Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ekonomi Jawa Timur Tumbuh 5,96 Persen pada Triwulan I 2026, Tertinggi di Pulau Jawa

Mus Purmadani • Kamis, 7 Mei 2026 | 22:55 WIB
Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

RADAR SURABAYA – Perekonomian Jawa Timur kembali mencatat kinerja impresif di tengah tekanan ekonomi global. 

Pada Triwulan I 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara year on year (y-on-y), sekaligus menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui rata-rata nasional.

Capaian tersebut mempertegas posisi Jawa Timur sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi bukti kuatnya fondasi ekonomi daerah serta keberhasilan menjaga aktivitas ekonomi masyarakat tetap produktif.

Baca Juga: ITS Pasang Target Jadi Global Impact University 2030, Inovasi Mahasiswa Jadi Senjata Utama

“Alhamdulillah, di tengah tantangan global yang masih dinamis, ekonomi Jawa Timur mampu tumbuh tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui nasional.

 Ini patut kita syukuri sekaligus menjadi motivasi untuk terus memperkuat fondasi ekonomi daerah,” ujar Khofifah di Surabaya, Kamis (7/5).

Industri Pengolahan dan Perdagangan Jadi Penopang Ekonomi Jatim

Selain tumbuh secara tahunan, ekonomi Jawa Timur juga meningkat sebesar 1,25 persen secara quarter to quarter (q-to-q) dibandingkan Triwulan IV 2025.

Khofifah menjelaskan, ketahanan ekonomi Jawa Timur ditopang sejumlah sektor strategis yang terus bergerak konsisten, terutama industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian.

Hingga Triwulan I 2026, struktur ekonomi Jawa Timur masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 31,45 persen.

Disusul sektor perdagangan sebesar 18,77 persen dan sektor pertanian sebesar 10,51 persen.

“Ini menunjukkan struktur ekonomi Jawa Timur tetap kuat dan produktif karena ditopang sektor-sektor strategis yang bergerak secara konsisten,” katanya.

Baca Juga: Jemaah Haji Asal Jombang Mengamuk dan Hendak Kabur dari Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Ini Penyebabnya

Secara regional, Jawa Timur juga menjadi kontributor ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa setelah DKI Jakarta dengan kontribusi sebesar 25,16 persen.

Sementara terhadap ekonomi nasional, kontribusi Jawa Timur mencapai 14,40 persen atau terbesar kedua secara nasional.

Sektor Pariwisata dan Program MBG Dorong Pertumbuhan

Berdasarkan lapangan usaha, sektor jasa lainnya menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada Triwulan I 2026, yakni mencapai 13,44 persen.

Pertumbuhan ini dipicu meningkatnya aktivitas rekreasi dan pariwisata selama Januari hingga Maret 2026.

Selain itu, sektor akomodasi dan makan minum juga mengalami peningkatan signifikan.

Salah satu faktor pendorongnya adalah implementasi Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di berbagai daerah.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,33 persen.

Kenaikan tersebut dipengaruhi realisasi pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) ASN 2026 serta peningkatan belanja barang dan jasa untuk masyarakat, termasuk program MBG.

Pemprov Jatim Perkuat Inflasi dan Perdagangan Antardaerah

Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui berbagai strategi, mulai dari pengendalian inflasi, menjaga daya beli masyarakat, hingga memperkuat perdagangan antardaerah.

“Pengendalian inflasi terus kami lakukan melalui pasar murah dan stabilisasi pasokan pangan agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujar Khofifah.

Baca Juga: Dorong UMKM Berkembang, BRI RO Surabaya Salurkan KUR Rp 3,8 T hingga April 2026

Di sisi lain, Jawa Timur juga agresif memperluas pasar melalui program Misi Dagang dan Investasi.

Sepanjang 2025, Pemprov Jatim telah melaksanakan misi dagang di 12 provinsi dengan total transaksi mencapai Rp16,30 triliun.

Sementara pada 2026, Misi Dagang di Jawa Tengah mencatat transaksi Rp3,15 triliun dan di DKI Jakarta mencapai Rp5,74 triliun.

Bahkan, misi dagang ke Malaysia menghasilkan potensi transaksi sebesar Rp15,25 triliun.

“Misi dagang menjadi instrumen penting dalam memperkuat perdagangan antardaerah sekaligus memperluas pasar produk Jawa Timur,” terang Khofifah.

Ia menegaskan, capaian pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas dan kondusivitas daerah.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang terus bersinergi dan berkolaborasi menjaga Jawa Timur tetap aman, kondusif, dan produktif sebagai Gerbang Baru Nusantara,” pungkasnya. (mus) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Gubernur Khofifah Indar Parawansa #Jawa Timur #pertumbuhan ekonomi