RADAR SURABAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor pariwisata Jawa Timur.
Aktivitas wisata di sejumlah destinasi menurun dan berdampak langsung terhadap tingkat keterisian hotel.
Di daerah yang berdekatan dengan titik bencana, penurunan okupansi bahkan mencapai 60 hingga 80 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim Dwi Cahyono mengatakan, kondisi tersebut mulai terasa pada pekan ini.
Sebelumnya, pelaku usaha masih terbantu oleh wisatawan yang telah melakukan pemesanan sejak pekan sebelumnya.
"Pada awalnya belum terasa karena wisatawan sudah memesan sejak pekan sebelumnya.
Baca Juga: PPIH 2027 Disaring Lewat CAT BKN, Nilai Peserta Langsung Terlihat
Namun, memasuki pekan ini, okupansi turun dari rata-rata 60 persen menjadi 40 persen," ujar Dwi, Selasa (16/9).
Karhutla Tekan Okupansi Hotel di Destinasi Wisata Jatim
Menurut Dwi, sejumlah daerah wisata yang terdampak antara lain Malang, Kota Batu, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi.
Wilayah yang berada paling dekat dengan titik bencana merasakan dampak paling besar. Lumajang dan Banyuwangi menjadi contoh daerah yang mengalami penurunan aktivitas wisata secara signifikan.
"Di wilayah tersebut, penurunan aktivitas wisata dan okupansi bahkan sampai menembus angka 60–80 persen," ungkapnya.
Secara umum, tingkat keterisian kamar hotel di Jawa Timur berada di kisaran 20 hingga 25 persen.
Namun, angka tersebut dapat berubah drastis di daerah yang terdampak langsung maupun berada di sekitar kawasan karhutla.
Kepercayaan Wisatawan Menjadi Persoalan
Dwi menilai persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan penutupan sejumlah destinasi wisata.
Faktor keamanan perjalanan juga menjadi pertimbangan utama wisatawan sebelum berkunjung ke suatu daerah.
Kondisi tersebut membuat wisatawan, terutama rombongan, memilih menunda perjalanan.
Sebagian wisatawan melakukan penjadwalan ulang karena belum mendapatkan kepastian mengenai kondisi destinasi dan keamanan perjalanan.
"Bisnis pariwisata ini sangat bergantung pada kepercayaan. Bagi wisatawan, khususnya rombongan, ketidakpastian ini berisiko tinggi," katanya.
Baca Juga: IndoBuildTech Surabaya 2026 Bidik Penguatan Pasar dan Koneksi Bisnis Jawa Timur
PHRI Jatim khawatir penundaan perjalanan akan berubah menjadi pembatalan jika kondisi karhutla dan ketidakpastian keamanan berlangsung hingga pekan berikutnya.
Dampak Karhutla Menjalar ke UMKM dan Restoran
Penurunan aktivitas wisata tidak hanya berdampak terhadap hotel. Rantai ekonomi pariwisata turut terpengaruh, mulai dari objek wisata, biro perjalanan, restoran, transportasi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Berkurangnya wisatawan berarti menurunnya potensi transaksi bagi pelaku usaha yang selama ini bergantung pada pergerakan wisatawan.
Karena itu, PHRI Jatim mendorong pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk menekan dampak ekonomi akibat gangguan aktivitas pariwisata.
Salah satu opsi yang diusulkan adalah memberikan insentif bagi pelaku usaha sekaligus menyediakan alternatif perjalanan bagi wisatawan.
PHRI Dorong Destinasi Alternatif
PHRI mengusulkan sejumlah skema, seperti bundling harga, potongan tiket masuk destinasi alternatif, hingga subsidi atau stimulus bagi pelaku usaha yang terdampak.
"Ketika destinasi utama ditutup karena kondisi alam, harus ada alternatif destinasi pengganti dengan kompensasi. Misalnya, diskon tiket atau paket khusus," ujarnya.
Menurut Dwi, keberadaan destinasi alternatif penting untuk menjaga minat wisatawan agar tetap melakukan perjalanan di Jawa Timur meskipun destinasi utama belum dapat dikunjungi.
Dengan adanya pilihan destinasi pengganti, wisatawan tetap memiliki alternatif perjalanan.
Di sisi lain, pelaku usaha pariwisata masih mempunyai peluang mempertahankan aktivitas bisnis dan mengurangi kerugian akibat penurunan kunjungan.
"Kami berharap pemerintah bisa hadir memberikan kemudahan agar wisatawan tidak terlalu kecewa dan teman-teman pelaku jasa pariwisata tetap bisa bertahan," harapnya. (mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan