JAKARTA – Transformasi ekonomi digital Indonesia memasuki babak baru. PT GoTo melalui layanan Gojek menyatakan dukungan penuh terhadap arah kebijakan pemerintah terkait penyesuaian skema komisi transportasi online roda dua yang menempatkan 92 persen pendapatan perjalanan bagi mitra pengemudi dan 8 persen untuk aplikator.
Momentum pengumuman kebijakan tersebut dinilai memiliki makna strategis karena bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026. Di tengah upaya pemerintah memperkuat fondasi ekonomi domestik dan pemerataan kesejahteraan, kebijakan ini dipandang sebagai bentuk rebalancing ekonomi digital yang lebih inklusif dan berorientasi pada penguatan daya beli masyarakat.
Direktur Utama/CEO GoTo Hans Patuwo menegaskan, perusahaan melihat kebijakan tersebut bukan sekadar penyesuaian bisnis, melainkan bagian dari investasi sosial-ekonomi jangka panjang.
“Kebijakan ini merupakan cerminan nyata dari semangat Hari Kebangkitan Nasional di era digital. Seperti yang telah kami sampaikan dalam berbagai momentum sebelumnya, termasuk pada pengumuman program dukungan kesejahteraan Bakti GoTo untuk Negeri, serta peluncuran 7 Inisiatif Apresiasi Mitra terbaru, kesejahteraan mitra driver akan selalu menjadi prioritas utama bagi Perusahaan," ujar Hans.
Secara makroekonomi, kebijakan peningkatan porsi pendapatan mitra pengemudi diyakini dapat menciptakan multiplier effect terhadap konsumsi rumah tangga, terutama di sektor informal perkotaan yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional. Dengan meningkatnya pendapatan bersih mitra, potensi perputaran uang di tingkat lokal diperkirakan ikut tumbuh, mulai dari konsumsi harian, pendidikan keluarga, hingga peningkatan kapasitas ekonomi rumah tangga.
Gojek menilai keberlanjutan ekosistem digital tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan teknologi, tetapi juga oleh kualitas kesejahteraan para pelaku di dalamnya. Karena itu, perusahaan mengambil empat langkah strategis sebagai bentuk implementasi konkret terhadap arah kebijakan pemerintah.
Langkah pertama adalah penyesuaian skema bagi hasil layanan GoRide sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Meski berimplikasi terhadap penyesuaian struktur pendapatan perusahaan, kebijakan ini dipandang sebagai fondasi penting untuk menciptakan ekosistem transportasi online yang lebih sehat, adaptif, dan berkelanjutan.
Menariknya, perusahaan juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara peningkatan pendapatan mitra dan stabilitas tarif konsumen. Untuk layanan GoRide Reguler, perusahaan berupaya mempertahankan tarif agar tetap kompetitif sehingga volume permintaan tetap terjaga.
Strategi tersebut mencerminkan pendekatan ekonomi platform modern yang menempatkan keseimbangan supply-demand sebagai kunci keberlanjutan ekosistem.
Langkah kedua adalah penghentian Program Langganan GoRide Hemat bagi mitra pengemudi. Evaluasi perusahaan menunjukkan perlunya formulasi baru yang lebih proporsional terhadap kesejahteraan mitra. Ke depan, layanan GoRide Hemat akan mengikuti pola pembagian hasil yang sama dengan layanan reguler, disertai penyesuaian tarif yang disebut tetap moderat dan terukur.
Dari perspektif ekonomi digital, kebijakan tersebut memperlihatkan adanya pergeseran paradigma dari strategi ultra-efisiensi menuju model pertumbuhan berkelanjutan yang lebih memperhatikan keseimbangan sosial-ekonomi seluruh pemangku kepentingan.
Langkah ketiga adalah penguatan program kesejahteraan mitra pengemudi. Berbagai program seperti Bonus Hari Raya (BHR), BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, beasiswa pendidikan, umrah gratis, bursa kerja mitra, hingga cek kesehatan gratis tetap dilanjutkan sebagai bagian dari penguatan perlindungan sosial berbasis platform digital.
Kebijakan tersebut dinilai sejalan dengan agenda pembangunan nasional dalam kerangka Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045, khususnya pada aspek penciptaan lapangan kerja berkualitas dan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis teknologi.
Sementara itu, langkah keempat menegaskan optimisme perusahaan terhadap daya tahan ekosistem bisnis GoTo secara keseluruhan. Diversifikasi usaha di sektor teknologi finansial, logistik, dan layanan digital lainnya diyakini menjadi penopang utama keberlanjutan perusahaan di tengah perubahan struktur pendapatan layanan transportasi online.
Perusahaan menilai kekuatan ekosistem digital terintegrasi memungkinkan terciptanya efisiensi lintas sektor sekaligus membuka ruang inovasi baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis teknologi.
Di tengah dinamika industri digital yang semakin kompetitif, langkah Gojek mendukung kebijakan pemerintah dipandang sebagai sinyal positif bahwa transformasi ekonomi digital Indonesia mulai bergerak menuju fase yang lebih matang, tidak hanya mengejar pertumbuhan valuasi, tetapi juga memperkuat dimensi pemerataan kesejahteraan.
“Sebagai perusahaan yang lahir dan berkembang di Indonesia, Gojek senantiasa berkomitmen untuk dapat terus maju - demi mitra pengemudi yang lebih sejahtera, pelanggan yang terlayani lebih baik, dan Indonesia yang kita cintai bersama,” tutup Hans.
Editor : M Firman Syah