SEPAKU – Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti terbatas dalam berkontribusi terhadap perekonomian keluarga. Hal itu dibuktikan Mawiyah, perempuan asal Sepaku, Kalimantan Timur, yang merintis usaha dari rumah dan perlahan mengembangkan sumber penghasilan keluarganya.
Mawiyah mulai memberanikan diri menjalankan usaha secara daring pada 2023. Di tahun yang sama, perempuan berusia 34 tahun itu bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar setelah memperoleh informasi mengenai pembiayaan dari petugas.
Tambahan modal yang diperoleh kemudian dimanfaatkannya untuk mengembangkan usaha. Setahun berselang, Mawiyah membuka kedai sederhana di depan rumah yang menyediakan aneka minuman, jus, jajanan, hingga gorengan bagi masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah, usaha semakin berkembang. Dari yang awalnya hanya berjualan online, pada tahun 2024 saya mulai membuka kedai di depan rumah yang menjual aneka minuman, jus, jajanan, dan gorengan,” ujar Mawiyah.
Kehadiran kedai tersebut membawa perubahan dalam keseharian Mawiyah. Di tengah kesibukannya mengurus rumah tangga, ia kini memiliki usaha yang dikelola sendiri sekaligus sumber penghasilan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Mawiyah menyadari bahwa pendapatan usaha dapat mengalami pasang surut. Karena itu, konsistensi menjadi salah satu prinsip yang terus dipegangnya.
“Kalau menjalankan usaha pasti ada naik turunnya penghasilan. Tapi menurut saya, selama kita tetap semangat dan konsisten menjalani usaha, insyaallah akan ada hasil baik yang didapat,” katanya.
Semangat tersebut semakin tumbuh ketika pelanggan kembali datang untuk membeli produk yang ditawarkan. Bagi Mawiyah, pelanggan yang datang kembali menjadi salah satu bentuk apresiasi sekaligus tanda bahwa produk di kedainya mendapat respons positif.
Seiring berkembangnya usaha, Mawiyah juga semakin berani menambah variasi produk. Pilihan minuman, jus, jajanan, dan gorengan dibuat lebih beragam untuk menarik pelanggan sekaligus meningkatkan pemasukan.
Menjalankan usaha sendiri juga membuat Mawiyah belajar mengelola keuangan secara lebih disiplin. Ia memandang kedainya seperti sebuah perusahaan dalam skala kecil karena seluruh aktivitas keuangan harus diatur sendiri, mulai dari perputaran modal, angsuran, biaya operasional, hingga pendapatan pribadi.
“Rasanya seperti punya perusahaan sendiri, karena semua harus kita kelola sendiri. Saya harus membagi uang untuk modal yang diputar kembali, menyiapkan angsuran Mekaar, dan mengatur kebutuhan usaha,” ungkapnya.
Mawiyah bahkan mulai menerapkan kebiasaan “menggaji” dirinya sendiri dari keuntungan usaha. Cara tersebut membantunya memisahkan keuangan usaha dan keuangan pribadi sekaligus menjaga agar modal tetap dapat diputar.
Dengan pengelolaan keuangan yang lebih teratur, angsuran pembiayaan juga disiapkan dari hasil penjualan sehingga tidak mengganggu perputaran modal kedai.
Untuk memperluas jangkauan pasar, Mawiyah tidak hanya mengandalkan pelanggan yang datang langsung ke kedainya. Ia juga menerima pesanan dan menyediakan layanan pesan antar. Ketika terdapat acara atau kegiatan tertentu, ia membawa produk jualannya ke lokasi untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Dukungan yang diterima Mawiyah pun tidak berhenti pada akses pembiayaan. Ia juga pernah mengikuti kelas memasak yang diselenggarakan PNM Mekaar. Pengetahuan tersebut menjadi tambahan bekal untuk mengembangkan variasi produk yang dijualnya.
Perjalanan Mawiyah menunjukkan bahwa akses pembiayaan yang disertai pemberdayaan dan pendampingan dapat membuka ruang bagi masyarakat ultra mikro untuk membangun dan mengembangkan sumber penghasilan.
Kisah tersebut sejalan dengan semangat Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengintegrasikan kekuatan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM. Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi diarahkan untuk memperluas sekaligus memperdalam akses layanan keuangan bagi masyarakat, khususnya segmen ultra mikro.
Melalui ekosistem tersebut, layanan tidak hanya mencakup pembiayaan, tetapi juga simpanan, transaksi, pemberdayaan, dan pendampingan usaha. Dengan demikian, nasabah memiliki ruang untuk mengembangkan kapasitas ekonomi secara bertahap sesuai kebutuhan dan perkembangan usahanya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa dalam ekosistem Holding UMi, perjalanan nasabah tidak berhenti ketika memperoleh pembiayaan. Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan keuangan sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan kapasitas ekonominya.
“Dengan demikian, pelaku usaha ultra mikro memiliki ruang untuk terus bertumbuh, memperkuat usahanya, membangun kebiasaan menabung, hingga secara bertahap mengakses layanan keuangan yang semakin luas,” ujar Dhanny.
Hingga akhir triwulan II 2026, Holding UMi telah melayani 33,8 juta debitur aktif serta mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro. Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM juga telah mendorong sekitar 2,3 juta debitur naik kelas.
Capaian tersebut mencerminkan upaya Holding UMi dalam memperluas akses keuangan sekaligus mendorongnya berkembang menjadi pemberdayaan dan peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.
Bagi Mawiyah, perjalanan tersebut dimulai dari langkah sederhana: berani memulai usaha, mengelola modal, dan terus belajar. Dari usaha daring, kemudian berkembang menjadi kedai di depan rumah, ia kini memiliki ruang yang lebih besar untuk membantu menopang ekonomi keluarganya.
Editor : M Firman Syah