RADAR SURABAYA – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong pemanfaatan compressed natural gas (CNG) serta percepatan pengembangan mini-liquefied natural gas (LNG) sebagai alternatif energi rumah tangga.
Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan impor liquefied petroleum gas (LPG).
Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, menyatakan bahwa diversifikasi energi menjadi kunci dalam mengurangi beban subsidi dan meningkatkan efisiensi distribusi energi di Indonesia.
“Tidak hanya LPG, masyarakat perlu memiliki alternatif lain seperti CNG dan LNG. Ini akan meningkatkan efektivitas penyaluran energi sekaligus mendukung transisi ke energi yang lebih bersih dan efisien,” ujar Fathul dalam forum 11th LNG Supply, Transport, & Storage Forum 2026 di Bali.
Baca Juga: Misi Sapu Bersih! Timnas Indonesia Incar Lonjakan Ranking FIFA
Ketergantungan Impor LPG Masih Tinggi
Saat ini, kebutuhan energi rumah tangga di Indonesia masih didominasi LPG bersubsidi. Kondisi ini berdampak pada tingginya beban fiskal negara.
Data menunjukkan, impor LPG Indonesia telah mencapai sekitar 81 persen dari total kebutuhan nasional.
Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah dalam mendorong penggunaan energi alternatif berbasis gas bumi.
CNG dan LNG Jadi Solusi Energi Masa Depan
Pengembangan CNG dan mini LNG dinilai sejalan dengan visi swasembada energi yang diusung Presiden Prabowo Subianto melalui program Asta Cita.
Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa CNG memiliki fungsi serupa dengan LPG meski berasal dari jenis gas yang berbeda.
Saat ini, pemanfaatan CNG sudah mulai diterapkan di sektor komersial seperti hotel dan restoran, dan berpotensi diperluas ke sektor rumah tangga.
Target 350 Ribu Sambungan Jargas hingga 2029
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas bumi (jargas) untuk rumah tangga mencapai 350 ribu sambungan rumah (SR).
Untuk mencapai target tersebut, BPH Migas menilai perlu adanya percepatan regulasi serta dukungan investasi, termasuk melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
Strategi Perluasan Jaringan Gas
BPH Migas juga menyiapkan sejumlah strategi untuk memperluas jangkauan distribusi gas bumi, antara lain:
Konversi stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) menjadi stasiun induk (mother station)
Pemanfaatan mini LNG untuk distribusi gas nonpipa
Penguatan infrastruktur energi di wilayah Indonesia timur
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pemerataan akses energi, terutama di daerah dengan tantangan geografis.
“Dengan optimalisasi infrastruktur dan pemanfaatan gas alam, potensi energi nasional dapat dimaksimalkan untuk mewujudkan kemandirian energi,” kata Fathul.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan