Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Integra Bidik Pertumbuhan Penjualan 10 Persen pada 2026, Andalkan Diversifikasi Ekspor dan Bisnis Forestry

Moh. Afik • Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:49 WIB
Pekerja WOOD memeriksa produk yang siap untuk diekspor ke Amerika dan beberapa negara lainya dan juga pasar domestik. (Istimewa)
Pekerja WOOD memeriksa produk yang siap untuk diekspor ke Amerika dan beberapa negara lainya dan juga pasar domestik. (Istimewa)

RADAR SURABAYA – Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan kenaikan harga energi, industri furnitur dan building component Indonesia tetap menunjukkan optimisme dalam menghadapi tantangan bisnis pada 2026.

Salah satunya ditunjukkan oleh PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) yang menargetkan pertumbuhan penjualan hingga 10 persen melalui strategi diversifikasi pasar ekspor dan pengembangan produk baru.

Direktur PT Integra Indocabinet Tbk, Wang Sutrisno, mengatakan bahwa sepanjang 2025 perseroan menghadapi tekanan cukup berat,

terutama pada pasar ekspor ke Amerika Serikat untuk produk furnitur dan building component.

Baca Juga: Seminar Ekonomi, Unair Soroti SDM dan Digitalisasi untuk Transformasi Koperasi Ritel

 Kondisi tersebut dipengaruhi oleh konflik geopolitik global serta kebijakan tarif perdagangan baru yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Akibatnya, kinerja ekspor perusahaan mengalami koreksi. Penjualan ekspor yang pada 2024 mencapai Rp2,7 triliun turun 4,8 persen menjadi Rp2,5 triliun pada 2025.

Penurunan paling signifikan terjadi pada segmen furnitur yang terkontraksi 52 persen, sementara segmen building component masih mampu tumbuh 13,8 persen.

Tidak hanya pasar ekspor, penjualan domestik juga mengalami tekanan yang lebih dalam.

Nilai penjualan dalam negeri turun 42,3 persen, dari Rp62,2 miliar menjadi Rp35,9 miliar. Segmen furnitur terkoreksi 49,4 persen, sedangkan building component turun 9,6 persen.

“Secara keseluruhan, pada 2025 penjualan turun 5,8 persen dari Rp2,7 triliun pada 2024 menjadi Rp2,6 triliun.

 Pasar ekspor masih mendominasi dengan kontribusi 98,6 persen terhadap total penjualan perseroan, sementara sisanya berasal dari pasar domestik,” ujar Wang dalam paparan publik (public expose) yang digelar secara daring, Jumat (19/6).

Diversifikasi Pasar Ekspor Jadi Strategi Utama

Untuk menghadapi tantangan global, Integra menerapkan strategi diversifikasi pasar ekspor.

Baca Juga: Viral! Wasit Piala Dunia 2026 Mendadak Kram, Laga Amerika Serikat vs Australia Sempat Terhenti

Perseroan tidak lagi bergantung pada pasar Amerika Serikat, tetapi mulai memperluas penetrasi ke kawasan Asia dan Eropa.

Wang Sutrisno (kanan) menjelaskan kinerja WOOD secara daring. Tahun 2026 pihaknya melakukan diversifikasi pasar ekspor dan produk baru.
Wang Sutrisno (kanan) menjelaskan kinerja WOOD secara daring. Tahun 2026 pihaknya melakukan diversifikasi pasar ekspor dan produk baru.

Menurut Wang, langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas kinerja perusahaan apabila ketegangan geopolitik berlangsung dalam jangka panjang dan berdampak pada perdagangan internasional.

“Dengan pasar yang lebih beragam, risiko bisnis dapat ditekan sehingga tidak terlalu bergantung pada satu negara tujuan ekspor,” katanya.

Bisnis Forestry Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Selain memperluas pasar ekspor, Integra juga terus mengembangkan inovasi produk dan lini bisnis baru.

 Salah satu yang saat ini menjadi fokus adalah bisnis forestry atau kehutanan hijau yang mencakup kegiatan konservasi dan restorasi lingkungan.

Wang menilai bisnis tersebut memiliki prospek yang sangat besar, terutama di negara-negara Eropa yang semakin menaruh perhatian terhadap isu keberlanjutan dan perubahan iklim.

“Perubahan iklim saat ini menjadi isu global. Bisnis konservasi dan restorasi diperkirakan akan menjadi tren di masa depan.

Di Eropa konsep ini sudah berkembang pesat, dan ke depan Indonesia juga akan mengarah ke sana.

Saat ini kontribusinya memang masih kecil, tetapi berpotensi menjadi portofolio ekspor baru ke pasar Eropa,” jelasnya.

Kinerja Kuartal I 2026 Masih Tertekan

Meski optimistis terhadap prospek tahun ini, Integra masih mencatat penurunan penjualan pada kuartal I 2026.

Penjualan perseroan turun dari Rp773,5 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp722,4 miliar.

Pada periode tersebut, penjualan ekspor turun sekitar 10 persen. Segmen furnitur mengalami penurunan 29,4 persen, sedangkan building component terkoreksi 7,8 persen.

Namun demikian, pasar domestik menunjukkan pertumbuhan yang sangat positif.

Penjualan dalam negeri melonjak 196,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen furnitur tumbuh 324 persen, sementara building component meningkat 99,2 persen.

Optimistis Tumbuh Hingga 10 Persen

Dengan kombinasi strategi diversifikasi pasar ekspor dan pengembangan bisnis forestry, manajemen Integra optimistis dapat kembali mencatat pertumbuhan pada 2026.

“Tahun ini kami tetap konservatif, tetapi optimistis dapat mencatat pertumbuhan sekitar 5 hingga 10 persen.

Apalagi bisnis forestry sudah mulai memberikan kontribusi sebesar 2,6 persen. Hal ini membuat kami semakin yakin terhadap prospek bisnis konservasi dan restorasi ke depan,” tutup Wang Sutrisno.(fix) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#bisnis Forestry #PT Integra Indocabinet Tbk (wood) #infustri furnitur #Wang Sutrisno