Dari PMI Jadi Pengusaha, Tati Bawa Bubur Cirebon ke Taipei Bersama BRI

M Firman Syah • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 09:30 WIB
Tati di Taiwan tidak berhenti sebagai pekerja migran dia justru membangun usaha kuliner yang membawa cita rasa Indonesia ke tengah masyarakat Taiwan.
Tati di Taiwan tidak berhenti sebagai pekerja migran dia justru membangun usaha kuliner yang membawa cita rasa Indonesia ke tengah masyarakat Taiwan.

TAIPEI — Dua dekade lalu, Tati Purwanti meninggalkan Indramayu untuk bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan. Sebagai anak pertama sekaligus tulang punggung keluarga, keputusan merantau menjadi jalan yang dipilihnya untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

Namun, perjalanan Tati di Taiwan tidak berhenti sebagai pekerja migran. Setelah melewati berbagai fase kehidupan, ia justru membangun usaha kuliner yang membawa cita rasa Indonesia ke tengah masyarakat Taiwan.

Kisah tersebut menjadi bagian dari semangat Teman Seperjuangan PMI BRI di Taiwan, yang mendorong masyarakat Indonesia untuk tidak hanya bekerja di luar negeri, tetapi juga mengembangkan pengalaman dan keterampilan menjadi peluang ekonomi.

Setelah beberapa tahun menjalani kehidupan sebagai PMI, perjalanan Tati memasuki babak baru. Pada 2013, ia menikah dengan warga negara Taiwan dan mulai membangun keluarga di sana. Keinginan untuk memiliki usaha sendiri pun tetap ia simpan.

Dengan dukungan sang suami, pada 2016 Tati kembali ke Indonesia untuk mencoba membangun usaha dengan memanfaatkan pengalaman yang diperolehnya selama tinggal di Taiwan.

Kala itu, ia melihat peluang dari tren bubble tea yang tengah berkembang pesat di Taiwan. Pengalaman tersebut kemudian dibawanya ke Indonesia dengan merintis usaha bubble tea.

“Waktu itu saya melihat bubble tea sudah banyak di Taiwan. Melihat peluang itu, saya coba membawa pengalaman yang saya dapat selama di sana. Alhamdulillah, apa yang saya pelajari akhirnya bisa saya coba di Indonesia,” ceritanya.

Usaha tersebut perlahan berkembang. Dari bisnis yang dirintis dari bawah, Tati berhasil memiliki lima cabang dan menyerap sekitar 35 tenaga kerja.

Pandemi COVID-19 yang melanda pada 2020 kemudian menjadi titik balik. Aktivitas bisnis menurun dan Tati harus menghadapi situasi yang berbeda dari sebelumnya.

Setelah berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan usaha, ia akhirnya memutuskan kembali ke Taipei sebagai bagian dari langkah untuk menata kembali kehidupan sekaligus mencari peluang baru.

Kepulangannya ke Taipei tidak membuat perjalanan bisnis Tati berakhir. Berbekal pengalaman membangun usaha di Indonesia, ia kembali melihat peluang dari sesuatu yang dekat dengan kesehariannya.

Pada 2022, Tati mulai memperkenalkan Bubur Cirebon di Taiwan. Ia membawa makanan khas Indonesia tersebut sebagai produk usaha sekaligus upaya memperkenalkan cita rasa Tanah Air di negeri tempat ia pernah bekerja sebagai PMI.

Pilihan tersebut sempat membuatnya ragu. Salah satunya karena kondisi cuaca Taiwan yang relatif panas dan berbeda dengan Indonesia.

“Awalnya sempat ragu juga, Taiwan kan panas, apa orang mau makan bubur? Tapi saya pikir, kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu. Jadi waktu itu saya jalani saja dulu,” cerita Tati.

Bersama sang suami, Tati kemudian meracik dan menyempurnakan resep Bubur Cirebon yang akan dijual. Selama sekitar delapan bulan, usaha tersebut dijalankan dari pinggir jalan sembari menjaga kualitas rasa dan mengenalkan produk kepada pelanggan.

Perlahan, Bubur Cirebon menemukan pasarnya. Usaha yang awalnya dirintis sederhana itu kemudian berkembang hingga Tati mendapatkan tempat usaha yang digunakan sampai sekarang.

Kini, penjualan Bubur Cirebon mampu menghasilkan omzet sekitar 30.000 NTD hingga 120.000 NTD.

