Menjaga Tradisi Sulam Kasab Aceh di Tengah Modernisasi Bersama Holding Ultra Mikro BRI Group

M Firman Syah • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 10:07 WIB
Asra, perempuan 63 tahun asal Kuala Baru, Aceh sejak 1990 konsisten menekuni usaha sulam kasab, kerajinan khas daerah yang dikerjakan secara manual dengan proses yang rumit dan membutuhkan kesabaran.
Asra, perempuan 63 tahun asal Kuala Baru, Aceh sejak 1990 konsisten menekuni usaha sulam kasab, kerajinan khas daerah yang dikerjakan secara manual dengan proses yang rumit dan membutuhkan kesabaran.
 
KUALA BARU – Modernisasi membuat produk industri semakin mudah ditemukan. Di tengah derasnya produk massal tersebut, kerajinan tradisional menghadapi tantangan untuk tetap bertahan.

Tidak semua orang bersedia menekuni kerajinan yang membutuhkan waktu panjang, keterampilan khusus, dan ketelitian. Namun, bagi Asra, menjaga kerajinan tradisional bukan sekadar mempertahankan mata pencaharian.

Ada warisan budaya dan keterampilan lokal yang harus tetap hidup dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Semangat itu yang terus dijaga perempuan 63 tahun asal Kuala Baru, Aceh, tersebut. Sejak 1990, Asra konsisten menekuni usaha sulam kasab, kerajinan khas daerah yang dikerjakan secara manual dengan proses yang rumit dan membutuhkan kesabaran.

“Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudah menjadi tradisi di daerah kami. Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkan ketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada membuatnya sendiri,” ujar Asra.

Melihat kebutuhan tersebut, Asra mulai menawarkan keahliannya dengan menerima pesanan dari rumah ke rumah. Keterampilan menyulam yang semula dikerjakan di sela aktivitas sebagai ibu rumah tangga perlahan berkembang menjadi usaha yang turut menopang perekonomian keluarga.

Pesanan pun terus bertambah. Usaha yang awalnya hanya melayani masyarakat sekitar kini berkembang hingga hasil sulam manik-manik kasab buatan Asra dipasarkan ke berbagai daerah di Aceh.

Di balik setiap produk, ada proses panjang yang membutuhkan ketelitian. Setiap sulaman dibuat dengan tangan. Tarikan benang harus dilakukan secara hati-hati agar pola yang dihasilkan tetap rapi.

Pengerjaannya pun tidak bisa dilakukan terburu-buru. Satu kesalahan pada bagian tertentu dapat memengaruhi keseluruhan hasil kerajinan.

“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” jelasnya.

Perjalanan usaha Asra bukan tanpa kendala. Salah satu tantangan yang pernah dihadapi adalah keterbatasan modal.

Pada 2020, Asra bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar untuk memperoleh tambahan modal yang dibutuhkan dalam menjalankan sekaligus mengembangkan usahanya.

Pembiayaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi, termasuk membeli bahan dalam jumlah lebih banyak. Dengan modal yang lebih memadai, kapasitas produksi dapat ditingkatkan sehingga Asra mampu menerima lebih banyak pesanan.

“Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi,” katanya.

Dukungan yang diterima Asra tidak berhenti pada pembiayaan. Ia juga mendapatkan pendampingan berupa pelatihan mengenai benang kasab yang diselenggarakan di Kuala Baru.

Pelatihan tersebut menambah pengetahuan dan keterampilannya dalam mengelola usaha kerajinan yang telah ditekuni selama puluhan tahun.

Seiring meningkatnya kapasitas produksi, manfaat usaha Asra juga mulai dirasakan masyarakat sekitar. Ia dapat membuka kesempatan kerja sehingga warga lain memperoleh tambahan penghasilan dari kegiatan produksi sulam manik-manik kasab.

Usaha yang awalnya dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga tersebut kini memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Di sisi lain, keterlibatan para perajin turut membantu mempertahankan keterampilan menyulam agar tetap hidup di tengah masyarakat Kuala Baru.

Kisah Asra menunjukkan bagaimana akses pembiayaan yang disertai pemberdayaan dapat membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha ultra mikro. Bukan hanya untuk mengembangkan usaha, tetapi juga menciptakan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Upaya tersebut sejalan dengan semangat Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengintegrasikan kekuatan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM. Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi dirancang untuk memperluas sekaligus memperdalam akses layanan keuangan bagi masyarakat, khususnya segmen ultra mikro.

Ekosistem tersebut menggabungkan pembiayaan, simpanan, transaksi, hingga pemberdayaan dan pendampingan usaha. Dengan demikian, akses terhadap modal dapat menjadi bagian dari perjalanan masyarakat untuk mengembangkan kapasitas ekonomi secara berkelanjutan.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, pemberdayaan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ultra mikro yang berkelanjutan.

“Melalui Holding Ultra Mikro, kami ingin memastikan bahwa akses keuangan menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas. Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri,” ujar Dhanny.

Bagi Asra, dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang mempertahankan sulam kasab selama lebih dari tiga dekade.

 

Editor : M Firman Syah
BRI BRImo BRILian BRILink Mikro