalisasi dan pembentukan ekosistem, kini arah pengembangan mulai bergeser pada penguatan ketahanan dan kemandirian ekonomi syariah regional.
Melalui FESyar Regional Jawa 2026 yang digelar pada 25–27 September 2026 di Surabaya, BI membawa sejumlah program baru untuk memperkuat dampak ekonomi syariah di masyarakat.
Tiga fokus baru tersebut meliputi penguatan rantai halal, pengembangan wakaf untuk pendidikan, serta inovasi pembiayaan perumahan. Program pertama diwujudkan melalui pembentukan Pasar Rakyat Halal, Aman, dan Sehat (RAHAS) serta penguatan zona Halal Assurance System (HAS).
Baca Juga: Indonesia Berpeluang Jadi Pemasok Ekonomi Syariah Dunia, Ini Sektor Andalannya
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat jaminan produk halal sekaligus membantu meningkatkan daya saing UMKM. Dengan adanya kepastian proses halal, pelaku usaha diharapkan lebih mudah memperluas akses pasar. “Program pertama berupa pembentukan Pasar Rakyat Halal, Aman, dan Sehat (RAHAS) serta penguatan zona halal assurance system (HAS),” jelas Ibrahim.
Program kedua menyasar pengembangan wakaf untuk mendukung pembiayaan pendidikan. BI mendorong agar wakaf dapat menjadi instrumen pembiayaan jangka panjang untuk pendidikan dengan melibatkan wali murid. Kontribusi wakaf tidak harus dalam jumlah besar, tetapi dapat dimulai dari nominal sederhana dan dikelola secara produktif.
“Wakaf dapat dimulai dari kontribusi sederhana yang apabila dikelola secara produktif dapat memberikan manfaat pendidikan secara berkelanjutan,” paparnya.
Baca Juga: Luka Modric dan Mario Pasalic Bawa Kroasia Taklukkan Ceko
Sementara program ketiga menyasar sektor perumahan. BI mendorong inovasi pembiayaan perumahan bagi guru madrasah dan pesantren. Program tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para pendidik yang selama ini memiliki peran penting dalam mencetak sumber daya manusia.
“Inovasi pembiayaan perumahan bagi guru madrasah dan pesantren. Program tersebut diharapkan dapat mendukung kesejahteraan pendidik yang memiliki peran strategis dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia,” ujar Ibrahim.
FESyar Regional Jawa 2026 juga tidak hanya dikemas dalam bentuk forum diskusi. BI menyiapkan ruang bagi pelaku usaha untuk bertemu langsung dengan lembaga pembiayaan dan calon pembeli. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto
Sumber : radar surabaya