Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Redam Tekanan Dolar AS, Ini Strategi Pemerintah 

Nurista Purnamasari • Rabu, 20 Mei 2026 | 05:55 WIB
Ilustrasi. (Radar Surabaya)
Ilustrasi. (Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan mengganggu stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Pemerintah bahkan melakukan intervensi besar-besaran di pasar obligasi dengan menggelontorkan dana Rp 2 triliun per hari untuk menjaga stabilitas yield dan menarik kembali minat investor asing.

Dalam konferensi pers APBN KiTA, Purbaya menjelaskan pelemahan rupiah sejak Januari hingga April 2026 dipicu oleh capital outflow di pasar obligasi. 

Baca Juga: Petani Garam Desak Penetapan HPP untuk Lindungi Harga di Tingkat Produksi

“Kalau cuma Rp 21 triliun mah gampang jaganya, saya punya uang cukup. Target pertama itu, mengembalikan yield ke level sebelumnya,” ujarnya, Selasa (19/5).

Dana intervensi berasal dari pengelolaan kas pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang kini mencapai Rp 434 triliun. “SAL kita naik, jadi napas saya panjang,” kata Purbaya. 

Ia menegaskan intervensi tidak hanya bersumber dari SAL, melainkan dari berbagai instrumen keuangan yang dikelola Kemenkeu.

Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp17.700, DPR Minta Masyarakat Tak Panik Hadapi Pelemahan Rupiah

Purbaya juga menyebut pemerintah memiliki cadangan dukungan dari badan usaha di bawah Kemenkeu seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Indonesia Investment Authority (INA). 

“Kalau saya mampu sendirian saya kerjaan sendiri. Jadi belum memanggil yang lain-lain,” tegasnya.

Dampak Rupiah terhadap APBN

Meski rupiah sempat melemah hingga Rp 17.700 per dolar AS, Purbaya memastikan APBN tetap aman. “Nggak, nggak ada, sudah kita hitung semua,” ujarnya.

Baca Juga: Di Depan Mahasiswa Unesa, Yusril Akui Hukum Kalah Cepat dari Ekonomi Digital

Menurutnya, dampak pelemahan rupiah relatif kecil dibandingkan kenaikan harga minyak dunia.

Sebagai perbandingan, setiap kenaikan harga minyak USD 1 menambah defisit APBN Rp 6,8 triliun. “Kalau rupiah lebih kecil, amat kecil. Saya lupa angkanya,” kata Purbaya.

Per 30 April 2026, defisit APBN tercatat Rp 164,4 triliun atau 0,64% terhadap PDB, membaik dari Maret 2026 yang mencapai Rp 240,1 triliun (0,93% PDB). 

Surplus keseimbangan primer sebesar Rp 28 triliun menjadi faktor utama perbaikan defisit. 

Baca Juga: Jelang Akhir Keberangkatan 8 Jemaah Embarkasi Surabaya Hamil, 76 Persen Risti dan 12 Wafat di Tanah Suci

“Keadaan membaik, keseimbangan primer sudah surplus lagi Rp 28 triliun dan ke depan mungkin akan terus membaik,” jelasnya. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#dolar as #pelemahan rupiah #pasar obligasi #menteri keuangan #nilai tukar rupiah