RADAR SURABAYA – Penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) BCA pada 2026 tetap diproyeksikan tumbuh meski pasar properti masih menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi.
BCA menargetkan pertumbuhan KPR sekitar 10 persen hingga akhir tahun.
Pertumbuhan KPR BCA 2026 tersebut terutama ditopang transaksi rumah di pasar sekunder (secondary market) dan pembiayaan ulang (refinancing).
Sementara itu, penjualan rumah di pasar primer (primary market) masih cenderung stagnan karena banyak pengembang menahan diri meluncurkan proyek baru.
Vice President Consumer Credit Division BCA Meliani Tjondro mengatakan, perlambatan ekonomi memberikan tekanan cukup kuat terhadap pasar properti, khususnya segmen rumah primer.
Baca Juga: Hari Juang Polri, Satlantas Polrestabes Surabaya Berlakukan Pengalihan Arus, Simak Titiknya
“Pembelian primary memang terasa sekali penurunannya karena developer belum melakukan launching produk baru.
Otomatis kami juga terdampak akibat perlambatan dari developer tersebut. Namun, dari sisi secondary, kebutuhan masyarakat masih ada. Demikian juga refinancing masih ada,” ujar Meliani, Kamis (20/8).
KPR BCA Ditopang Rumah Sekunder dan Refinancing
BCA membagi bisnis KPR menjadi tiga kategori utama, yakni pembelian rumah primer, rumah sekunder, dan refinancing.
Dari ketiga segmen tersebut, pasar sekunder dan refinancing masih menunjukkan permintaan yang relatif kuat.
Kondisi ini membuat pertumbuhan penyaluran KPR BCA belum dapat sepenuhnya dijadikan indikator pemulihan pasar properti secara keseluruhan.
Meliani menegaskan, hingga akhir 2026 BCA masih optimistis penyaluran KPR dapat tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Nilai Pengajuan KPR BCA Makin Besar
Selain perubahan komposisi pasar, BCA juga mencatat pergeseran nilai pengajuan KPR. Sebelumnya, pengajuan kredit banyak berada pada kisaran Rp800 juta hingga Rp1,5 miliar.
Kini, pengajuan KPR lebih banyak berada pada rentang Rp1 miliar hingga Rp2,5 miliar. Bahkan, terdapat pengajuan dengan nilai mencapai Rp3 miliar.
Baca Juga: Pendidikan Inklusif Harus Jadi Kompetensi Inti Pendidik
Namun, peningkatan nilai pembiayaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat secara luas.
“Namun, kenaikan nilai pembiayaan tersebut tidak berarti sebagai peningkatan daya beli masyarakat secara luas.
Pertumbuhan tersebut lebih banyak dipengaruhi kontribusi segmen menengah atas yang menopang kinerja KPR pada semester I-2026,” kata Meliani.
BCA Perkuat KPR Rumah Terjangkau
Di tengah tekanan pasar properti, BCA juga memperkuat pembiayaan rumah terjangkau melalui KPR Sejahtera.
Program tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah.
KPR Sejahtera BCA memiliki batas pembiayaan maksimal Rp350 juta dengan mekanisme yang mengikuti konsep KPR Sejahtera pemerintah. Pendanaan program tersebut berasal dari BCA.
Saat ini, BCA telah menggandeng tujuh pengembang untuk menjalankan program tersebut.
Sejumlah proyek di antaranya telah berjalan di Jombang, Mojokerto, dan Pasuruan.
Menurut Meliani, aspek legalitas menjadi salah satu perhatian penting dalam pembiayaan rumah, termasuk rumah yang masuk skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).
“Meskipun rumah FLPP, aspek legalitas tetap sama dan menjadi perhatian penting dalam penyaluran pembiayaan.
Kepastian legalitas proyek diperlukan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman kepada masyarakat yang menjadi calon pembeli,” ujarnya.
BCA Expo 2026 Digelar di Surabaya
Untuk mendorong transaksi properti, BCA menggelar BCA Expo 2026 secara luring di sejumlah kota.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Perkuat Hubungan Jatim-Singapura, Dorong Investasi dan Peningkatan SDM
Di Surabaya, pameran berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 di atrium Ciputra World Mall Surabaya.
BCA Expo Surabaya diikuti 42 pengembang dari 21 grup dengan total 63 proyek yang tersebar di Surabaya, Malang, dan Bali.
Selain pameran luring, BCA juga menghadirkan BCA Expo Online yang berlangsung mulai 21 Agustus hingga 31 Oktober 2026.
BCA Expo Online menghadirkan sekitar 149 pengembang dengan 391 proyek yang dapat diakses masyarakat secara nasional, termasuk proyek yang dipasarkan melalui agen properti.
“Ini BCA Expo offline pertama pada semester II/2026. Setelah ini akan dilanjutkan di Malang pada 22–23 Agustus, Semarang pada 8–13 September, Jabodetabek dan Medan pada 11–13 September, serta Bandung dan Denpasar pada 12–13 September 2026,” kata Meliani.
BCA Bidik Transaksi Rp1,5 Triliun
Meliani optimistis BCA Expo 2026 mampu menarik minat konsumen. Sejumlah promo disiapkan untuk meningkatkan transaksi selama pameran.
Ada tiga fokus utama BCA Expo 2026, yakni penawaran suku bunga khusus, program pembiayaan baru, serta edukasi mengenai skema suku bunga mengambang (floating rate) KPR BCA.
“Kami harapkan selama pameran ada transaksi sekitar Rp1,5 triliun, sama dengan pencapaian tahun lalu,” pungkas Meliani.(fix)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan