BATANG – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memperkuat dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah melalui pembiayaan yang menjangkau masyarakat sekaligus pelaku usaha di sektor perumahan.
Komitmen tersebut ditunjukkan dalam Akad Massal Debitur KPR Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Kredit Program Perumahan (KPP) yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto di Perumahan Puri Delta City Side, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7).
Sebanyak 6.059 debitur BRI menjadi bagian dari sekitar 62.000 peserta akad massal KPR Sejahtera FLPP secara nasional. Dalam momentum yang sama, BRI menyalurkan KPP senilai Rp880 miliar kepada 7.100 debitur.
Presiden Prabowo menegaskan, kolaborasi pemerintah, perbankan, pengembang, dan dunia usaha menjadi kunci memperluas penyediaan hunian sekaligus menggerakkan perekonomian.
“Inilah yang kita maksud dengan Indonesia Incorporated: yang besar membantu yang kecil, dan yang kecil bekerja keras untuk menjadi produktif. Kita sadar bahwa apa yang sudah kita capai cukup membanggakan, tetapi kita juga sadar bahwa kebutuhannya masih sangat besar,” kata Presiden Prabowo.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, BRI sebagai bagian dari Danantara akan terus memperluas pembiayaan sektor perumahan, baik kepada masyarakat sebagai pembeli rumah maupun pelaku usaha yang berada dalam rantai industrinya.
“Sebagai bank yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan, BRI akan terus memperkuat penyaluran pembiayaan perumahan melalui berbagai skema yang menjangkau masyarakat maupun pelaku usaha,” ujar Hery.
Dukungan BRI tidak berhenti pada penyaluran KPR bagi masyarakat berpenghasilan rendah. BRI juga membiayai pengembang melalui Kredit Program Perumahan (KPP) dan KUR Perumahan sehingga ekosistem perumahan dapat bergerak dari sisi supply maupun demand.
Sejak Oktober 2025 hingga 28 Juli 2026, BRI telah menyalurkan KPP senilai Rp12,17 triliun kepada 87.055 penerima. Khusus Januari hingga 28 Juli 2026, realisasinya mencapai Rp10,94 triliun kepada 78.520 penerima atau 91,18% dari target 2026 sebesar Rp12 triliun.
Menurut Hery, sektor perumahan memiliki multiplier effect yang luas karena menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari industri bahan bangunan dan konstruksi hingga transportasi serta penyerapan tenaga kerja.
“BRI akan terus memperluas akses pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan guna mendukung terciptanya ekosistem perumahan yang sehat, memperkuat pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuh Hery.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menambahkan, penyaluran rumah subsidi melalui skema FLPP pada 2025 mencapai 278.000 unit, tertinggi sejak program tersebut diluncurkan pada 2010.
“Selama 15 tahun, sejak 2010 hingga 2025, capaian tertinggi baru terjadi pada masa pemerintahan Bapak Presiden Prabowo. Sebelumnya, pada 2023 penyaluran mencapai 228.000 unit. Pada 2025, di tahun pertama pemerintahan Bapak Presiden, penyaluran rumah subsidi mencapai 278.000 unit, tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Maruarar.
Selain pembiayaan perumahan, peran BRI dalam memperkuat ekonomi kerakyatan ditopang penyaluran KUR. Sejak 2015 hingga Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp1.539 triliun kepada 45,4 juta penerima. Sepanjang Januari-Juni 2026, penyalurannya mencapai Rp103,81 triliun kepada lebih dari 2 juta penerima.
Editor : M Firman Syah