Wamen Perindustrian Dorong Ekspor Produk Olahan Udang, Pasar Amerika Jadi Andalan

Moh. Afik • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 21:20 WIB
Genjot Ekspor: Wamen Perindustrian, Faisol Reza saat meninjau proses produksi PT BMI di Surabaya. Industri pengolahan hasil ikan didorong meningkatkan pasar ekspor karena peluangnya masih cukup besar terutama di Amerika. (M. Afiq Firdaus/Radar Surabaya)
Genjot Ekspor: Wamen Perindustrian, Faisol Reza saat meninjau proses produksi PT BMI di Surabaya. Industri pengolahan hasil ikan didorong meningkatkan pasar ekspor karena peluangnya masih cukup besar terutama di Amerika. (M. Afiq Firdaus/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA – Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mendorong industri pengolahan hasil laut di Indonesia untuk terus meningkatkan ekspor, terutama produk olahan udang.

Pasar global seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Eropa dinilai masih memiliki peluang besar.

Faisol menyampaikan hal tersebut saat meninjau proses produksi PT Bumi Menara Internusa (BMI) di Surabaya, Kamis (27/8).

Menurut Faisol, Indonesia masih menghadapi persaingan ketat dengan negara-negara seperti Ekuador, India, dan China dalam industri pengolahan hasil laut, khususnya komoditas udang.

“Kita masih kalah dengan Ekuador, India, dan China yang memproduksi banyak sekali produk hasil laut untuk ekspor, terutama udang. Hari ini pasar ekspor udang sangat menjanjikan, terutama ke Amerika,” ujar Faisol.

Industri Pengolahan Hasil Laut Didorong Terintegrasi

Faisol mengatakan, salah satu tantangan untuk meningkatkan ekspor produk hasil laut berada di sektor hulu, terutama terkait ketersediaan dan kontinuitas bahan baku.

Karena itu, pemerintah akan terus mendorong komunikasi dan kerja sama dengan pelaku industri pengolahan ikan dan produk turunannya.

 Langkah tersebut diperlukan agar berbagai hambatan produksi dan ekspor dapat diselesaikan.

Baca Juga: Unesa Siapkan Tenaga Pendamping untuk Perkuat Pendidikan Bermutu di Kupang dan Tidore

Menurut Faisol, rantai industri perlu terintegrasi mulai dari penyediaan bahan baku hingga proses pengolahan, termasuk sektor budi daya udang.

“Kami melihat proses pengolahan sejak bahan baku sampai ke penyimpanan (storage). Semua proses sudah sesuai standar,” katanya.

Faisol juga mengapresiasi kontribusi PT BMI terhadap peningkatan ekspor dan devisa negara.

Selain itu, industri pengolahan hasil laut tersebut dinilai memiliki kontribusi besar dalam penyerapan tenaga kerja.

“Yang penting, perusahaan ini juga menyerap banyak tenaga kerja, sekitar 15.000 pekerja. Ini luar biasa,” ujar Faisol.

PT BMI Produksi 35 Ton Olahan Hasil Laut

Direktur PT BMI Aris Utama mengatakan, perusahaan saat ini mengoperasikan tujuh pabrik dengan produksi sekitar 35 ton hasil olahan hasil laut per hari.

Produk yang diolah meliputi udang, rajungan, gurita, dan berbagai jenis ikan lainnya. Menurut Aris, kapasitas produksi perusahaan masih dapat ditingkatkan hingga 100 persen.

Hampir seluruh produk PT BMI dipasarkan ke luar negeri. Negara tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan sejumlah negara di Eropa.

Amerika Serikat menjadi pasar ekspor terbesar PT BMI dengan kontribusi sekitar 80 persen dari total ekspor perusahaan. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen merupakan produk olahan udang.

Pasar Udang Amerika Masih Menjanjikan

Aris menilai pasar ekspor udang masih memiliki prospek besar. Dia mengatakan kebijakan tarif 10 persen yang diterapkan Amerika Serikat tidak menghentikan pertumbuhan ekspor PT BMI.

Baca Juga: 99 Masjid dan Musala Ramah Muktamirin Siap Sambut Peserta Muktamar ke-35 NU di Jombang

“Pasar ekspor udang masih sangat besar. Kami tidak terdampak dengan tarif 10 persen yang diterapkan di Amerika.

 Kami mengikuti aturan tersebut. Ekspor kami tetap bertumbuh,” kata Aris.

Untuk menjaga pasokan bahan baku, PT BMI mencari hasil laut dari berbagai wilayah Indonesia. Pasokan tersebut antara lain berasal dari Papua, Medan, dan Makassar.

Perusahaan juga berupaya menjaga kesegaran hasil tangkapan sekaligus memastikan kualitas bahan baku sebelum masuk ke proses produksi.

PT BMI Beli 150 Ton Udang dari Petambak Nasional

Selain mengandalkan hasil tangkapan laut, PT BMI juga mengembangkan kerja sama dengan petambak nasional.

Perusahaan membina kerja sama budi daya dengan petambak di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lombok, Sumbawa, Jawa Barat, Sumatera bagian selatan, dan Sulawesi.

Aris mengatakan, kebutuhan bahan baku udang perusahaan cukup besar. Setiap hari, PT BMI membeli sekitar 150 ton udang dari petambak nasional.

“Kami membeli 150 ton udang setiap hari dari petambak nasional,” pungkas Aris.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional, PT BMI juga mengolah hasil laut yang berasal dari berbagai negara.

Salah satunya ikan dari Alaska yang diimpor untuk kemudian diolah di fasilitas produksi perusahaan menjadi produk siap saji dan siap ekspor.

PT BMI juga telah mengantongi berbagai izin dan sertifikasi terkait keberlanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kualitas produk sekaligus memenuhi standar pasar ekspor.

Dengan kapasitas produksi yang masih dapat ditingkatkan, ketersediaan bahan baku yang terus diperkuat, serta permintaan pasar global yang masih besar,

 industri pengolahan hasil laut dinilai memiliki peluang untuk memperbesar kontribusinya terhadap ekspor dan devisa Indonesia.(fix) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Wamenperin Faisol Riza kementerian perindustrian Ekspor Udang