JAKARTA – Aktivitas bisnis pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi. Hal itu tercermin dari Indeks Bisnis UMKM Triwulan II 2026 yang dirilis PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
Hasil survei menunjukkan Indeks Bisnis UMKM berada di level 102,1. Angka di atas 100 tersebut menandakan aktivitas bisnis UMKM masih berada dalam fase ekspansif.
BRI juga memproyeksikan aktivitas bisnis UMKM pada Triwulan III 2026 tetap ekspansif. Meski begitu, laju pertumbuhannya diperkirakan lebih moderat.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, aktivitas bisnis UMKM pada Triwulan II 2026 tetap terjaga karena ditopang sejumlah faktor. Di antaranya, perekonomian yang masih tumbuh positif, momentum panen raya tanaman pangan, harga produk pertanian yang baik, mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta, kondisi cuaca yang kondusif, serta penyaluran bantuan sosial yang tetap agresif.
Namun, ekspansi UMKM tidak sekuat triwulan sebelumnya. Sejumlah tekanan masih membayangi pelaku usaha, mulai normalisasi permintaan pasca-HBKN, pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, keterbatasan modal usaha, hingga persaingan yang semakin ketat.
Kondisi tersebut berjalan seiring dengan moderasi pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II 2026.
“Prospek bisnis UMKM pada Q3-2026 diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif, meskipun lebih moderat, terutama ditopang oleh peningkatan proyek pemerintah dan swasta yang akan memberikan spillover effect terhadap sektor lainnya serta perekonomian yang tetap tumbuh. Di sisi lain, pelemahan daya beli dan El Nino menjadi faktor risiko yang perlu dicermati, khususnya bagi sektor pertanian,” ujar Hery.
Optimisme pelaku UMKM juga terlihat dari aktivitas investasi yang masih mencatat indeks di atas 100. Artinya, di tengah perlambatan aktivitas bisnis, pelaku usaha masih melihat adanya peluang untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan bisnisnya.
Secara sektoral, mayoritas sektor UMKM pada Triwulan II 2026 masih berada di zona ekspansif. Sektor pertanian, konstruksi, dan pertambangan bahkan mencatatkan penguatan.
Sektor pertanian mendapat dorongan dari momentum panen raya dan harga jual produk pertanian yang relatif baik. Sementara itu, sektor konstruksi dan pertambangan turut ditopang mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta serta kondisi cuaca yang kondusif.
Di sisi lain, industri pengolahan dan jasa-jasa lainnya masih berada dalam fase ekspansif, meski lajunya lebih moderat. Normalisasi permintaan pasca-HBKN, pelemahan daya beli, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, serta persaingan usaha menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja sektor tersebut.
Memasuki Triwulan III 2026, aktivitas bisnis UMKM di seluruh sektor diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif. Namun, pertumbuhannya diproyeksikan lebih moderat.
Sektor pertambangan dan konstruksi diperkirakan menjadi salah satu penopang seiring semakin banyaknya proyek pemerintah dan swasta yang mulai bergulir.
aktivitas bisnis UMKM pada Triwulan II 2026 tetap terjaga karena ditopang sejumlah faktor
Sentimen positif tersebut terlihat pada mayoritas sektor usaha. Sektor konstruksi mencatat kenaikan 7,4 poin menjadi 110,8, sedangkan sektor pertambangan meningkat 1,6 poin menjadi 108,3.
Penguatan kedua sektor tersebut terutama didorong bergulirnya proyek pemerintah dan swasta, meningkatnya permintaan pasir, batu, dan galian untuk bangunan, serta kondisi cuaca yang kondusif.
Selain prospek usaha, survei BRI juga menunjukkan kepercayaan pelaku UMKM terhadap pemerintah masih terjaga. Indeks Kepercayaan Pelaku UMKM terhadap Pemerintah (IKP) pada Triwulan II 2026 tercatat 107,4.
Aspek memberikan rasa aman dan tenteram mendapat penilaian tertinggi dengan indeks 130,4. Disusul aspek menyediakan dan merawat infrastruktur dengan indeks 116,5.
Hery menilai, keseluruhan hasil survei menunjukkan bahwa pelaku UMKM masih memiliki daya tahan di tengah moderasi aktivitas ekonomi. Meski menghadapi tekanan terhadap daya beli, kenaikan biaya usaha, serta persaingan yang semakin ketat, optimisme terhadap prospek usaha tetap menjadi modal penting bagi UMKM untuk menjaga keberlanjutan usaha dan menangkap peluang pertumbuhan.
“Kondisi ini menunjukkan pentingnya terus menjaga daya beli masyarakat sekaligus menciptakan ruang bagi UMKM untuk berkembang. BRI akan terus mencermati dinamika tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung UMKM agar mampu menjaga keberlanjutan usaha dan menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” tutup Hery.
Editor : M Firman Syah