RADAR SURABAYA - Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan pelemahan tajam dan menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan hari ini. Mata uang Indonesia bahkan menjadi yang paling tertekan di kawasan Asia berkembang, di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah serangan drone menghantam aset di Uni Emirat Arab (UEA). Arab Saudi juga dilaporkan mencegat drone yang memasuki wilayah udaranya, sementara Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Resmi! 155 Pengurus Kadin Surabaya Dilantik di Taman Surya
Situasi tersebut membuat investor global berbondong-bondong mencari aset aman, termasuk dolar AS. Dampaknya, mata uang negara berkembang, terutama negara pengimpor minyak seperti Indonesia, ikut terpukul.
Rupiah tercatat melemah 1,19 persen ke level Rp17.668 per dolar AS. Pelemahan itu menjadi yang terbesar sejak awal September dan sekaligus mencetak rekor terendah baru untuk kedua kalinya dalam sepekan terakhir.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya disebabkan kenaikan harga minyak dunia. Pelaku pasar juga mulai mencemaskan kondisi fiskal Indonesia, derasnya arus keluar modal asing, independensi bank sentral, hingga tata kelola pasar saham setelah sejumlah emiten dikeluarkan dari indeks MSCI.
Baca Juga: Lawan Penipuan Digital, Pemerintah Wacanakan Akun Medsos Wajib Nomor Telepon
Di pasar saham, indeks Jakarta anjlok lebih dari empat persen ke level 6.425,95. Penurunan itu menjadi pelemahan lima hari berturut-turut dan membawa IHSG ke posisi terendah sejak April 2025.
Secara keseluruhan, indeks saham acuan Indonesia telah kehilangan lebih dari 25 persen nilainya sepanjang tahun ini.
Bank Indonesia (BI) sendiri terus melakukan intervensi guna menahan pelemahan rupiah. Langkah yang ditempuh antara lain melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), pasar offshore, hingga pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Selain itu, BI juga menegaskan siap menggunakan berbagai instrumen kebijakan moneter demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Kini perhatian pasar tertuju pada rapat kebijakan Bank Indonesia pekan ini. Suku bunga acuan BI masih berada di level 4,75 persen setelah tujuh kali berturut-turut dipertahankan.
Namun, Citigroup memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga demi memulihkan kepercayaan terhadap rupiah, meski di sisi lain langkah itu bisa menekan pertumbuhan ekonomi domestik.
Tidak hanya rupiah, mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan. Rupee India menyentuh level terendah sepanjang sejarah di angka 96,185 per dolar AS atau melemah 0,2 persen.
Sejak konflik Iran memicu kenaikan harga minyak pada akhir Februari lalu, rupee telah terdepresiasi sekitar 5,5 persen dan menjadi salah satu mata uang Asia dengan performa terburuk sepanjang 2026. (*)
Editor : Lambertus Hurek