Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kuartal I 2026, Kinerja Industri Baja Nasional Tertekan Geopolitik dan Penguatan Dolar AS

Moh. Afik • Rabu, 10 Juni 2026 | 00:06 WIB
Siap Dipasarkan. Karyawan GDST memeriksa berbagai plat baja yang siap untuk dipasarkan baik di pasar domestik maupun ekspor. (M. Afiq Firdaus/Radar Surabaya)
Siap Dipasarkan. Karyawan GDST memeriksa berbagai plat baja yang siap untuk dipasarkan baik di pasar domestik maupun ekspor. (M. Afiq Firdaus/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA – Kinerja industri baja nasional pada kuartal I 2026 menghadapi tekanan akibat memanasnya situasi geopolitik global dan penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.

 Kondisi tersebut berdampak pada penurunan harga baja di pasar internasional maupun domestik, yang akhirnya menekan pendapatan dan laba perusahaan baja nasional.

Direktur PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), Hadi Sucipto, mengatakan bahwa ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar menjadi tantangan utama yang dihadapi industri baja sepanjang awal tahun ini.

“Pasar baja nasional maupun global masih mengalami tekanan. Selain faktor geopolitik, fluktuasi kurs dolar AS terhadap rupiah juga memengaruhi kondisi pasar di dalam negeri,” ujar Hadi dalam paparan publik perusahaan, Selasa (9/6).

Penjualan GDST Turun 26,6 Persen

Berdasarkan laporan keuangan hingga kuartal I 2026, GDST membukukan penjualan sebesar Rp469,4 miliar.

Baca Juga: Hasil FIFA Matchday: Gol Ole Romeny Bawa Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik 1-0 di GBK

Angka tersebut turun 26,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp639,7 miliar.

Penurunan penjualan turut berdampak pada laba bersih perusahaan. Jika pada kuartal I 2025 GDST mencatat laba bersih Rp39 miliar, maka pada periode yang sama tahun ini laba bersih hanya mencapai Rp13,3 miliar atau merosot 65,7 persen.

Menurut Hadi, penurunan laba bukan disebabkan oleh melemahnya permintaan pasar. Justru volume penjualan mengalami peningkatan, namun harga jual baja mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Volume penjualan sebenarnya naik. Namun, harga jual baja turun sehingga laba bersih ikut tertekan.

Harga baja memang sangat dipengaruhi pergerakan harga di pasar internasional,” jelasnya.

Harga Baja Global dan Domestik Menurun

Sepanjang 2026, harga baja menunjukkan tren penurunan. Di pasar ekspor, harga rata-rata baja turun dari Rp12,4 juta per ton pada 2025 menjadi Rp11,5 juta per ton pada 2026.

Sementara itu, di pasar domestik, harga baja juga mengalami koreksi dari Rp10,6 juta per ton menjadi Rp10,1 juta per ton.

Baca Juga: Surabaya Jadi Panggung Diplomasi Sains Dunia, 27 Negara Hadir di ITS

Penurunan harga tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menggerus margin keuntungan perusahaan baja nasional, meskipun permintaan pasar masih relatif stabil.

Target Penjualan Rp2,7 Triliun pada 2026

Meski menghadapi berbagai tantangan, GDST tetap optimistis mampu mencapai target penjualan sebesar Rp2,7 triliun hingga akhir 2026 dengan margin laba bersih sekitar 5 persen.

Untuk mendukung target tersebut, perusahaan terus meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi operasional.

Salah satunya melalui pengoperasian Plate Mill 2 sejak Oktober 2025 dengan kapasitas produksi mencapai 1.200 ton per hari.

Kapasitas tersebut melengkapi Plate Mill 1 yang mampu memproduksi 700 ton baja per hari. Penambahan kapasitas ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

Selain memperkuat pasar dalam negeri, GDST juga terus memperluas pasar ekspor ke Australia, Eropa, Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan.

“Kami tetap fokus pada pasar domestik, khususnya sektor galangan kapal di Batam karena memiliki volume permintaan besar dan arus kas yang baik,” kata Hadi.

Betonjaya Manunggal Juga Hadapi Tekanan

Tekanan industri baja juga dirasakan PT Betonjaya Manunggal Tbk, produsen besi beton konstruksi.

Direktur PT Betonjaya Manunggal Tbk, Andik Sutanto, mengungkapkan bahwa perusahaan mencatat penjualan Rp30,7 miliar pada kuartal I 2026, meningkat dibandingkan Rp26,2 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, laba bersih perusahaan turun dari Rp10 miliar menjadi Rp6,9 miliar akibat tekanan margin dan kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Meski demikian, Betonjaya tetap menargetkan penjualan sebesar Rp137,5 miliar sepanjang 2026 dengan laba bersih sekitar 3–5 persen dari total penjualan.

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan akan memperkuat hubungan dengan pelanggan potensial, memperluas pasar, serta meningkatkan pemasaran produk missroll yang kini banyak diminati setelah pembatasan impor besi tua.

“Kami juga menjalin kerja sama dengan berbagai pengembang perumahan untuk memperluas penggunaan besi beton dalam proyek pembangunan rumah,” ujar Andik.

Prospek Industri Baja Nasional 2026

Meskipun masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan volatilitas nilai tukar, pelaku industri baja nasional tetap optimistis terhadap prospek pasar pada paruh kedua 2026.

Peningkatan kapasitas produksi, penguatan pasar domestik, dan ekspansi ekspor menjadi strategi utama untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tekanan global.(fix) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) #gdst #industri baja #Betonjaya