Bersama BRI, Petani Kopi Asal Batang Sajikan Racikan Produk hingga Jangkau Pasar Dunia

M Firman Syah • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 08:58 WIB
Perjalanan Kingkaf bermula ketika Ika melihat hasil panen kopi petani lokal memiliki kualitas yang baik, tetapi belum diolah secara optimal.
Perjalanan Kingkaf bermula ketika Ika melihat hasil panen kopi petani lokal memiliki kualitas yang baik, tetapi belum diolah secara optimal.

BATANG – Berawal dari kepedulian terhadap nasib petani kopi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Ika Yuanita berhasil membangun PT Kingkaf Makmur Sejahtera menjadi usaha yang produknya kini menembus pasar internasional. Perjalanan yang dimulai pada 2017 itu membuktikan bahwa potensi kopi lokal dapat berkembang menjadi produk berdaya saing global melalui inovasi, pendampingan, dan pengelolaan usaha yang berkelanjutan.

Perjalanan Kingkaf bermula ketika Ika melihat hasil panen kopi petani lokal memiliki kualitas yang baik, tetapi belum diolah secara optimal. Keterbatasan pengetahuan mengenai proses pascapanen membuat kopi yang dihasilkan belum memiliki nilai tambah yang maksimal. Kondisi tersebut mendorong Ika untuk mendampingi para petani sekaligus membawa kopi lokal menjangkau pasar yang lebih luas.

Pada tahap awal, membangun pasar bukan perkara mudah. Tanpa jaringan distribusi yang kuat, Ika memasarkan produknya secara langsung dengan mendatangi calon pelanggan, mulai dari rekan, kenalan, hingga berbagai komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap kopi.

“Pada awalnya, proses penjualan kopi kami lakukan secara door to door melalui rekanan dan kenalan,” kenang Ika.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Seiring meningkatnya respons pasar, usaha yang semula dijalankan melalui penjualan langsung berkembang menjadi kedai kopi dan restoran. Bahkan, Kingkaf sempat memiliki enam outlet yang menjadi tonggak penting pertumbuhan bisnisnya.

Namun, pandemi Covid-19 menjadi tantangan besar. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat operasional enam outlet terdampak sehingga Ika harus mengambil langkah strategis agar usahanya tetap bertahan.

Ia kemudian mengalihkan fokus bisnis dari pengelolaan kedai dan restoran menjadi penjualan produk kopi kemasan melalui jaringan reseller. Keputusan tersebut menjadi titik balik yang memperluas jangkauan pemasaran sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sebagai mitra penjualan.

Seiring berkembangnya usaha, kebutuhan bisnis pun semakin kompleks. Tidak hanya berfokus pada kualitas produk, Ika juga mulai memperkuat pengelolaan transaksi, permodalan, pemasaran digital, hingga peningkatan kapasitas produksi.

Pada fase tersebut, BRI menjadi bagian dari perjalanan pengembangan usaha Kingkaf. Untuk mendukung operasional sehari-hari, Ika memanfaatkan layanan transfer dan QRIS BRI agar transaksi dengan pelanggan berlangsung lebih cepat dan praktis. Ia juga menggunakan fasilitas pembiayaan mikro BRI untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha.

“QRIS sangat membantu karena transaksi penjualan dapat diproses dengan cepat. Untuk kebutuhan permodalan, proses pembiayaan mikro BRI juga mudah dan cepat sehingga mendukung operasional usaha kami,” ujarnya.

Dukungan BRI tidak berhenti pada layanan transaksi dan pembiayaan. Atas rekomendasi sesama pelaku UMKM, Ika bergabung dengan Rumah BUMN BRI Semarang pada 2020 sebagai wadah untuk belajar, berkonsultasi, dan memperluas jejaring usaha.

Di sana, ia mengikuti berbagai pelatihan yang membantunya membangun bisnis dengan perspektif baru, mulai dari digitalisasi, manajemen keuangan, akses permodalan, legalitas produk, hingga strategi pemasaran.

“Petugas BRI sangat terbuka dan sangat ramah saat saya berminat masuk rumah pendampingan mereka. Di sana, saya merasa peran Rumah BUMN BRI Semarang sangat besar dalam mendukung perkembangan usaha saya. Dari berbagai pembelajaran yang diperoleh, pola pikir saya berubah. Menjual produk ternyata tidak cukup hanya dengan menawarkan kualitas, tetapi juga harus memberikan solusi bagi kebutuhan konsumen,” ungkap Ika.

Bagi Ika, Rumah BUMN BRI Semarang juga menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku UMKM untuk saling berbagi pengalaman dan memperluas peluang usaha.

“Di Rumah BUMN BRI Semarang, kami dapat saling mendukung, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Jadi, bukan hanya belajar mengenai bisnis, tetapi juga bertumbuh bersama pelaku UMKM lainnya,” katanya.

Berbekal peningkatan kapasitas, akses layanan keuangan, serta jejaring yang semakin luas, Kingkaf terus berkembang. Dari pusat produksinya di Semarang yang kini melibatkan 12 tenaga kerja, produk kopi Kingkaf dipasarkan melalui situs resmi dan berbagai platform e-commerce nasional.

Pasarnya pun terus meluas hingga ke mancanegara. Produk Kingkaf kini telah hadir di Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Selandia Baru, dan Hong Kong. Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa kopi hasil olahan petani lokal mampu bersaing di pasar global apabila didukung inovasi, pengelolaan usaha yang baik, serta ekosistem pemberdayaan yang tepat.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan besarnya potensi produk lokal untuk berkembang hingga pasar internasional perlu didukung melalui ekosistem pemberdayaan yang komprehensif, mulai dari akses pembiayaan, penguatan legalitas, pemanfaatan teknologi digital, perluasan jejaring, hingga pembukaan akses pasar.

“Melalui program pemberdayaan Rumah BUMN, BRI menghadirkan ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Ekosistem ini diharapkan dapat membantu UMKM membangun fondasi usaha yang lebih kuat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Akhmad.

Editor : M Firman Syah
BRI BRImo BRILian BRILink BRI Peduli