RADAR SURABAYA – Lonjakan harga plastik sejak awal April 2026 mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Timur. Kenaikan harga bahkan mencapai 40-100 persen dipicu gangguan rantai pasok global bahan baku plastik (nafta) akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Nuryanto, pedagang roti bakar dan roti tawar di Surabaya, menyebut harga plastik untuk bungkus roti tawar melonjak dari Rp 32.000 menjadi Rp 47.000 per kilogram. Sementara plastik kresek naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 9.000 per bendel.
Baca Juga: Kena OTT, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Ditangkap KPK
“Tapi saya belum ada pikiran untuk menaikkan harga roti. Yang terpenting saya menjaga pelanggan saya dulu,” ujarnya.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri (PPLN) Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian, menjelaskan bahwa kenaikan harga dipicu oleh lonjakan bahan baku utama plastik, yakni biji plastik yang kini mencapai sekitar Rp 30.000 per kilogram atau naik hingga 50 persen.
“Kenaikan ini tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah Brent sebagai bahan dasar. Dari sebelumnya sekitar USD 67 per barel, kini sudah di atas USD 98, bahkan sempat menyentuh USD 115,” jelasnya, Jumat (10/4).
Baca Juga: Dramatis! Indonesia Tumbangkan Vietnam, Lolos ke Final AFF Futsal 2026
Selain itu, bahan plastik jenis polipropilena (PP) juga mengalami kenaikan sekitar 24 persen. Dampaknya, harga plastik di tingkat pedagang di Surabaya melonjak antara 30 hingga 70 persen, tergantung jenis dan bahan baku.
Lucky menambahkan, sejumlah jenis plastik bahkan mulai langka di pasaran, terutama jenis PP, HD, dan PE, termasuk gelas cup, lid, tas kresek, hingga plastik kemasan berbagai ukuran. (mus)
Editor : Lambertus Hurek