RADAR SURABAYA – Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya sebagai pemasok produk dan kebutuhan ekonomi syariah di pasar global.
Peluang tersebut didukung besarnya populasi Muslim dunia serta meningkatnya penerimaan masyarakat non-Muslim terhadap produk berbasis nilai syariah.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan potensi pasar ekonomi syariah global sangat luas.
Indonesia dinilai memiliki sejumlah sektor unggulan yang dapat dikembangkan untuk memperbesar kontribusi dalam rantai pasok ekonomi syariah dunia.
"Potensinya memang sangat luas dengan populasi Muslim di dunia sekitar dua miliar orang. Produk ini juga digemari oleh mereka yang non-Muslim kalau kita lihat secara universal," kata Destry dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2026 di Surabaya, Sabtu (26/9).
Menurut Destry, nilai rantai nilai halal (halal value chain) global telah mencapai sekitar 2,6 triliun dolar AS berdasarkan data 2025.
Baca Juga: Luka Modric dan Mario Pasalic Bawa Kroasia Taklukkan Ceko
Nilai tersebut diperkirakan terus bertumbuh seiring meningkatnya permintaan terhadap produk dan layanan berbasis ekonomi syariah.
Posisi Indonesia di Ekonomi Syariah Global
Destry mengatakan Indonesia saat ini berada di peringkat keempat dunia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
Sejumlah sektor Indonesia bahkan telah menempati posisi yang cukup kuat secara global.
Makanan halal Indonesia berada di peringkat ketiga, perjalanan ramah Muslim di peringkat keenam, keuangan syariah di peringkat ketujuh, serta farmasi dan kosmetik halal di peringkat keempat.
Sementara itu, sektor media dan rekreasi bertema Islam berada di peringkat ketiga dunia.
Meski demikian, Destry menilai posisi tersebut masih memberikan ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan kontribusinya, bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai produsen dan pemasok produk ekonomi syariah global.
Produk Halal Indonesia Tembus Pasar Internasional
Salah satu kekuatan Indonesia terlihat dari produk makanan halal dan busana modest yang mulai memiliki penerimaan di pasar internasional.
Produk makanan halal Indonesia, misalnya, telah dipasarkan ke sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Baca Juga: Rahmat Erwin Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia, LaNyalla Apresiasi Atlet Jatim
"Walaupun mereka bukan negara Muslim, mereka sangat menghargai syariat-syariat yang ada dalam agama Islam," ujar Destry.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pasar produk halal tidak hanya terbatas pada negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
Produk yang memenuhi standar halal juga dapat diterima sebagai bagian dari kebutuhan konsumen secara lebih luas.
Pariwisata Ramah Muslim Masih Bisa Dikembangkan
Selain produk halal dan busana modest, Indonesia memiliki peluang besar dalam sektor pariwisata ramah Muslim.
Destry mengatakan pengembangan sektor tersebut perlu dilakukan secara lebih terintegrasi.
Penyediaan berbagai kebutuhan wisatawan Muslim dinilai penting agar industri pariwisata mampu menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.
Pengembangan ekosistem pariwisata ramah Muslim dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari layanan hingga ketersediaan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
Keuangan Syariah Perlu Diperkuat
Di sisi lain, Destry mengingatkan bahwa penguatan sektor keuangan syariah masih diperlukan untuk menopang perkembangan ekonomi syariah Indonesia.
Posisi Indonesia dalam pemeringkatan ekonomi syariah global saat ini berada di peringkat keempat, turun dari posisi ketiga sebelumnya.
Menurut Destry, tantangan tersebut semakin penting karena sejumlah negara ASEAN mulai membidik posisi sebagai pusat keuangan syariah, di antaranya Thailand dan Filipina.
Penguatan sektor keuangan syariah diperlukan untuk mendukung ekspansi pelaku usaha dan industri halal Indonesia.
Dengan pembiayaan yang lebih kuat, kapasitas produksi dan akses pasar diharapkan dapat berkembang mengikuti permintaan global.
Indonesia memiliki modal berupa produk halal dan busana modest yang telah menembus pasar internasional.
Jika diperkuat dengan pariwisata ramah Muslim dan ekosistem keuangan syariah, peluang Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam rantai pasok ekonomi syariah dunia masih terbuka lebar.(fix)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan