RADAR SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong seluruh pelaku industri manufaktur di Jawa Timur agar segera beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Menurutnya, transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi kunci agar industri manufaktur Jatim tetap kompetitif di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Emil menegaskan, penguasaan teknologi merupakan kebutuhan mendesak untuk mencegah terjadinya deindustrialisasi di Indonesia.
Sektor manufaktur harus tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat Jawa Timur maupun nasional.
"Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam mendukung penguatan industri nasional melalui pengembangan kawasan industri, infrastruktur logistik, serta konektivitas rantai
pasok yang terus berkembang," ujar Emil saat membuka Manufacturing Surabaya 2026, Rabu (15/7).
Baca Juga: PGN Dukung Industri Ramah Lingkungan, Pabrik Sepeda di Semarang Beralih ke Gas Bumi
Ia menjelaskan, sektor manufaktur memberikan kontribusi sekitar 33 persen terhadap perekonomian Jawa Timur.
Bahkan, Jawa Timur menyumbang sekitar 22 persen terhadap total industri manufaktur nasional, sehingga penguatan sektor ini menjadi prioritas.
Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan inovasi, serta kolaborasi dalam pengembangan teknologi terapan harus terus dipacu.
Menurut Emil, Manufacturing Surabaya 2026 menjadi momentum penting untuk mempercepat transformasi teknologi sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
Pelaku industri juga didorong memanfaatkan berbagai teknologi manufaktur modern, mulai dari otomatisasi, digitalisasi, hingga kecerdasan buatan (AI).
Pemanfaatan teknologi tersebut diyakini mampu meningkatkan efisiensi produksi, produktivitas, serta kualitas produk sehingga lebih kompetitif di pasar internasional.
Baca Juga: PGN Dukung Industri Ramah Lingkungan, Pabrik Sepeda di Semarang Beralih ke Gas Bumi
"Melalui ajang ini, pelaku usaha dapat mengenal berbagai teknologi terbaru. Jika masih bertahan dengan pola produksi lama, tentu akan semakin sulit bersaing.
Kami ingin terus meningkatkan kapasitas SDM sekaligus memperkuat penguasaan teknologi melalui kolaborasi yang mampu mendukung Jawa Timur sebagai basis manufaktur Indonesia," katanya.
Sementara itu, Country General Manager PT Pamerindo Indonesia, Lia Indriasari, mengatakan Manufacturing Surabaya 2026 hadir untuk menjawab meningkatnya
kebutuhan industri terhadap transformasi proses produksi, digitalisasi manufaktur, dan penguatan rantai pasok.
Menurut Lia, transformasi manufaktur tidak lagi hanya ditentukan oleh hadirnya teknologi baru, melainkan juga kemampuan seluruh
pelaku industri untuk saling terhubung, berbagi pengetahuan, serta membangun ekosistem rantai pasok yang semakin kuat dan berkelanjutan.
"Industri manufaktur terus berkembang mengikuti dinamika teknologi. Oleh karena itu, ajang ini menjadi ruang kolaborasi yang
mempertemukan berbagai pelaku industri untuk membangun ekosistem manufaktur yang semakin terintegrasi," ujarnya.
Melalui penyelenggaraan Manufacturing Surabaya 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap percepatan adopsi teknologi dapat meningkatkan daya saing industri,
memperkuat investasi, sekaligus mengukuhkan posisi Jawa Timur sebagai pusat manufaktur terbesar di Indonesia.(fix)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan