RADAR SURABAYA - Program Bus Pedagang Subuh kini disiapkan untuk mendorong ekonomi rakyat, khususnya pedagang kecil yang bergantung pada aktivitas pasar dini hari. Gagasan itu muncul dalam dokumen Trans Jatim Naik Kelas 2025–2029.
Fokusnya bukan hanya soal teknis seperti jumlah armada atau ketepatan waktu, tetapi bagaimana transportasi publik bisa memberi dampak ekonomi langsung bagi warga.
Baca Juga: Angka Kecelakaan Kereta Api Meningkat, KAI Beri Edukasi Keselamatan kepada Siswa di Surabaya
Pengamat kebijakan publik dari Pusat Kajian Strategis Global Pro-Eksistensi, Linawati Louise, mengatakan, pendekatan ini menjadi langkah penting dalam melihat transportasi sebagai instrumen ekonomi.
“Transportasi publik tidak cukup hanya efisien, tapi juga harus memberi nilai ekonomi nyata bagi masyarakat kecil,” ujarnya.
Selama ini, ukuran keberhasilan transportasi sering berhenti pada angka. Namun, bagi pedagang kecil, yang lebih penting adalah bisa sampai ke pasar lebih cepat, ongkos terjangkau, dan perjalanan pasti.
Data 2024 menunjukkan Trans Jatim telah melayani sekitar 4,7 juta perjalanan dengan tarif Rp 5.000 per sekali jalan. Angka itu dinilai cukup kuat sebagai dasar pengembangan layanan yang lebih berdampak.
Baca Juga: Bangunan Lapangan Padel di Bogor Hancur Karena Ledakan, Ini Dugaan Penyebabnya
Melalui Bus Pedagang Subuh, Pemprov Jatim ingin memfasilitasi mobilitas pedagang sejak dini hari. Layanan dirancang beroperasi pukul 03.30–06.30 dengan target tiba di pasar utama paling lambat pukul 05.00. Pilot project akan diuji di koridor K1 dan K5.
Lina menilai, desain program ini sudah menyentuh kebutuhan riil pedagang. “Yang dibutuhkan pedagang itu sederhana: kepastian waktu, biaya, dan muatan. Kalau tiga itu terpenuhi, ekonomi mereka bisa bergerak,” katanya.
Konsepnya tidak sekadar mengangkut penumpang. Bus juga disiapkan untuk membawa barang dagangan dengan sistem yang lebih rapi. Mulai dari rak lipat, pelapis anti-basah, hingga pengaturan kapasitas muatan.
Salah satu contoh datang dari pedagang asal Trawas. Dia berangkat pukul 04.30 membawa empon-empon, alpukat, dan singkong ke Pasar Mojosari, lalu melanjutkan distribusi ke Porong dan Larangan. Ongkos antar pasar hanya Rp 5.000, jauh lebih murah dibanding angkutan lama.
Baca Juga: TPS Steril dari Gerobak, Begini Cara Pemkot Surabaya Ubah Sistem Angkut Sampah
Program ini diyakini memberi efek berlapis. Biaya logistik mikro turun, pendapatan pedagang lebih stabil, pasokan pasar lebih tertib, hingga muncul peluang usaha baru di sekitar halte dan terminal.
Namun, tantangan tetap ada. Waktu tunggu yang masih lama dan kapasitas bus yang terbatas harus dibenahi. Karena itu, disiplin operasional seperti jadwal tetap dan pengawasan berbasis data menjadi kunci.
“Kontribusi kebijakan seperti ini mungkin tidak langsung besar ke PAD, tapi dampaknya stabil dan menguatkan ekonomi lokal,” ujar Lina. (*)
Editor : Lambertus Hurek