Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

BI Jatim Wanti-Wanti Dampak Perang Timur Tengah, Ada Risiko, Tapi Ekonomi Bisa Beradaptasi

Mus Purmadani • Rabu, 1 April 2026 | 19:47 WIB
Konflik di Timur Tengah berpotensi menimbulkan risiko ekonomi global yang perlu diwaspadai, termasuk pada ekonomi Jawa Timur. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
Konflik di Timur Tengah berpotensi menimbulkan risiko ekonomi global yang perlu diwaspadai, termasuk pada ekonomi Jawa Timur. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Ibrahim, mengingatkan adanya potensi risiko ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah. 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dunia, termasuk Indonesia, memiliki kemampuan adaptasi yang kuat untuk meredam dampaknya.

Ibrahim menjelaskan bahwa dalam analisis ekonomi dikenal tiga skenario risiko, yakni baseline scenario, potential risk, hingga tail risk yang memiliki dampak paling ekstrem meski probabilitasnya kecil.

Baca Juga: Kesepakatan Prabowo dan Lee Jae Mung, Perluas Kemitraan Indonesia dan Korea Selatan

“Tail risk kemungkinan terjadinya sangat kecil, tetapi ketika itu terjadi, maka impact-nya akan sangat signifikan. Tetapi kita tidak bisa mengabaikan potensi tersebut,” ujarnya, Rabu (1/4).

Ia mengilustrasikan konsep tersebut dengan analogi perjalanan. Dalam kondisi normal (baseline), perjalanan bisa ditempuh sesuai estimasi. Namun jika ada gangguan seperti cuaca buruk, waktu tempuh bisa meleset.

Sementara tail risk diibaratkan sebagai kejadian tak terduga seperti kendaraan mogok yang berdampak besar meski jarang terjadi.

Baca Juga: Mahasiswa di Surabaya Belajar Main Golf untuk Bangun Relasi Bisnis 

Menurut Ibrahim, dampak konflik geopolitik tidak selalu terasa langsung, tetapi justru lebih besar melalui jalur tidak langsung seperti perdagangan, komoditas, dan sektor finansial.

“Dampak langsung mungkin kecil, tetapi impact tidak langsung yang perlu kita kalkulasi, terutama melalui jalur perdagangan, komoditas, dan finansial,” tegasnya.

Ia juga menyinggung fenomena fragmentasi perdagangan global, di mana negara-negara cenderung mengamankan pasokan dalam negeri dengan membatasi ekspor.

Baca Juga: Bioskop Star di Kompleks THR Surabaya Dulu Selalu Dipadati Penonton, Apalagi Film Rhoma Irama 

“Fragmentasi itu ketika negara-negara mengamankan pasokannya masing-masing. Ini yang perlu kita pahami karena bisa memengaruhi rantai pasok global,” jelasnya.

Meski demikian, Ibrahim menilai Indonesia memiliki peluang untuk tetap bertahan. Salah satunya karena struktur impor yang sudah terdiversifikasi, sehingga tidak bergantung pada satu sumber negara.

“Harga mungkin meningkat, tetapi pasokan relatif aman. Yang berbahaya itu kalau harga naik tapi barang kosong,” katanya.

Selain itu, ia menekankan bahwa kekuatan konsumsi domestik menjadi bantalan penting bagi ekonomi nasional dan Jawa Timur.

Baca Juga: Pemugaran Gedung Grahadi Surabaya Habiskan Anggaran Rp 12,76 Miliar, Gunakan Kapur dari Jerman

“Kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 60 persen menjadi buffer ketika ada tekanan eksternal,” ujarnya.

Ibrahim juga mengungkapkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi global, termasuk minyak dan gas.

Dampaknya bisa merembet ke sektor turunan seperti pupuk, plastik, dan industri kimia.

Baca Juga: Viral! Habis Keroyok Teman, Remaja di Luwu Utara Malah Bikin Konten Joget di Kantor Polisi Saat Diperiksa

“Sekitar 70 persen bahan baku ammonia berasal dari gas. Jadi wajar jika ada potensi gangguan pada produk turunannya seperti pupuk dan plastik,” jelasnya.

Namun, ia kembali menekankan pentingnya keseimbangan antara kewaspadaan dan optimisme dalam menghadapi situasi global saat ini.

“Kita harus balance, jangan terlalu pesimis. Ada risiko, tetapi kita juga punya optimisme yang harus dikelola dengan baik,” jelasnya.

Baca Juga: Bukti Nyata Kualitas SDM Terus Meningkat, Jatim Terbanyak Lolos SNBP 7 Tahun Berturut-turut

Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia bersama otoritas terkait telah menyiapkan berbagai langkah kebijakan, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat sistem keuangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui dukungan pembiayaan dan inovasi.

“Yang paling penting adalah sinergi dan koordinasi. Dengan itu, kita bisa menjaga stabilitas dan memastikan ekonomi tetap tumbuh,” pungkas Ibrahim. (mus)

Editor : Nurista Purnamasari
#perang timur tengah #ekonomi #Jawa Timur #ekonomi global #bank indonesia