RADAR SURABAYA – PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) optimistis mampu mencatat pertumbuhan kinerja sepanjang 2026 meskipun industri properti masih menghadapi tantangan perlambatan pasar.
Strategi yang ditempuh pengembang properti terbesar di Indonesia ini adalah memperkuat pendapatan berulang (recurring income),
memperluas pusat perbelanjaan, serta mempercepat pengembangan gedung ramah lingkungan (green building).
General Manager Finance PT Pakuwon Jati Tbk, Fenny, mengatakan bahwa recurring income masih menjadi tulang punggung pendapatan perseroan.
Kontribusinya mencapai 80 persen dari total pendapatan, sementara sisanya berasal dari penjualan rumah tapak (landed house) dan kondominium.
Baca Juga: Bukan Jepang! Korea Selatan Jadi Wakil Asia Paling Difavoritkan di Piala Dunia 2026
“Recurring income memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan perseroan, yakni 80 persen.
Sisanya berasal dari penjualan rumah tapak dan kondominium,” ujar Fenny dalam paparan publik (public expose), Kamis (11/9).
Menurut dia, pendapatan berulang terbesar berasal dari sektor retail leasing yang menyumbang 62 persen.
Selanjutnya, sektor hotel dan apartemen servis berkontribusi 21 persen, sedangkan penyewaan perkantoran (office leasing) menyumbang 4 persen.
Adapun penjualan kondominium dan rumah tapak masing-masing memberikan kontribusi 8 persen dan 5 persen terhadap total pendapatan perusahaan.
Pakuwon Perluas Mall di Surabaya, Jakarta, dan Bekasi
Untuk memperkuat sumber pendapatan berulang, Pakuwon terus melakukan ekspansi pusat perbelanjaan di sejumlah kota besar.
Saat ini, perusahaan tengah menyelesaikan pembangunan Pakuwon Mall Phase 5 di Surabaya serta mengembangkan kawasan Kota Kasablanka dan Pakuwon Mall Bekasi.
Baca Juga: Perbanas Optimistis Perbankan Nasional Tetap Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
Fenny menjelaskan, progres pembangunan Pakuwon Mall Phase 5 telah mencapai 30 persen dengan nilai belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp164 miliar.
“Tidak ada penjadwalan ulang proyek meskipun nilai tukar dolar AS dan suku bunga mengalami kenaikan.
Kami berharap proyek ini mulai beroperasi pada akhir 2027. Tahun ini kami menyiapkan capex sebesar Rp2,2 triliun,” katanya.
Saat ini Pakuwon mengoperasikan 11 pusat perbelanjaan di berbagai kota di Indonesia dengan total luas area sewa (leasable space) mencapai 859 ribu meter persegi. Tingkat okupansi rata-rata mal mencapai 96 persen.
Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, perusahaan menargetkan luas area sewa meningkat menjadi lebih dari 1 juta meter persegi seiring bertambahnya proyek pengembangan yang sedang berjalan.
Pendapatan PWON Tumbuh 6 Persen pada Kuartal I/2026
Dari sisi kinerja keuangan, PT Pakuwon Jati Tbk mencatat pendapatan sebesar Rp1,65 triliun pada kuartal I/2026.
Angka tersebut meningkat 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,56 triliun.
Sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp7,1 triliun dengan laba bersih mencapai Rp2,9 triliun.
Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan sewa pusat perbelanjaan yang mencapai Rp3,93 triliun.
Sementara itu, pendapatan dari sewa perkantoran tercatat Rp273 miliar dan sektor perhotelan sebesar Rp1,42 triliun. Adapun pendapatan dari pengembangan properti (development revenue) mencapai Rp1,49 triliun.
Selain itu, perseroan juga membagikan dividen tunai sebesar Rp13 per saham atau setara Rp626 miliar kepada para pemegang saham.
Pakuwon Percepat Pengembangan Green Building
Di sisi keberlanjutan, Direktur dan Corporate Secretary PT Pakuwon Jati Tbk, Minarto Basuki, menegaskan bahwa pengembangan green building menjadi salah satu fokus utama perusahaan.
Menurutnya, semakin banyak perusahaan multinasional yang memilih gedung perkantoran dengan standar keberlanjutan dan sertifikasi lingkungan karena dinilai lebih efisien serta mendukung target pengurangan emisi karbon.
“Green building menjadi salah satu fokus kami. Banyak penyewa dari perusahaan internasional yang lebih memilih gedung perkantoran yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan telah tersertifikasi,” ujar Minarto.
Saat ini, dari total 3,2 juta meter persegi bangunan yang telah dikembangkan Pakuwon, sekitar 1,059 juta meter persegi atau 41 persen telah mengantongi sertifikasi EDGE dari International Finance Corporation dan Green Building Council Indonesia.
Bangunan yang telah tersertifikasi tersebut mencakup pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, dan hotel yang berada di Surabaya maupun Jakarta.
Pakuwon menargetkan porsi bangunan bersertifikasi hijau mencapai 50 persen pada tahun ini, meningkat menjadi 66 persen pada 2030, dan mencapai 80 persen pada 2033.
Minarto menambahkan, perseroan baru saja meraih sertifikat EDGE Champion dari IFC sebagai bentuk pengakuan atas komitmen perusahaan dalam menerapkan standar bangunan berkelanjutan.
Sertifikasi tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari efisiensi energi, konservasi air, pengelolaan limbah, peningkatan kualitas lingkungan bangunan, hingga pengurangan emisi karbon.(fix)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan