BI Waspadai Dampak El Nino terhadap Ekonomi Jawa Timur

Mus Purmadani • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 17:35 WIB
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim. (Mus Permadani)
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim. (Mus Permadani)

RADAR SURABAYA – Bank Indonesia (BI) Jawa Timur mewaspadai dampak El Nino dan kekeringan terhadap produksi serta pasokan komoditas hingga akhir 2026.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat memicu tekanan inflasi dan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan, stabilitas menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi daerah tetap berkualitas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Ibrahim, tekanan ekonomi global masih dipengaruhi gejolak geopolitik, perubahan harga minyak, serta kebijakan moneter negara maju yang cenderung ketat.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal dan pertumbuhan ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Tahun lalu kita melihat bagaimana trade war, kemudian disambung di awal tahun ini ada Middle East war dan belum selesai.

Ketika harga minyak meningkat di bulan Juni, kemudian melandai cukup rendah dan sekarang naik lagi. Artinya, ada potensi instabilitas yang masih tetap terjadi,” kata Ibrahim, Rabu (16/9).

Baca Juga: Turnamen Bahlil Mini Soccer Zona 6 Mojokerto Raya-Jombang Dibuka Gus Barra

Meski menghadapi tekanan eksternal, Ibrahim menyebut kinerja ekonomi Indonesia dan Jawa Timur masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I dan II masing-masing mencapai sekitar 5,6 persen dan 5,29 persen.

Angka tersebut masih berada di atas perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2026 yang berada di kisaran 3 persen.

BI Jaga Inflasi dan Daya Beli Masyarakat

Selain pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi menjadi perhatian BI. Sasaran inflasi nasional berada pada 3,5 persen plus minus 1 persen.

Beberapa daerah sempat mengalami tekanan harga komoditas hingga di atas 5 persen, tetapi kondisi tersebut mulai membaik.

BI tetap mewaspadai risiko El Nino dan kekeringan, khususnya terhadap produksi serta pasokan pangan.

Kondisi cuaca tersebut berpotensi memengaruhi harga sejumlah komoditas dan pada akhirnya berdampak terhadap daya beli masyarakat.

“Pasokan komoditas itu tergantung kondisi ke depan. Kita pastikan tingkat pengendalian inflasi daerah dan pasokan ketahanan pangan sampai akhir tahun masih cukup baik,” jelas Ibrahim.

Baca Juga: BRI Kancab Pahlawan Resmikan Medical Center ITS lewat TJSL

Jawa Timur memiliki ketergantungan cukup besar terhadap konsumsi rumah tangga sebagai penopang perekonomian.

Porsi konsumsi rumah tangga mencapai sekitar 61 persen dari struktur ekonomi Jatim. Sementara itu, investasi berkontribusi sekitar 27 persen.

Karena itu, menjaga daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.

“Bagaimana kita menjaga daya beli masyarakat, karena konsumsi rumah tangga mendominasi sampai sekitar 61 persen. Bagaimana stabilitas harga harus kita pertahankan dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

BI Dorong Transaksi Digital UMKM

Di sisi lain, BI terus memperkuat kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor UMKM.

Koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan dilakukan untuk meningkatkan transaksi UMKM melalui sistem pembayaran digital.

Untuk segmen mikro, transaksi menggunakan QRIS dengan nilai tertentu telah dibebaskan dari merchant discount rate (MDR).

Mulai 1 Oktober, kebijakan tersebut diperluas untuk segmen usaha kecil dan menengah untuk transaksi hingga Rp100 ribu.

Ibrahim berharap kebijakan tersebut dapat meningkatkan aktivitas transaksi UMKM sekaligus memperkuat perputaran ekonomi daerah.

Selain konsumsi, investasi juga menjadi komponen penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Jawa Timur agar berlangsung inklusif dan berkelanjutan.

 BI mendorong pemerintah daerah dan pemangku kepentingan memperbaiki iklim investasi serta menjaga keberlanjutan fiskal.

Keterbatasan ruang fiskal, kata Ibrahim, membuat pemerintah daerah perlu mengoptimalkan sumber pembiayaan alternatif melalui konsep creative financing.

Skema tersebut dapat digunakan untuk mendukung pembiayaan pembangunan tanpa seluruh kebutuhan anggaran harus ditanggung sekaligus melalui APBD.(mus) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
ibrahim bi jatim el nino ekonomi Jawa Timur