ELPI Kantongi Kontrak Baru Rp800 Miliar, Bidik Kinerja Semester II 2026 Makin Moncer

Moh. Afik • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 05:34 WIB
Optimistis Meningkat: Dari Kanan: Wawan Heri Purnomo, Heri Kurniawan, Sentono Fristian Yhulis Tianto dan Soegeng Riyadi menjelaskan, order kapal dari berbagai jenis terus meningkat. Sebab itu, Orela Shipyard, anak usaha ELPI, akan meningkatkan kapasitas produksi hingga 450 ton per bulan di tahun 2027. (M. Afiq Firdaus/Radar Surabaya)
Optimistis Meningkat: Dari Kanan: Wawan Heri Purnomo, Heri Kurniawan, Sentono Fristian Yhulis Tianto dan Soegeng Riyadi menjelaskan, order kapal dari berbagai jenis terus meningkat. Sebab itu, Orela Shipyard, anak usaha ELPI, akan meningkatkan kapasitas produksi hingga 450 ton per bulan di tahun 2027. (M. Afiq Firdaus/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA – PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) optimistis kinerja perusahaan pada semester II 2026 akan membaik.

 Optimisme tersebut didukung tambahan kontrak baru senilai sekitar Rp800 miliar serta meningkatnya permintaan jasa penunjang lepas pantai (offshore).

Corporate Secretary ELPI, Wawan Heri Purnomo, mengatakan kontrak baru tersebut menjadi salah satu penopang kinerja perusahaan di tengah kondisi pasar yang masih menantang.

"Kalau berdasarkan semester I, memang pasarnya kurang bagus, terutama untuk transshipment.

 Namun, kami kemarin mendapatkan beberapa kontrak baru," ujar Wawan saat meninjau galangan anak usaha ELPI, Orela Shipyard, Selasa (8/9).

Kontrak Rp800 Miliar Tidak Langsung Jadi Pendapatan

Wawan menjelaskan, nilai kontrak baru sekitar Rp800 miliar tersebut tidak seluruhnya akan masuk sebagai pendapatan ELPI pada 2026.

 Hal itu disebabkan sejumlah kontrak memiliki masa pengerjaan hingga beberapa tahun.

Baca Juga: Kylian Mbappe Samai Rekor Raul di Liga Champions, Real Madrid Tekuk Inter Milan 2-1

Pendapatan dari kontrak tersebut akan dicatat secara bertahap sesuai dengan periode pelaksanaan kontrak.

 Dengan demikian, kontrak baru tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan berkelanjutan bagi perseroan.

Di tengah melemahnya aktivitas transshipment batu bara, ELPI juga menerapkan strategi diversifikasi melalui kontrak jangka pendek atau spot charter.

Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga tingkat utilisasi armada agar tetap optimal ketika kontrak jangka panjang belum tersedia.

"Kontrak jangka panjang memang ada kendala, terutama transshipment untuk batu bara.

Sebab, ada penurunan produksi. Karena itu, kami mencari kontrak-kontrak spot charter. Misalnya, dua bulan, tiga bulan, atau lima bulan, kami ambil," jelas Wawan.

Dengan strategi tersebut, ELPI berharap kinerja semester II 2026 tetap terjaga.

Pada tahun sebelumnya, ELPI membukukan pendapatan sekitar Rp1,1 triliun. Perseroan menargetkan kinerja 2026 setidaknya mampu menyamai pencapaian tersebut meskipun kondisi ekonomi global masih belum sepenuhnya kondusif.

"Kami optimistis kinerja tahun ini minimal sama dengan tahun lalu. Apalagi, ELPI didukung ekosistem yang sudah terbangun dengan memiliki galangan sendiri.

Dengan demikian, kebutuhan kapal bisa dilakukan secara khusus. Ini yang tidak dimiliki perusahaan pelayaran lain," tambah Wawan.

Bisnis Offshore Jadi Andalan ELPI

Di sisi lain, bisnis offshore dinilai masih memiliki prospek yang menjanjikan. COO Domestic Orela Shipyard, Sentono Fristian Yhulis Tianto, mengatakan peningkatan permintaan mendorong perusahaan untuk menambah kapasitas produksi.

Baca Juga: Kepercayaan Nasabah Dorong Penghimpunan Dana, DPK BRI Capai Rp 1.580 Triliun dan Didominasi CASA

Saat ini, kapasitas produksi galangan mencapai sekitar 300 ton per bulan. Kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 450 ton per bulan atau sekitar 6.000 ton per tahun.

"Kapasitas produksi akan kami tingkatkan karena permintaan terus meningkat, terutama untuk kebutuhan offshore. Kami juga akan menambah investasi baru sekitar Rp50 miliar," ujar Sentono.

Peningkatan kapasitas tersebut tidak hanya menyasar volume produksi. Orela Shipyard juga terus memperbarui teknologi untuk mengikuti perkembangan industri perkapalan.

Ke depan, perusahaan menyiapkan pengembangan kapal dengan teknologi hibrida. Bahkan, Orela Shipyard telah memiliki rencana untuk memproduksi kapal bertenaga listrik.

"Kami sudah memiliki peta jalan (roadmap) pengembangan galangan ini hingga 2050. Teknologi dan SDM akan terus kami tingkatkan.

 Kami juga memiliki rencana untuk mengembangkan kawasan Kepulauan Riau, meliputi Batam, Bintan, dan Karimun, untuk dijadikan basis baru," katanya.

Orela Shipyard Kerjakan 13 Kapal

Direktur Produksi PT Orela Shipyard, Heri Kurniawan, mengatakan aktivitas produksi di galangan saat ini cukup padat.

Sedikitnya 13 unit kapal tengah dikerjakan, baik kapal berbahan baja maupun aluminium.

Selain proyek yang sedang berjalan, Orela Shipyard juga bersiap mengerjakan proyek pembangunan Platform Supply Vessel (PSV) dengan panjang 86 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 27 meter.

Proyek tersebut menjadi salah satu pencapaian baru sekaligus proyek strategis untuk memperkuat posisi galangan dalam menggarap pasar kapal penunjang kegiatan lepas pantai.

Orela Shipyard menargetkan mampu memproduksi hingga 16 unit kapal per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

"Target kami setiap tahun bisa memproduksi 16 unit kapal, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, seperti ke Timur Tengah, Malaysia, Brunei, Taiwan, dan negara lainnya," ujar Heri.

Regulasi Pemerintah Dorong Industri Galangan Nasional

Technical and Development Director PT Orela Shipyard, Soegeng Riyadi, menilai kebijakan pemerintah yang mendorong pembangunan kapal di dalam negeri turut menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri galangan nasional.

Baca Juga: Arus Peti Kemas TPS Tembus 128 Ribu TEUs pada Agustus 2026, Lampaui Target Bulanan

Menurut dia, kebijakan tersebut memberikan peluang bagi galangan kapal nasional untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensinya.

"Ketika perusahaan pelayaran akan membeli kapal dari luar negeri, mereka harus memiliki komitmen agar kapal lainnya dibangun di dalam negeri. Ini salah satu komitmen pemerintah untuk industri perkapalan di Indonesia," ujarnya.

Selain kapasitas produksi dan teknologi, kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian Orela Shipyard.

Perusahaan menggandeng sejumlah perguruan tinggi negeri yang memiliki kompetensi di bidang teknik perkapalan, termasuk Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).

Kerja sama tersebut mencakup program pemagangan, penelitian, serta pengembangan teknologi.

Kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi diharapkan mampu mempercepat penguasaan teknologi sekaligus menyiapkan SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri galangan kapal.

"Langkah kolaborasi ini mencakup program pemagangan hingga riset bersama agar pengembangan teknologi galangan tidak hanya bergantung pada riset mandiri," kata Soegeng.

Dengan tambahan kontrak baru Rp800 miliar, peningkatan kapasitas Orela Shipyard, serta pengembangan teknologi kapal, ELPI optimistis semester II 2026 dapat memberikan kontribusi lebih baik terhadap kinerja perseroan.

Prospek bisnis offshore dan strategi kontrak spot menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan perusahaan di tengah tantangan pasar pelayaran.(fix) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Orela Shipyard Bisnis Offshore ELPI PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk