
RADAR SURABAYA - Liburan sekolah biasanya menjadi andalan industri perhotelan di Jawa Timur. Namun, tahun ini belum mampu mendongkrak tingkat hunian kamar. Rata-rata okupansi hotel selama musim liburan sekolah masih berada di kisaran 45–55 persen. Jauh dari target 80 persen pada puncak liburan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono mengatakan, salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya okupansi hotel adalah tingginya kebutuhan masyarakat untuk memenuhi biaya masuk sekolah dan proses pendaftaran tahun ajaran baru.
Baca Juga: 530 Koperasi Merah Putih Sudah Beroperasi di Jatim, Bukan Pesaing Ritel Modern
"Rata-rata okupansi hotel di Jawa Timur selama libur sekolah ini sekitar 55 persen. Target kami minimal bisa mencapai 80 persen pada puncak liburan," ujar Dwi kepada Radar Surabaya, Kamis (2/7).
Menurutnya, masyarakat masih memprioritaskan pengeluaran untuk keperluan pendidikan anak dibandingkan berwisata. Akibatnya, banyak keluarga menunda perjalanan liburan meski masa libur sekolah telah berlangsung.
"Kurang optimal karena masih banyak dipengaruhi pendaftaran tahun ajaran baru," katanya.
Meski demikian, sejumlah daerah tujuan wisata tetap mencatatkan performa yang cukup baik. Kawasan Malang Raya menjadi daerah dengan okupansi tertinggi.
Hotel-hotel di Kabupaten dan Kota Malang mencatat tingkat hunian sekitar 70 persen. Sedangkan Kota Batu dan Probolinggo masing-masing mencapai sekitar 65 persen.
Sebaliknya, hotel-hotel di kawasan perkotaan seperti Surabaya dan sekitarnya masih mencatat okupansi di kisaran 45–55 persen. Sementara itu, tingkat keterisian hotel di Kediri berada pada angka sekitar 50 persen.
Baca Juga: Gubes ITS Surabaya Temukan Teknologi Ubah Limbah Menjadi Energi Alternatif
Dwi menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa wisata berbasis destinasi alam dan rekreasi masih menjadi pilihan utama masyarakat yang memutuskan berlibur. Namun, secara keseluruhan, jumlah wisatawan yang melakukan perjalanan belum sebesar yang diharapkan pelaku industri. (mus)
Editor : Lambertus Hurek