Ekspor Jatim Juli 2026 Turun 9,15 Persen, Neraca Dagang Defisit US$3,44 Miliar

Mus Purmadani • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 21:46 WIB
Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur sepanjang Januari–Juli 2026 masih menghadapi tekanan. (Istimewa)
Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur sepanjang Januari–Juli 2026 masih menghadapi tekanan. (Istimewa)

RADAR SURABAYA – Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur sepanjang Januari–Juli 2026 masih menghadapi tekanan.

Nilai ekspor Jawa Timur tercatat US$16,08 miliar, turun 5,33 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Di tengah pelemahan ekspor, impor Jawa Timur justru meningkat signifikan. Nilai impor selama tujuh bulan pertama 2026 mencapai US$19,52 miliar atau tumbuh 16,56 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit hingga US$3,44 miliar sepanjang Januari–Juli 2026.

Plt. Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan, penurunan ekspor menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja perdagangan luar negeri Jatim.

“Nilai ekspor Jawa Timur Januari–Juli 2026 senilai US$16,08 miliar atau turun 5,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” kata Herum.

Ekspor Jatim Juli Turun 9,15 Persen

Secara bulanan, tekanan ekspor Jawa Timur juga terlihat pada Juli 2026. Nilai ekspor Jatim pada bulan tersebut mencapai US$2,65 miliar.

Angka itu turun 9,15 persen dibandingkan nilai ekspor pada Juli 2025. Sementara itu, ekspor nonmigas Juli 2026 tercatat US$2,64 miliar atau turun 7,94 persen secara tahunan.

Baca Juga: Unesa Buka Jalur Khusus Pramuka hingga S3, 100 Anggota Dapat Beasiswa

Jika dihitung secara kumulatif, ekspor nonmigas Jatim sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$15,90 miliar.

Nilai tersebut turun 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski secara keseluruhan menurun, sejumlah komoditas masih mencatat pertumbuhan positif. Salah satunya adalah tembaga.

Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar, tembaga (HS 74) menjadi komoditas dengan peningkatan terbesar.

Nilai ekspornya bertambah US$589,04 juta atau 39,51 persen dibandingkan Januari–Juli 2025.

Ekspor Perhiasan Jatim Tertekan

Di sisi lain, komoditas perhiasan dan permata mengalami penurunan cukup dalam. Nilai ekspornya berkurang US$2,04 miliar atau 54,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$15,22 miliar. Namun, angka tersebut turun 3,64 persen secara tahunan.

Baca Juga: Sebabkan Dua Korban Tewas, Empat Komplotan Jambret Sadis di Surabaya dan Sidoarjo Ditangkap

Ekspor nonmigas hasil pertanian juga turun 18,69 persen. Sementara itu, ekspor hasil pertambangan dan lainnya mengalami penurunan lebih tajam, yakni 31,84 persen.

Impor Jatim Naik 16,56 Persen

Berbeda dengan ekspor, impor Jawa Timur justru mengalami pertumbuhan. Sepanjang Januari–Juli 2026, nilai impor mencapai US$19,52 miliar atau meningkat 16,56 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Impor nonmigas mencapai US$15,91 miliar atau naik 14,16 persen. Sementara itu, impor migas mencapai US$3,61 miliar atau meningkat 28,48 persen secara tahunan.

Sejumlah komoditas impor juga mengalami kenaikan signifikan. Impor buah-buahan (HS 08) meningkat US$214,49 juta atau 35,87 persen. Impor besi dan baja (HS 72) juga naik US$245,05 juta atau 28,04 persen.

Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku atau penolong mendominasi dengan nilai US$15,57 miliar.

 Angka tersebut meningkat 14,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

“Menurut golongan penggunaan barang, impor bahan baku atau penolong selama Januari–Juli 2026 mencapai US$15,57 miliar, meningkat 14,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” ujar Herum.

Sementara itu, impor barang konsumsi mencapai US$2,17 miliar atau naik 17,95 persen. Adapun impor barang modal mencapai US$1,78 miliar atau tumbuh paling tinggi, yakni 34,86 persen secara tahunan.

Neraca Perdagangan Jatim Defisit US$3,44 Miliar

Kenaikan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor semakin memperlebar defisit perdagangan Jawa Timur.

Sepanjang Januari–Juli 2026, nilai impor Jatim mencapai US$19,52 miliar, sedangkan ekspor hanya US$16,08 miliar. Dengan demikian, terdapat selisih sekitar US$3,44 miliar.

“Nilai impor Jawa Timur pada periode tersebut mencapai US$19,52 miliar, sedangkan nilai ekspornya mencapai US$16,08 miliar,” terang Herum.

Berdasarkan sektor, defisit neraca perdagangan Jawa Timur terutama berasal dari sektor migas yang mencapai US$3,43 miliar.

Sementara itu, sektor nonmigas juga mencatat defisit, meski nilainya jauh lebih kecil, yakni sekitar US$8,81 juta.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri Jatim sepanjang tujuh bulan pertama 2026 masih menghadapi tantangan.

Pelemahan ekspor terjadi ketika kebutuhan impor, terutama bahan baku, barang modal, dan migas, justru meningkat. (mus)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Defisit Perdagangan Jatim Ekspor Jatim BPS Jawa Timur