RADAR SURABAYA - Di tengah arus kepemimpinan yang sering diukur dari kecepatan mengambil keputusan, Sa’diah, S.Pd.I., M.Pd.I., justru memilih jeda menulis, merumuskan, lalu memastikan setiap langkah memiliki pijakan yang jelas. Bagi perempuan yang kini memimpin dua perusahaan di sektor berbeda ini, kepemimpinan bukan sekadar instruksi, melainkan proses berpikir yang dituliskan, diuji, dan diwujudkan menjadi sistem yang terarah.
Bagi banyak orang, menulis adalah aktivitas reflektif. Namun bagi Sa’diah, menulis adalah alat strategis. Dari kebiasaan itulah, ia merancang arah perusahaan, menyusun kebijakan, hingga memastikan setiap keputusan memiliki dasar yang terukur.
Sebagai Owner Syafa Grup sekaligus Direktur Utama PT Indie Syafa Transforma dan PT Eco Syafa Harvest, Sa’diah memimpin dua entitas bisnis dengan karakter berbeda, properti dan pengolahan serta distribusi beras. Kompleksitas ini justru menuntut satu hal yang sama, sistem yang kuat.
“Perusahaan itu tidak bisa berjalan hanya dengan intuisi. Harus ada sistem yang jelas, dan sistem itu lahir dari proses berpikir yang dituliskan,” jelasnya.
Baca Juga: PT Indie Syafa Transforma Resmi Pasarkan Tiga Proyek Perumahan Strategis di Probolinggo
Di sinilah peran menulis menjadi krusial. Ia tidak hanya memimpin dengan pengalaman, tetapi dengan kerangka berpikir yang terdokumentasi. Ide-ide tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diturunkan menjadi panduan kerja yang konkret.
Latar belakang pendidikan Sa’diah di bidang ilmu pendidikan membentuk cara pandangnya dalam memimpin. Dunia akademik yang sarat dengan riset, analisis, dan penyusunan konsep menjadi fondasi yang terus ia bawa ke dunia bisnis.
Transisi dari akademisi menjadi pemimpin perusahaan bukanlah lompatan yang sederhana. Namun bagi Sa’diah, ilmu pendidikan justru menjadi bekal penting untuk membangun organisasi yang terstruktur.
“Di dunia pendidikan, kita dilatih untuk berpikir sistematis. Itu yang saya bawa ke bisnis bahwa setiap keputusan harus punya dasar, bukan sekadar feeling,” ungkapnya.
Ia memahami bahwa sebuah sistem tidak bisa berdiri hanya dari intuisi. Dibutuhkan proses berpikir yang runtut mulai dari identifikasi masalah, perumusan solusi, hingga evaluasi berkelanjutan.
Baca Juga: Indie Syafa Transforma Matangkan Pembangunan, Gaspol Realisasikan Proyek Blue Syafa di Probolinggo
Hobi menulis yang ia tekuni sejak lama bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari identitasnya. Tujuh buku yang telah diterbitkan menjadi bukti konsistensi sekaligus cerminan cara berpikirnya.
Dalam setiap tulisan, Sa’diah terbiasa menyusun gagasan secara sistematis. Pola ini pula yang ia terapkan dalam memimpin perusahaan. Baginya, menulis adalah cara untuk “merapikan pikiran”, sebelum kemudian diterjemahkan menjadi kebijakan nyata.
Baca Juga: PT Indie Syafa Transforma Ekspansi ke Batang dan Pekalongan Perkuat Fondasi Properti di Jateng
“Kalau pikiran tidak ditulis, sering kali hanya jadi ide yang hilang. Tapi kalau ditulis, dia bisa jadi sistem, bisa jadi arah,” katanya.
Kebiasaan ini menciptakan keunggulan tersendiri. Di saat banyak keputusan bisnis diambil secara reaktif, Sa’diah justru membangun keputusan yang berbasis analisis dan perencanaan matang.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Mengelola
Salah satu tantangan terbesar dalam memimpin perusahaan adalah memastikan keberlanjutan. Sa’diah menyadari bahwa perusahaan tidak bisa bergantung pada individu semata, melainkan harus bertumpu pada sistem.
Melalui pendekatan literasi, menulis, mendokumentasikan, dan merumuskan, ia membangun fondasi organisasi yang lebih kokoh. Setiap kebijakan tidak hanya dipahami, tetapi juga tertulis, terukur, dan dapat dievaluasi.
Baca Juga: PT Indie Syafa Transforma Pasang Umbul-Umbul, Tanda Dimulainya Proyek Blue Syafa di Probolinggo
“Saya percaya, pemimpin itu bukan hanya yang bisa mengarahkan, tapi yang bisa meninggalkan sistem yang tetap berjalan meski dia tidak ada,” tegasnya.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaannya tetap adaptif di tengah dinamika industri yang berbeda. Baik di sektor properti maupun pangan, prinsip yang ia gunakan tetap sama, sistem harus lahir dari pemikiran yang jelas.
Baca Juga: PT Indie Syafa Transforma Siapkan Rekrutmen untuk Posisi Manajerial hingga Operasional
Perjalanan Sa’diah mencerminkan wajah baru Kartini masa kini, perempuan yang tidak hanya bergerak, tetapi juga berpikir secara mendalam. Ia tidak menunggu kesiapan, melainkan menciptakan perubahan melalui keberanian mengambil langkah pertama.
Transformasi kariernya, dari akademisi menjadi penulis dan pemimpin perusahaan, membuktikan bahwa batas-batas konvensional dapat ditembus.
“Perubahan itu tidak menunggu kita siap. Perubahan itu terjadi ketika kita berani memulai,” ujarnya.
Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa kekuatan perempuan tidak hanya terletak pada peran yang dijalani, tetapi pada cara berpikir yang dibangun.
Bagi Sa’diah, kepemimpinan bukan sekadar soal posisi, melainkan proses intelektual yang berkelanjutan. Menulis menjadi jembatan antara gagasan dan realitas antara pikiran dan kebijakan.
Di situlah letak kekuatannya. Ia tidak hanya memimpin perusahaan, tetapi juga membangun sistem yang lahir dari pemikiran yang ditulis dengan kesadaran penuh.
Baca Juga: PT Indie Syafa Transforma Bangun Sinergi Sosial lewat Sosialisasi
“Menulis membuat saya lebih jernih dalam berpikir, dan dari kejernihan itu lahir keputusan yang lebih tepat,” pungkasnya. (ind/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya