RADAR SURABAYA - Raksasa teknologi Meta menghadapi rapor campuran dalam laporan keuangan kuartal terbarunya. Perusahaan yang menaungi Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger ini kehilangan 20 juta pengguna harian gabungan.
Namun, di sisi lain, Meta justru mencatat lonjakan pendapatan tertinggi sejak 2021. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah strategi investasi besar-besaran di kecerdasan buatan mampu menutup kerugian di divisi lain?.
Dalam earning call pada Rabu (30/4/) waktu setempat, Meta mengungkap penurunan metrik Family Daily Active People.
Angka pengguna harian gabungan turun 20 juta dibandingkan kuartal sebelumnya. Meta berdalih penurunan ini dipicu pembatasan internet di Iran dan pembatasan akses WhatsApp di Rusia.
Namun, keputusan Meta menggabungkan seluruh statistik pengguna dalam satu metrik dinilai publik sebagai upaya mengaburkan fakta mengenai platform mana yang paling banyak ditinggalkan.
Di tengah penurunan pengguna, Meta justru merevisi proyeksi belanja modal tahun 2026 menjadi USD 125–145 miliar, naik USD 10 miliar dari perkiraan sebelumnya.
Baca Juga: Meta Rugi Rp 1.100 Triliun, Mark Zuckerberg Alihkan Fokus dari Metaverse ke AI
Dana ini akan digunakan untuk membangun kapasitas pusat data dan mendukung investasi di sektor kecerdasan buatan.
Chief Financial Officer Meta, Susan Li, mengakui langkah ini sebagai koreksi arah. “Selama ini kami meremehkan jumlah permintaan komputasi. Kini kami harus menyesuaikan dengan kebutuhan yang semakin besar,” ujarnya.
Meski kehilangan pengguna, Meta mencatat pendapatan kuartalan sebesar USD 56,3 miliar, naik 33 persen dari USD 42,3 miliar tahun lalu. Pertumbuhan ini menjadi yang tercepat sejak 2021.
Baca Juga: Pelaku Pembunuhan di Wonokusumo Surabaya Ditangkap, Sempat Lari ke Sampang
Sayangnya, divisi Reality Labs yang fokus pada perangkat wearable dan Virtual Reality (VR) kembali merugi hingga USD 4,03 miliar.
Kerugian ini memperburuk kondisi setelah dua gelombang PHK yang melanda divisi tersebut sejak Januari 2026.
Rilis laporan keuangan yang campur aduk ini membuat harga saham Meta anjlok lebih dari 7 persen.
Investor menilai meski pendapatan meningkat, kerugian di divisi VR dan penurunan pengguna menjadi sinyal risiko jangka panjang. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari