RADAR SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa kopi Jatim dan kakao Jatim memiliki potensi besar untuk menjadi komoditas unggulan di pasar global.
Melalui hilirisasi, peningkatan kualitas produk, dan penguatan ekosistem agroindustri, kedua komoditas tersebut diyakini mampu meningkatkan nilai ekspor sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani.
Khofifah mengatakan Jawa Timur memiliki kekuatan besar di sektor perkebunan.
Selain didukung produksi yang tinggi, provinsi ini juga memiliki keragaman geografis yang menghasilkan cita rasa khas kopi dan kakao dari berbagai daerah.
Menurutnya, karakteristik geografis setiap wilayah menjadi keunggulan kompetitif yang mampu membangun identitas produk sekaligus meningkatkan daya saing komoditas Jawa Timur di pasar internasional.
Karena itu, pengembangan sektor perkebunan tidak lagi cukup berfokus pada peningkatan produksi bahan mentah.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Raih Pimred Award 2026, Terbaik dalam Komunikasi dan Informasi Publik
Hilirisasi harus menjadi strategi utama melalui pengolahan hasil panen, penguatan merek (branding), sertifikasi, inovasi produk, hingga perluasan akses pasar ekspor.
"Saat ini, preferensi lifestyle masyarakat global tengah bergeser ke arah produk yang berkelanjutan dan bercita rasa premium.
Ini tentu menjadi peluang besar bagi Jawa Timur untuk semakin memperkuat posisi sebagai salah satu sentra kopi unggulan Indonesia," kata Khofifah.
Produksi Kopi Jatim Masuk Lima Besar Nasional
Khofifah menjelaskan Indonesia merupakan salah satu dari empat negara produsen kopi terbesar di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.
Kontribusi Indonesia mencapai sekitar tujuh persen dari total produksi kopi dunia.
Menurutnya, posisi tersebut menunjukkan bahwa kopi Indonesia semakin diperhitungkan di pasar global.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas harus berjalan seiring dengan penguatan daya saing dari sektor hulu hingga hilir.
"Jawa Timur merupakan salah satu dari lima provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia. Volume produksi kita tercatat sebesar 80.895 ton yang ditopang oleh empat kabupaten, yaitu Malang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo," ujarnya.
Produksi tersebut didukung luas perkebunan kopi rakyat yang mencapai 123.720 hektare. Sentra produksi tersebar di Kabupaten Malang, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, dan Situbondo.
Dengan potensi tersebut, Jawa Timur dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan kopi unggulan nasional sekaligus meningkatkan ekspor kopi Indonesia.
Hilirisasi Kopi dan Kakao Tingkatkan Nilai Tambah
Khofifah menegaskan peningkatan produksi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas. Kopi hasil petani tidak cukup dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi perlu diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi.
Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekaligus memperbesar pendapatan petani.
Melalui industri pengolahan yang kuat, produk perkebunan dapat memiliki nilai jual lebih tinggi dan mampu menembus pasar internasional.
Selain kopi, Jawa Timur juga memiliki potensi besar dalam pengembangan kakao. Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong pengembangan kakao berbasis klaster di sejumlah daerah.
Klaster kakao dikembangkan di Kabupaten Blitar, Madiun, Trenggalek, hingga Pacitan. Pendekatan berbasis kawasan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membangun ekosistem perkebunan yang lebih terintegrasi.
"Kopi dan kakao adalah dua agrokomoditas unggulan yang siap terus ditingkatkan daya saingnya guna menjamin stabilitas pendapatan para petani," tutur Khofifah.
Hadapi Persaingan Pasar Global
Khofifah mengingatkan persaingan pasar global semakin ketat. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan cita rasa, tetapi juga kualitas, keamanan pangan, keberlanjutan, serta aspek lingkungan dalam proses produksi.
Karena itu, peningkatan produktivitas harus diiringi dengan perbaikan mutu, standardisasi produk, sertifikasi, inovasi pengolahan, hingga penguatan strategi pemasaran.
Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi faktor penting dalam memperluas akses pasar. Melalui pemasaran digital, produk kopi dan kakao asal Jawa Timur memiliki peluang lebih besar menjangkau konsumen nasional maupun internasional.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Agroindustri
Khofifah menegaskan penguatan daya saing kopi dan kakao tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri.
Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, hingga sektor swasta.
Sinergi tersebut mencakup peningkatan kapasitas petani, akses pembiayaan, pengembangan teknologi pengolahan, sertifikasi, serta perluasan jaringan pemasaran.
Dengan ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir, Jawa Timur diharapkan tidak hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi juga mampu menjadi pusat industri olahan kopi dan kakao yang memiliki nilai tambah tinggi dan berdaya saing global.
"Kita ingin komoditas unggulan Jawa Timur tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi mampu menjadi produk bernilai tambah yang memiliki identitas, kualitas, dan daya saing global," pungkas Khofifah. (mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan