Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI yang Membuka Jalan Akses Finansial hingga Perbaiki Nasib Nelayan di Pulau Seram

M Firman Syah • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 12:15 WIB
Perjalanan melintasi laut itu menjadi bagian dari keseharian Asti sebagai Mantri BRI Kantor Cabang Masohi dari Unit Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku.
Perjalanan melintasi laut itu menjadi bagian dari keseharian Asti sebagai Mantri BRI Kantor Cabang Masohi dari Unit Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku.

MALUKU – Di bawah langit Kepulauan Maluku yang kerap berubah, sebuah perahu fiber membelah ombak Selat Haya. Di atasnya, Asti Alimin berdiri dengan waspada. Tangannya mencengkeram pinggiran perahu, sementara pandangannya tertuju ke cakrawala.

Perjalanan melintasi laut itu menjadi bagian dari keseharian Asti sebagai Mantri BRI Kantor Cabang Masohi dari Unit Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Bukan sekadar mendatangi nasabah, ia membawa misi memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun terkendala kondisi geografis.

Pengabdian Asti dimulai sejak 2020. Ia mendapat amanah mengelola wilayah yang sebagian besar terdiri atas lautan dan pulau-pulau kecil. Salah satu wilayah dengan tantangan akses terbesar adalah Pulau Kelang.

"Ada satu pulau yang baru kami buka layanannya karena banyak permohonan masyarakat yang selama ini terkendala jarak," ungkap Asti.

Di balik keberaniannya menempuh medan tersebut, Asti memiliki alasan personal. Saat masih kuliah, ia menyaksikan keluarganya di pulau mengalami kesulitan mendapatkan akses modal usaha. Mereka harus menempuh perjalanan jauh ke Ambon atau Masohi, tetapi tidak selalu berhasil memperoleh pembiayaan karena kendala geografis.

Ia juga menemukan masyarakat yang menjadi korban penipuan oknum dengan modus pemberian pinjaman. Warga diminta menyetorkan uang muka hingga jutaan rupiah, tetapi pinjaman yang dijanjikan tidak pernah diterima.

"Itu yang jadi motivasi saya. Kasihan orang-orang ini, mereka mampu bekerja tapi mereka ditipu," ujarnya.

Asti kemudian memulai pendekatan melalui edukasi dan penguatan akses transaksi. Alih-alih langsung menawarkan pembiayaan, ia terlebih dahulu membangun jaringan BRILink Agen agar masyarakat memiliki akses untuk melakukan transaksi tanpa harus menyeberang ke kota.

Dari sana, literasi keuangan diberikan secara bertahap. Tantangannya tidak ringan karena sebagian masyarakat masih terbiasa menyimpan uang secara tradisional. Asti bahkan pernah menemukan nasabah menyimpan uang di dalam bantal atau di bawah kasur hingga rusak dimakan tikus.

"Saya bilang ke mereka, jangan disimpan begitu, nanti dimakan tikus tidak laku lagi," tuturnya sambil terkekeh.

Pendampingan kemudian diperluas dengan mengenalkan layanan perbankan digital seperti BRImo. Asti juga memberikan pemahaman mengenai perbedaan layanan perbankan resmi dan rentenir agar masyarakat tidak mudah terjerat utang dengan beban yang memberatkan.

Perlahan, upaya tersebut membuahkan hasil. Dari awal membuka akses layanan, kini Asti mengelola lebih dari 700 debitur di wilayahnya. Namun, bagi Asti, pencapaian itu bukan sekadar tentang angka, melainkan perubahan kehidupan masyarakat yang dapat dirasakan secara langsung.

Akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), misalnya, membantu sejumlah nelayan meningkatkan kapasitas usahanya. Nelayan yang sebelumnya menggunakan mesin perahu berkapasitas kecil kini mampu membeli mesin dengan tenaga lebih besar.

Peningkatan kapasitas tersebut membuat mereka mampu membawa hasil tangkapan ikan maupun komoditas lokal seperti jahe, kunyit, dan minyak kayu putih langsung ke Ambon. Dengan demikian, masyarakat memiliki peluang memperoleh harga yang lebih kompetitif tanpa sepenuhnya bergantung kepada tengkulak.

Dampak akses pembiayaan juga dirasakan pada kehidupan keluarga nasabah. Salah satu cerita yang paling membekas bagi Asti datang dari sektor pendidikan dan masa depan anak-anak di wilayah tersebut.

Ia menceritakan, di salah satu kampung terdapat sekitar 28 pemuda yang berhasil lolos menjadi tentara setelah orang tua mereka memiliki kemampuan finansial yang lebih baik untuk mendukung persiapan dan pendidikan anak-anaknya.

"Setiap kali dengar mereka bilang 'untung ada kamu berani buka akses ke sini', rasa lelah saya hilang," kata Asti.

Bagi Asti, harapan terbesarnya adalah melihat perekonomian Maluku, khususnya masyarakat di wilayah kepulauan, terus berkembang dan memiliki kesempatan yang setara dengan daerah lain di Indonesia.

Ia berharap masyarakat semakin mandiri secara finansial, mampu memanfaatkan teknologi, serta memiliki daya saing ekonomi yang kuat. Dengan begitu, manfaat dari akses layanan keuangan dapat terus dirasakan bahkan ketika dirinya kelak tidak lagi bertugas di wilayah tersebut.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan kehadiran Mantri BRI di berbagai wilayah menjadi bagian penting dalam memperluas pemerataan layanan keuangan, khususnya bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Melalui pendampingan yang konsisten, kedekatan dengan masyarakat, serta pemahaman terhadap karakteristik ekonomi lokal, BRI berupaya memastikan layanan keuangan mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.

“Kisah Asti Alimin menjadi cerminan semangat para Mantri BRI dalam menghadirkan layanan keuangan hingga ke pelosok negeri. Di tengah keterbatasan akses dan tantangan alam, BRI membuktikan bahwa selain membuka akses terhadap layanan perbankan, inklusi keuangan juga menghadirkan harapan, mendorong kemandirian, dan membuka peluang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama,” tutup Dhanny.

Editor : M Firman Syah
BRI BRImo BRILian BRILink