Pelemahan Rupiah Dinilai Tekan Dunia Usaha, Daya Beli Masyarakat, hingga Produksi Industri Nasional
RADAR SURABAYA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp17.646 per dolar AS mulai menimbulkan tekanan serius bagi dunia usaha nasional.
Pelemahan rupiah tersebut dinilai berdampak langsung terhadap biaya produksi industri, daya beli masyarakat, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengatakan gejolak kurs rupiah saat ini memberikan dampak berlapis terhadap sektor usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
“Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak berlapis terhadap dunia usaha dan industri nasional.
Setidaknya ada tiga dampak utama yang kini mulai dirasakan pelaku usaha, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga melemahnya daya saing industri,” ujar Adik di Surabaya, Jumat (22/5).
Baca Juga: Dukung Pengembangan Amonia Rendah Karbon, PGN Garap Studi Ekosistem CCS dan Transportasi CO₂
Menurutnya, kenaikan biaya produksi menjadi dampak paling nyata akibat tingginya ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor berbasis dolar AS.
Komoditas seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik masih didominasi impor.
Ia menyebut ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur Indonesia saat ini masih berada di atas 70 persen.
Kondisi tersebut membuat sektor manufaktur, farmasi, otomotif, dan tekstil menjadi industri yang paling terdampak oleh pelemahan rupiah.
“Margin keuntungan pengusaha ikut tergerus karena biaya produksi meningkat, sementara harga jual produk tidak bisa langsung dinaikkan ke pasar,” katanya.
Pelemahan Rupiah Picu Efisiensi Produksi dan Ancaman PHK
Adik menilai pelemahan rupiah juga membuat daya saing produk nasional di pasar ekspor ikut melemah.
Produk dalam negeri menjadi lebih mahal dibandingkan produk dari negara lain sehingga kompetitivitas industri menurun.
Akibat kondisi tersebut, banyak pelaku usaha mulai melakukan langkah antisipasi dengan menahan stok bahan baku dan melakukan efisiensi produksi karena khawatir daya beli masyarakat terus melemah.
“Pendapatan masyarakat tetap, sementara harga barang naik. Ini jadi problem daya beli. Akhirnya, pengusaha membatasi impor bahan baku dan mengurangi produksi. Kalau lama-kelamaan begini, ancaman PHK akan terus mengintai,” ujarnya.
Sebagai strategi bertahan, sebagian pengusaha memilih mengurangi margin keuntungan dibandingkan langsung menaikkan harga produk kepada konsumen.
“Mungkin selain efisiensi, yang dilakukan pengusaha adalah mengurangi keuntungan. Jadi, tidak menaikkan harga dulu sementara, tetapi mengurangi keuntungan. Namun, itu juga tidak bisa terlalu lama,” katanya.
Produk Lokal Dinilai Lebih Kompetitif di Tengah Tekanan Dolar AS
Di tengah tekanan ekonomi global, Adik menilai produk lokal justru memiliki peluang lebih kompetitif dibandingkan barang impor, terutama sektor pertanian dan peternakan yang menggunakan bahan baku domestik.
Menurutnya, komoditas lokal seperti jeruk dan durian memiliki peluang besar untuk bersaing karena tidak terlalu bergantung pada impor maupun fluktuasi dolar AS.
“Produk-produk yang betul-betul lokal ini bisa lebih kompetitif dibandingkan produk impor sejenis.
Contohnya petani jeruk atau durian, mereka bisa lebih unggul dibandingkan produk impor langsung dari luar negeri,” ujarnya.
Ia menambahkan, Jawa Timur masih memiliki kekuatan besar pada sektor pertanian dan peternakan yang selama ini menjadi penopang ekonomi daerah.
“Produk pertanian dan peternakan Jawa Timur masih surplus. Itu salah satu kekuatan Jawa Timur,” katanya.
Kadin Jatim Dorong Infrastruktur dan Bantuan Sosial
Meski pertumbuhan ekonomi masih dinilai cukup baik, Adik memperkirakan kondisi tersebut dapat terkoreksi apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama.
“Sekarang memang pertumbuhan ekonomi masih bagus, tetapi kalau kondisi ini berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi pasti terkoreksi,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya mendorong pemerintah melakukan realokasi anggaran ke sektor yang mampu menyerap tenaga kerja lebih besar, seperti pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, proyek infrastruktur memiliki efek berganda terhadap perekonomian karena dapat menggerakkan sektor usaha sekaligus membuka lapangan kerja baru.
“Pemerintah harus berani merealokasi anggaran. Infrastruktur itu menyerap tenaga kerja dan memicu perputaran ekonomi,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga diminta memperkuat program bantuan sosial dan bantuan tunai untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
“Yang paling diperlukan sekarang bansos dan bantuan tunai. Jadi, daya beli masyarakat bisa naik lagi dan pengusaha juga terbantu,” ujarnya.
Meski situasi ekonomi global dinilai berat, Adik tetap optimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memastikan dunia usaha tetap bertahan.
“Kita sebagai pengusaha tidak boleh berpikir negatif atau pesimis. Kita percayakan kepada pemerintah, tetapi tetap harus memakai strategi-strategi untuk menjaga usaha tetap berjalan,” pungkasnya. (mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan