Dua Dekade Mengembangkan Gula Merah, UMKM Asal Sumenep Kian Berkembang Berkat KUR BRI

M Firman Syah • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 18:47 WIB
Melalui kunjungan rutin ke lokasi usaha, petugas BRI memantau perkembangan bisnis sekaligus memberikan pendampingan dan pelatihan agar usaha Rosidah dapat terus berkembang.
Melalui kunjungan rutin ke lokasi usaha, petugas BRI memantau perkembangan bisnis sekaligus memberikan pendampingan dan pelatihan agar usaha Rosidah dapat terus berkembang.

SUMENEP – Asap tipis membubung dari dapur produksi sederhana di Desa Pragaan Laok, Kabupaten Sumenep. Di tengah aroma khas gula merah, Rosidah (50) tampak cekatan mengaduk adonan di atas tungku besar. Selama hampir dua dekade, ia mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan usaha gula merah khas Madura.

Bagi Rosidah, gula merah bukan sekadar komoditas dagang, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya. Sejak 2006, ia mengembangkan usaha tersebut dengan memanfaatkan air nira pohon siwalan atau lontar yang banyak tumbuh di Sumenep.

Perjalanan membangun usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal merintis, Rosidah dihadapkan pada berbagai keterbatasan, mulai dari peralatan produksi yang masih sangat tradisional hingga keterbatasan modal. Namun, semangatnya untuk menghidupi keluarga tidak pernah surut.

"Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, kualitas gula merah buatan saya mulai dilirik konsumen. Permintaan mulai berdatangan," ungkapnya.

Meningkatnya permintaan membuat jaringan pemasaran Rosidah perlahan meluas ke berbagai daerah. Titik balik perkembangan usahanya terjadi pada 2016 ketika kebutuhan modal kerja meningkat seiring lonjakan permintaan pasar. Saat itulah ia memutuskan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Pragaan.

"Saya sudah lama jadi nasabah BRI, tapi baru tahun 2016 itu memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR. Prosesnya cepat dan tim dari BRI sangat responsif. Saya memilih KUR ini karena selain bunganya rendah juga tidak ada agunan. Jadi cocok untuk usaha kecil seperti saya," urai Rosidah.

Pembiayaan KUR tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat ketersediaan bahan baku sehingga kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan.

Setelah pinjaman pertama berhasil dilunasi dengan baik, Rosidah kembali memperoleh fasilitas KUR dengan plafon yang lebih besar, yakni Rp50 juta. Kepercayaan tersebut berlanjut pada 2024, ketika BRI kembali menyalurkan KUR dengan nilai pembiayaan yang lebih tinggi untuk mendukung pengembangan usahanya.

Bagi Rosidah, akses pembiayaan dari KUR BRI memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan usahanya.

"KUR BRI ini sangat bermanfaat bagi kami. Khususnya untuk penyediaan bahan baku, peralatan produksi agar bisa memenuhi permintaan," tandasnya.

Dukungan modal tersebut mendorong peningkatan kapasitas produksi secara signifikan. Jika sebelumnya produksi gula merah hanya sekitar 200 kilogram per hari, kini meningkat menjadi sekitar 500 kilogram per hari untuk memenuhi kebutuhan pasar.

"Alhamdulillah kami juga bisa membantu warga sekitar. Selain menerima hasil bahan baku dari mereka, kami juga membantu menyerap tenaga kerja. Jika awal-awal saya merintis usaha ini saya kerjakan sendiri, saat ini pekerja saya ada 6 orang," ungkapnya.

Kini, hasil kerja keras selama hampir 20 tahun telah membuahkan hasil. Produk gula merah Rosidah telah memiliki pelanggan tetap di berbagai wilayah Madura, mulai dari Sumenep, Pamekasan, Sampang hingga Bangkalan.

Sistem pemasarannya pun berkembang semakin praktis. Para pemilik toko cukup melakukan pemesanan melalui telepon, kemudian produk dikirim secara rutin sesuai kebutuhan.

Seiring meningkatnya volume penjualan, omzet usaha Rosidah juga terus bertumbuh. Keberhasilan tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarganya, tetapi juga mampu mengantarkan kedua anaknya membuka usaha sendiri di Surabaya.

Bagi Rosidah, hubungan dengan BRI tidak lagi sebatas antara debitur dan lembaga keuangan, melainkan telah berkembang menjadi kemitraan yang erat melalui pendampingan usaha secara berkelanjutan.

Secara terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan BRI terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM di berbagai daerah sebagai bentuk komitmen mendorong peningkatan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat sektor riil yang menjadi fondasi perekonomian nasional.

Komitmen tersebut tercermin dari realisasi penyaluran KUR BRI hingga Juni 2026 yang mencapai Rp103,81 triliun atau 54,63 persen dari kuota KUR BRI tahun 2026 sebesar Rp190 triliun. Mayoritas penyaluran tersebut diarahkan ke sektor-sektor produktif dengan porsi mencapai 75,02 persen dari total KUR yang telah disalurkan.

“Kisah Rosidah membesarkan usaha Gula Merah di Sumenep jadi kisah inspiratif dari pelaku UMKM yang memanfaatkan KUR sebagai akses permodalan usaha dan terus berkembang melalui pemberdayaan BRI. Semoga kisah ini menjadi kisah inspiratif yang dapat direplikasi oleh pelaku UMKM lainnya di berbagai wilayah di Indonesia,” tegas Akhmad.

Editor : M Firman Syah
BRI BRImo BRILink Lampung BRILian