Bagi Tati, perkembangan usaha tersebut bukan hanya soal pertumbuhan pendapatan. Pengalaman sebagai PMI membuatnya memiliki keinginan untuk membantu sesama masyarakat Indonesia yang bekerja di Taiwan.

“Saya dulu juga datang ke Taiwan untuk bekerja dan membantu keluarga. Jadi kalau sekarang ada kesempatan untuk membantu orang Indonesia yang mau bekerja di sini, saya bantu sebisa saya. Saya tahu mereka juga punya keluarga yang ingin dibantu,” ungkapnya.

Seiring bisnis berkembang, kebutuhan finansial Tati pun ikut berubah. Jika sebelumnya layanan perbankan lebih banyak digunakan untuk kebutuhan remitansi, kini kebutuhan tersebut meluas ke pengelolaan penerimaan usaha.

Tati memanfaatkan layanan BRI Taipei untuk kebutuhan penyetoran penerimaan usahanya. Ia juga mulai menggunakan QR Payment sebagai salah satu alternatif pembayaran bagi pelanggan.

“Dulu saya pakai BRI hanya untuk kirim uang ke Indonesia. Sekarang setelah punya usaha, kebutuhannya juga ikut berubah. Hasil penjualan yang masih tunai bisa saya setorkan melalui BRI Taipei, dan sekarang pelanggan juga mulai bisa bayar lewat QR Payment. Saya tidak pernah membayangkan perjalanan saya bisa sampai di tahap ini, dan sejauh ini petugas BRI Taiwan sangat membantu,” kata Tati.

Perjalanan Tati tersebut menggambarkan perubahan kebutuhan finansial PMI seiring perjalanan ekonominya. Dari pekerja yang mengirimkan penghasilan ke keluarga di Indonesia, berkembang menjadi pelaku usaha yang membutuhkan layanan perbankan untuk menunjang aktivitas bisnis.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, BRI terus mendorong masyarakat Indonesia, termasuk para PMI, untuk mengembangkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki menjadi peluang ekonomi yang lebih luas.

“Bagi BRI, kisah Ibu Tati menunjukkan bahwa PMI tidak hanya memiliki peran penting dalam menopang perekonomian keluarga dan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional, tetapi juga memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi wirausaha. Perjalanan dari seorang pekerja migran hingga mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membuka peluang bagi sesama masyarakat Indonesia merupakan wujud nyata dari semangat pemberdayaan yang ingin terus kami dorong,” ujar Hery.

Hery menambahkan, kehadiran BRI di Taiwan diarahkan untuk membangun ekosistem layanan yang semakin relevan dengan perjalanan finansial PMI dan diaspora Indonesia.

“Kehadiran BRI di Taiwan adalah tentang hadir lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di Taiwan. Kami ingin BRI menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan finansial di Taiwan dengan keluarga dan berbagai kebutuhan di Indonesia,” kata Hery.

Melalui BRI Taipei, BRI menjaga konektivitas finansial masyarakat Indonesia di Taiwan dengan Tanah Air, mulai dari kebutuhan remitansi hingga transaksi sehari-hari. Seiring berkembangnya kebutuhan nasabah, layanan digital juga terus dikembangkan untuk mendukung aktivitas transaksi masyarakat dan ekosistem usaha Indonesia di Taiwan.

BRI sebelumnya juga meluncurkan BRImo Taiwan sebagai solusi mobile banking yang dirancang untuk kebutuhan masyarakat Indonesia di Taiwan. Layanan tersebut memungkinkan nasabah mengakses berbagai layanan perbankan selama 24 jam, termasuk transfer internasional ke Indonesia, transfer lokal di Taiwan, pembayaran, serta kebutuhan transaksi lainnya dalam satu aplikasi.

Kehadiran layanan tersebut memperkuat konektivitas finansial PMI dan diaspora Indonesia, sekaligus memberi ruang bagi nasabah seperti Tati untuk mengelola kebutuhan keuangan yang semakin berkembang seiring pertumbuhan aktivitas ekonominya.

Hingga akhir Juli 2026, BRI Taipei yang beroperasi di Zhongshan District, Taipei, mencatatkan total aset lebih dari US$408 juta. Pada periode yang sama, nilai transaksi remitansi antara Taiwan dan Indonesia mencapai sekitar US$490 juta, dengan layanan yang telah menjangkau lebih dari 3.400 rekening.

Editor : M Firman Syah
BRI BRImo Taiwan BRILian BRILink