Indef Ungkap Cadangan Emas Indonesia 87 Ton, Masih Jauh di Bawah Negara Besar

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 08:23 WIB
Ilustrasi emas batangan. (AI)
Ilustrasi emas batangan. (AI)

RADAR SURABAYA— Emas dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan cadangan devisa Indonesia. 

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut emas dapat menjadi instrumen diversifikasi cadangan sekaligus aset lindung nilai di tengah perubahan ekonomi global.

Berdasarkan data Indef, cadangan emas Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 87 ton.

Jumlah tersebut setara dengan 9,6 persen dari total cadangan devisa Indonesia dan sekitar 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2025.

Ekonom Senior Indef Aviliani mengatakan, porsi emas dalam cadangan devisa Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Senin 17 Agustus 2026: HUT ke-81 RI, Langit Cerah Acara Agustusan Lancar Jaya 

"Negara-negara dengan cadangan devisa yang lebih besar memiliki ruang lebih luas untuk meningkatkan kepemilikan emas sebagai aset lindung nilai.

Dan, kita lihat sebenarnya negara-negara yang melakukan pembelian cadangan emas adalah mereka yang cenderung memang cadangan devisanya besar," ujar Aviliani.

Cadangan Emas Indonesia Masih Relatif Rendah

Data Indef memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan antara posisi cadangan emas Indonesia dan sejumlah negara dengan perekonomian besar.

Amerika Serikat menjadi salah satu negara dengan cadangan emas terbesar, yakni 8.133,5 ton, dengan porsinya mencapai 84,8 persen dari total cadangan devisa.

Jerman memiliki cadangan emas 3.350,3 ton atau 84,6 persen, Italia 2.451,8 ton atau 82 persen, dan Prancis 2.437 ton atau 82,5 persen.

Sementara itu, Rusia tercatat memiliki cadangan emas sebanyak 2.311 ton atau 48,1 persen dari total cadangan devisanya.

India memiliki 880,3 ton atau 19,8 persen, Jepang 846 ton atau 10,1 persen, sedangkan China memiliki 2.313 ton atau 10 persen.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa strategi pengelolaan cadangan emas setiap negara sangat beragam.

Baca Juga: Jeremy Jacquet Gemilang, Liverpool Redakan Krisis Pertahanan Jelang Musim Baru

Besaran kepemilikan emas tidak semata-mata ditentukan oleh satu rasio tertentu.

Tidak Ada Rasio Ideal Cadangan Emas

Aviliani menegaskan tidak ada rasio tunggal yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan berapa besar cadangan emas yang ideal bagi suatu negara.

Menurut dia, kebijakan mengenai komposisi cadangan devisa sangat bergantung pada struktur ekonomi, kebutuhan likuiditas, serta strategi masing-masing bank sentral.

"Tidak ada sebenarnya ketentuan tentang berapa besar cadangan devisa emas. Itu tergantung dari kepercayaan dari negara masing-masing mau memegang apa," kata Aviliani.

Dengan demikian, peningkatan porsi emas dalam cadangan devisa bukan merupakan kebijakan yang dapat diterapkan secara seragam kepada seluruh negara.

Emas Kembali Dilirik sebagai Diversifikasi Cadangan

Aviliani mengatakan tren global menunjukkan adanya perubahan dalam pengelolaan cadangan devisa.

Sistem moneter global sebelumnya lebih banyak bertumpu pada dolar AS. Namun, seiring perubahan kondisi ekonomi dunia, emas kembali mendapat perhatian sebagai salah satu instrumen diversifikasi cadangan.

Emas juga dipandang sebagai aset lindung nilai yang dapat membantu bank sentral menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi dan perubahan kondisi pasar global.

Permintaan Emas Tak Hanya dari Bank Sentral

Perhatian terhadap emas tidak hanya datang dari bank sentral. Menurut Aviliani, masyarakat juga semakin melihat emas sebagai salah satu instrumen investasi.

Perkembangan layanan bullion dan emas digital turut memperluas akses masyarakat terhadap aset tersebut.

"Permintaan emas juga tidak hanya datang dari bank sentral. Masyarakat mulai melihat emas sebagai instrumen investasi, terutama seiring berkembangnya layanan bullion dan emas digital," ujarnya.

Perkembangan tersebut dinilai dapat mendukung terbentuknya ekosistem emas nasional yang lebih kuat.

Bullion Banking Buka Akses Investasi Emas

Aviliani juga menilai perkembangan bullion banking menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem emas nasional.

Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat memiliki eksposur terhadap emas tanpa harus menyimpan emas fisik dalam jumlah besar.

"Bullion bank itu saya rasa salah satu hal yang baik, sangat membantu sebenarnya masyarakat untuk menikmati pembelian emas tanpa harus ada fisiknya," ujarnya.

Dengan berkembangnya bullion banking, akses masyarakat terhadap investasi emas berpotensi semakin luas.

Di sisi lain, penguatan ekosistem emas juga dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi aset dan cadangan di tengah dinamika ekonomi global.

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : ANTARA
Cadangan Emas Indonesia Cadangan Devisa indef emas Bullion Bank