Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Perbanas Optimistis Perbankan Nasional Tetap Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

M Firman Syah • Kamis, 11 Juni 2026 | 14:32 WIB
Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi.
Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi.

JAKARTA – Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi berbagai tantangan, sektor perbankan Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat. Pertumbuhan kredit yang tetap positif, likuiditas yang terjaga, serta permodalan yang memadai menjadi fondasi penting bagi industri perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) yang juga Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan bahwa industri perbankan nasional hingga saat ini masih berada dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan peran strategisnya sebagai penggerak aktivitas ekonomi.

"Berdasarkan data OJK, hingga akhir April 2026 penyaluran kredit perbankan tumbuh 9,98% secara tahunan, sedangkan Dana Pihak Ketiga tumbuh 11,40%. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan tetap terjaga dan fungsi intermediasi berjalan dengan baik," ujar Hery.

Kinerja tersebut tercermin dari berbagai indikator utama industri. Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 86,88 persen. Sementara itu, rasio Gross Non Performing Loan (NPL) berada pada level 2,17 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan nasional masih memiliki ruang yang cukup untuk terus menyalurkan pembiayaan secara sehat dengan tetap menjaga kualitas aset.

Menurut Hery, capaian tersebut menjadi modal penting bagi sektor perbankan untuk terus berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, pembiayaan investasi, serta berbagai program pembangunan nasional yang menjadi prioritas pemerintah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap perlu dijaga di tengah tingginya ketidakpastian global. Berbagai faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara masih berpotensi memengaruhi aktivitas usaha dan sentimen pasar keuangan.

“Karena itu, pengelolaan risiko yang prudent, kecukupan likuiditas, serta kualitas pertumbuhan kredit harus terus menjadi perhatian utama agar ketahanan industri tetap terjaga,” jelas Hery.

Sebagai langkah penguatan ketahanan industri, perbankan perlu terus meningkatkan upaya mitigasi risiko secara berkelanjutan. Penguatan manajemen risiko menjadi salah satu fokus utama, termasuk melalui pelaksanaan stress test sektoral pada portofolio yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi, penguatan sistem peringatan dini (early warning system) terhadap potensi penurunan kualitas kredit, serta penerapan disiplin kredit yang lebih kuat sesuai profil risiko masing-masing debitur.

Selain itu, perbankan juga perlu memastikan kecukupan likuiditas guna mengantisipasi potensi volatilitas pasar maupun pergerakan dana masyarakat. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui penguatan berbagai indikator likuiditas, termasuk Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).

Pengelolaan risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing juga menjadi perhatian penting. Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan Posisi Devisa Neto (PDN) secara prudent, penguatan strategi lindung nilai (hedging), serta pengelolaan jatuh tempo aset dan kewajiban valuta asing secara hati-hati.

Menurut Hery, berbagai langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas sektor keuangan sekaligus memastikan dukungan pembiayaan terhadap dunia usaha dan sektor-sektor strategis tetap berjalan secara optimal.

Di sisi lain, Perbanas juga menyambut positif hasil Survei Perbankan Bank Indonesia yang menunjukkan adanya ekspektasi peningkatan permintaan kredit baru pada kuartal II 2026. Temuan tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik masih memiliki momentum pertumbuhan yang baik.

Ke depan, Perbanas meyakini sektor perbankan akan tetap menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Peran tersebut mencakup pembiayaan sektor produktif, penguatan UMKM, percepatan hilirisasi industri, hingga dukungan terhadap berbagai program prioritas pemerintah.

“Perbankan nasional berkomitmen untuk terus menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan. Dengan kondisi industri yang tetap kuat dan didukung pengelolaan risiko yang baik, kami optimistis perbankan dapat terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional,” tutup Hery. 

Editor : M Firman Syah
#BRI #BRImo #BRILian #BRILink #BRI Peduli